MARHABAN YAA RAMADHAN
Bakri, M.Pd.
Rasulullah SAW.
Bersabda : Jibril telah datang kepadaku dan berkata “hai Muhammad, barang siapa
menjumpai bulan Ramadhan kemudian mati tanpa mendapat ampunan Allah SWT, maka
ia akan masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya (dari hal tersebut). Katakan
‘Amin.” Maka aku pun berkata,”Amin”. (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim,
dan Thabrani)
Subhanallah,
tentu kita sebagai orang muslim akan merinding membaca hadist di atas,
terpintas dalam benak kita perasaan takut, hawatir, ngeri bercampur aduk jadi
satu dengan penuh pertanyaan, “mengapa ancaman Allah sangat dahsyat? Sebenarya
rahasia apa yang terdapat didalamnya?” bisa jadi ini adalah cerminan dari
murkanya Allah SWT yang luar biasa terhadap orang-orang muslim yang diberikan
kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, dengan segala keuatamaan,
keistimewaan, dan fadhilahnya sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang tidak
terbatas, namun justru disia-siakan kesempatan emas ini, bahkan mungkin
melakukan hal-hal yang bisa menjauhkan dari maghfirah Allah SWT.
Alhamdulillah tahun ini,
ditengah-tengah musibah yang melanda umat manusia disegala penjuru dunia yaitu
mewabahnya virus corona (covid-19) kita bisa dipertemukan dengan bulan suci
Ramadan yaitu bulan penuh rahmat, nikmat dan mafhfirah-Nya, dalam keadaan sehat
wal-‘afeat lahir dan batin. Sungguh apa yang kita nikmati dan terima ini,
semata-mata karena karunia yang luar biasa dari Allah SWT, dan tidak akan
dirasakan keistimewaannya kecuali oleh orang-orang yang saat ini tidak sehat, tidak
mampu atau tidak sempat. Persoalannya sekarang bagaimana kita
menginplimentasikan rasa syukur dan sikap kita terhadap karunia yang luar biasa
ini? Sekedar saling mengingatkan, barangkali ada empat (4) perkara yang bisa
kita lakukan menghadapi bulan Ramadhan ini.
Pertama,
kita harus yakin dengan keimanan yang kuat bahwa kesempatan ini merupakan
karunia dari Allah SWT, kepada kita karena bentuk kasih sayang-Nya, apalagi
kita melihat banyak diantara saudar-saudara kita yang terbaring sakit atau
tidak bisa melaksanakan ibadah bulan ramadhan karena satu dan lain sebab.
Berusahalah agar kita memiliki persepsi dalam diri kita bahwa bulan ramadhan
kali ini merupakan “kesempatan terkhir” bagi
kita, karena kita tidak akan menjumpai bulan Ramdahan pada tahun-tahun
berikutnya, setidaknya kita berfikir bahwa bulan ramadhan yang akan datang kita
tidak bisa melaksanakannya dengan sempurna karena tidak sehat, tidak mampu atau
tidak sempat.
Dengan demikian, akan muncul dalam
diri kita giroh atau semangat dalam melaksanakan amal ibadah dengan
sungguh-sungguh sampai tingkatan yang paling tinggi, misalnya tahun kemarin
kita baru bisa melaksanakan pada tingkatan atau golongan ‘Awam (golongan yang hanya mampu menahan lapar dan
dahaga saja) maka tahun ini kita berusaha untuk meningkatkan ibadah kita
pada level tertinggi yaitu kelompok khawash
(golongan yang mampu menahan segala nafsu yang berhubungan dengan panca indra
dan anggota tubuh lainnya).
Bahkan klo bisa kita berusaha agar
mencapai tingkatan yg tertinggi yaitu khashsh
al-khawash (golongan yang mampu membebaskan pikiran dan perasaannya dari segala
hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah). Misalnya puasa tahun kemarin
hanya bisa menghatamkan al-quran satu kali, maka tahun ini usahakan bisa menghatamkan
dua, tiga kali atau lebih.
Kedua,
kita
dituntut untuk tetap berusaha dengan semangat yang tinggi agar bisa menjauhkan
diri kita dari sesuatu yang membatalkan puasa, atau yang mengurangi bahkan
menghilangkan pahala puasa. Seperti ghibah, berbicara kotor, melihat dan
berbuat maksiat. Bagaimana caranya? Jika hal-hal yang demikian itu muncul dalam
pikiran kita, maka segeralah berdzikir kepada Allah, perbanyak istighfar dan
melakukan hal-hal positif seperti membaca al-qur’an atau aktifitas lain yang bisa
mengalihkan sehingga kita tidak terjerumus pada hal-hal yang membatalkan puasa.
Ketiga,
perlu
kiranya kita membuat komitmen atau kesepakatan antara keluarga terdekat kita,
istri, anak-anak, teman. Bahwa pada bulan Ramadhan tahun ini kita berjanji
untuk meningkatkan amal ibadah kita lebih dari bulan ramadhan tahun lalu. Dan
usahakan apa yang kita sepakati lebih spesifik, misalnya berjanji agar setiap
individu menghatamkan al-qur’an, melaksanakan sholat jama’ah, sholat tarawih,
dan meninggalkan perbuatan yang tidak ada hubungannya dengan ibadah puasa,
misalnya nonton TV, main Game dan lain sebagainya. Jika memungkinkan kita juga
bersepakat agar saling mengingatkan satu sama lain agar nilai ibadah kita tetap
terjaga dan bisa istiqomah.
Keempat,
kita
harus memperbanyak dzikir kepada Allah SWT (senantiasa menyebut nama Allah)
atau dengan membiasakan kalimat-kalimat thayyibah hususnya di bulan Ramadhan,
selain dengan berdzikir menjadikan hati tentram juga bisa menghilangkan
kesedihan, mendekatkan diri kita kepada Allah, dan akan diberikan ampunan serta
pahala besar oleh Allah SWT. Yang terpenting adalah ketika kita diberikan
ampunan tentu kita juga mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya.
Pada kondisi yang sangat mencekam dan
penuh kehawatiran ini, disaat mewabahnya virus corona banyak himbauan dari
pemerintah dan juga para kiai agar kita tetap dirumah, menjaga kebersihan,
social distancing dan self ditektion. Disisi lain kita sebagai orang muslim
tentunya tidak ingin mneyia-nyiakan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, dua
pilihan yang harus kita bijaksanai dengan tetap menjaga kesehatan, social
distancing dan himbauan pemerintah, kita juga tetap semangat untuk menunaikan
ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh khusyu’. Karena bulan Ramadhan bagi
seorang mukmin sejati adalah sarana untuk memupuk dan meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Demikianlah empat hal yang mungkin
bisa menjadi refrensi dalam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan kali ini,
semoga kita keluar dari bulan Ramadhan memperoleh maghfirah dari Allah SWT.
Amien.
Jombang, 09 April 2020
Pra Kajian Bulan Ramadhan
PSQ Unipdu Jombang
Jombang, 09 April 2020
Pra Kajian Bulan Ramadhan
PSQ Unipdu Jombang