Pertemuan
Kedelapan
Belajar atau menuntut ilmu merupakan hal yang
sangat penting untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Tanpa
ilmu, manusia tidak dapat melakukan segala hal. Untuk mencari nafkah perlu
ilmu, beribadah perlu ilmu, bahkan makan dan minumpun perlu ilmu. Dengan
demikian belajar merupkan sebuah kemestian yang tidak dapat ditolak apalagi
terkait dengan kewajiban seorang sebagai hamba Allah swt. Jika seorang tidak
mengetahui kewajibannya sebagai hamba bagaimana bisa dia dapat memperoleh
keselamatan di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menginginkan
kebahagian dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagian
akhirat, tuntulah ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah
ilmu pengetahuan”.
Belajar itu hukumnya wajib (fardlu)
bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Namun
demikian, menurut al-zarnuji manusia tidak diwajibkan mempelajari segala macam
ilmu, tetapi hanya diwajibkan mempelajari ilm
al-hal (pengetahuanpengetahuan yang selalu diperlukan dalam
menjunjung kehidupan agamanya). Dan sebaik-baik amal adalah menjaga hal-hal.
Di samping itu, manusia juga diwajibkan mempelajari ilmu yang
diperlukan setiap saat. Karena manusia diwajibkan shalat, puasa dan haji, maka
ia juga diwajibkan mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban
tersebut. Sebab apa yang menjadi perantara pada perbuatan wajib, maka wajib
pula hukumnya. Demikian pula, manusia wajib mempelajari ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan berbagai pekerjaan atau kariernya. Seseorang yang sibuk dengan
tugas kerjanya (misalnya berdagang), maka ia wajib mengetahui bagaimana cara
menghindari haram.
Manusia
juga diwajibkan mempelajari ilmu ahwal al-qalb, seperti tawakkal, ridla dan
sebagainya.
Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan
ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya
secara rinci. Yaitu: Kecerdasan, kemauan, sabar, biaya,
bimbingan guru dan waktu yang lama.”
Kecerdasan,
Ulama membagi
kecerdasan menjadi dua yaitu: yang
pertama, muhibatun minallah (kecerdasan
yang diberikan oleh Allah). Contoh, Seseorang yang memiliki hafalan yang kuat. Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan
usaha (muktasab)
misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dll.
Bersungguh-sungguh,
Barang siapa yang
bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan kesuksesan. Begitu pula dalam
menuntut ilmu, kesungguhan adalah salah satu modal untuk menguasai ilmu yang
sedang kita pelajari. Pepatah mengatakan: Man Jada wa Jadda “Siapa
bersungguh-sungguh pasti dapat”.
Kesabaran,
Yang Ketiga Sabar dalam menuntut
ilmu dibutuhkan kesabaran, sabar dalam belajar, sabar dalam diuji, sabar dalam
segala hal yang kita alami dalam proses menuntut ilmu, sabar dalam menjalani
hukuman sekalipun jika ada. Hidup ini adalah ujian pasti Allah akan uji
kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, jikalau kita lolos dalam menjalaninya
maka kita akan dinaikan tingkat kita dari yang sebelumnya. Pepatah mengatakan, “Orang yang cerdas adalah orang
yang tidak akan pernah berhenti belajar.
Biaya, Dalam menuntut ilmu tentu butuh biaya
(bekal), tidak mungkin menuntut ilmu tanpa biaya (bekal). Contoh para imam,
Imam Malik menjual salah satu kayu penopang atap rumahnya untuk menuntut ilmu. Imam
Ahmad melakukan perjalanan jauh ke berbagai negara untuk mencari ilmu. Beliau
janji kepada Imam Syafi’i untuk bertemu di Mesir akan tetapi beliau tidak bisa
ke Mesir karena tidak ada bekal. Seseorang untuk mendapat ilmu harus berkorban
waktu, harta bahkan terkadang nyawa.
Bimbingan
Guru, Salah satu
hal yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah bimbingan dari seorang guru.
Terlebih belajar ilmu agama Islam, haruslah sesuai dengan bimbingan guru.
Belajar agama Islam janganlah secara otodidak semata, karena akan menjadi
bahaya jika salah memahami suatu teks ayat atau hadits. Dikarenakan begitu
pentingnya bimbingan guru, maka kita haruslah menghormati dan memuliakan guru.
Hal ini semata-mata untuk mendapatkan ridha guru yang pada akhirnya akan
mengantarkan kita kepada Allah.
Waktu
Yang Lama, Dalam
menuntut ilmu butuh waktu yang lama. Tidak mungkin didapatkan hanya dalam
hitungan bulan saja.
Imam Al-Baihaqi
berkata:”Ilmu tidak akan
mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu”. Imam Al-Qadhi
ditanya: “Sampai kapan
seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang
tempat tintanya ke liang kubur.
Menurut al-Zarnuzi Masa
belajar adalah semenjak dari buaian hingga masuk liang lahat. Adapun masa yang
cemerlang untuk belajar adalah awal masa muda. Belajar dilakukan pada waktu
sahur dan waktu antara maghrib dan isya, namun sebaiknya peserta didik
memanfaatkan seluruh waktunya untuk belajar. Bila telah merasa bosan
mempelajari suatu ilmu hendaknya mempelajari ilmu yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar