Jumat, 25 September 2020

TM Ke-3 Etika Belajar Dalam Islam

 

KEWAJIBAN BELAJAR DALAM ISLAM

PENDAHULUAN

Belajar atau menuntut ilmu merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, manusia tidak dapat melakukan segala hal. Untuk mencari nafkah perlu ilmu, beribadah perlu ilmu, bahkan makan dan minumpun perlu ilmu. Dengan demikian belajar merupkan sebuah kemestian yang tidak dapat ditolak apalagi terkait dengan kewajiban seorang sebagai hamba Allah swt. Jika seorang tidak mengetahui kewajibannya sebagai hamba bagaimana bisa dia dapat memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebelum membahas mengenai kewajiban menuntut ilmu dalam hadis ini akan dibahas pula mengenai pengertian wajib belajar setelah itu baru dibahas mengenai kewajiban belajar sebagaimana tertuang dalam hadis-hadis Rasul saw.Untuk lebih memperjelas topik ini dipaparkan selanjutnya mengenai definisi ilmu, klasifikasinya serta keutamaannya. Dengan demikian jelaslah bagaimana kewajiban menuntut ilmu, apa itu ilmu, pembagian ilmu dan keutamaan menuntut ilmu.

 

PENGERTIAN

Akal pikiran merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah swt, kepada seluruh manusia, dan untuk menwujudkan bentuk rasa syukur kita yaitu menggunakannya dengan sebaik-baiknya dalam menuntut ilmu. Pemerintah sangat apresiasi dengan mewajibkan belajar kepada seluruh warga negaranya sehingga kita biasa kenal wajib belajar sembilan tahun. Wajib belajar merupakan program pendidikan nasional yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah. Wajib belajar ini merupakan pendidikan minimal yang harus diikuti oleh setiap warga negara Indonesia. Sebagaimana tertuang di dalam UUD 1945 Bab XIII Pasal 31 Ayat 1 disebutkan, ”setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Mendapatkan pendidikan merupakan hak azasi manusia dan menjadi hak dasar warga negara Indonesia. Namun kenyataannya banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan disebabkan banyak hal, di antaranya hidup di lingkungan yang terpencil. Hal ini berdampak pada kurangnya sumber daya manusia untuk mewujudkan pembangunan yang adil dan merata.
        Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan hak pendidikan bagi warga negaranya. Oleh sebab itu, program wajib belajar dilaksanakan sejak tahun 1984 (Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun) kemudian setelah 10 tahun diluncurkan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun sejak 1994, melalui Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1994.

Adapun belajar ialah aktifitas yang dilakukan seseorang atau peserta didik secara pribadi dan sepihak. Sedangkan pembelajaran itu melibatkan dua pihak, yaitu guru dan peserta didik yang di dalamnya mengandung dua unsur sekaligus, yaitu mengajar dan belajar (teaching and learning). Jadi perubahan istilah yang sebelumnya dikenal dengan istilah proses belajar mengajar (PBM) atau kegiatan
belajar mengajar (KBM). ( Ismail, 2008: 8-9.) Berdasarkan hal di atas maka akan dijelaskan selanjutnya bagaimana pandangan Islam mengenai kewajiban belajar sebagaimana yang tertuang dalam hadis-hadis Rasul saw.

 

DASAR HUKUM

1.      Dalam UUD 1945 Bab XIII Pasal 31 Ayat 1 disebutkan, ”setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Mendapatkan pendidikan merupakan hak azasi manusia dan menjadi hak dasar warga negara Indonesia.

2.      Artinya:”Ahmad bin `Abdul Wahhâb menceritakan kepada kami bahwa ia berkata `Ali bin `Iyasy al-Himşi menceritakan bahwaHafaş bin Sulaimân menceritakan dari Kaśîr bin Syanᶎîr dari Muhammad bin Sirîn dari Anas bin Mâlik bahwasanya ia berkata, Rasul saw bersabda : Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”.

3.      Artinya: Abu `Abdillah al-Hafiᶎ memberitakan kepada kami juga Abu alHasan Ali bin Muhammad bin `Uqbah as-Syaibani bahwa Muhammad bin `Ali bin `Affân menceritakan kepada kami begitu jua Abu Muhammad alAşbahani memberitakan bahwa Abu Sa`id bin Ziyad memberitakan kepada
kami bahwa Ja`far bin `Amir al-`Askari berkata Hasan bin `Aţ`iyah menceritakan dari Abi `Atikah dan diriwayat lain dari Abu Abdillah ia berkata Abu `Atikah meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya ia berkata : Rasul saw pernah bersabda: tuntutlah ilmu meskipun di China karena sesungguhnya menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”.

4.      Artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”. ( as-Suyuŝi, : 317)

5.      Artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan sesungguhnya orang yang menuntut ilmu minta ampun baginya segala sesuatu bahkan ikan-ikan di lautan “.(as-Suyuŝi, : 317).

6.      Artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim maka wahai hamba jadilah engkau seorang alim atau pelajar dan tidak ada kebaikan di luar dari kedua golongan tersebut”. ( as-Suyŭŝi, : 317)

7.      Artinya: “Menuntut pemahaman terhadap ilmu adalah kemestian dan wajib bagi setiap muslim”. ( as-Suyŭŝi, : 317)

8.      Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad “.

 


KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Tidak ada agama yang seperti agama Islam dan tidak ada kitab suci yang seperti Al-Quran yang begitu mengutamakan ilmu dan menganjurkan manusia untuk mencarinya. Allah swt juga meninggikan kedudukan orang yang berilmu dan menjelaskan keutamaannya serta kelebihannya di dunia dan di akhirat. Allah swt juga menganjurkan untuk belajar dan mengajarkan ilmu serta meletakkan kaeadah-kaedah dasar, hukum-hukum dalam hal tersebut sebagaimana yang tercantum di dalam Alquran.
Sebagi bukti wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah perintah untuk membaca yang merupakan kunci bagi ilmu dengan menyebutkan pena sebagai sarana untuk mentransfer ilmu dari satu generasi kepada generasi lainnya. Sebagaimana firman Allah swt di dalam suarat al-`Alaq ayat1-5:

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari suatu yang melekat.Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Sungguh surat yang pertama yang diturunkan Allah swt adalah surat al-Alaq dalam surat ini Allah swt menyebutkan anugrah apa yang telah diberikanNya kepada manusia yaitu mengajarkan apa-apa yang tidak dia ketahui. Di dalam surat ini Allah swt menegaskan keutamaanNya dengan mengajari manusia dan mengutamakan manusia dengan ilmu tersebut. Di lain ayat Allah Swt juga berfirman pada surat az-Zumar ayat 9:

Artinya: “ Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak mengetahui”. Allah swt di sini membedakan orang yang berilmu dengan orang yang bodoh keduanya tidaklah sama. Tanpa memandang ilmu apa saja itu namun yang penting tidaklah sama antara orang yang alim dan yang jahil. Sama hal tidaklah sama antara orang yang melihat dengan yang buta atau antara kegelapan dan cahaya. Jelas keutamaan ilmu membedakan satu manusia dengan manusia lainnya dan mengutamakannya dari selainnya.

 

Di dalam Al-Quran Allah swt juga menegaskan bahwa orang yang takut kepada Allah Swt adalah orang yang berilmu. Sebagaimana firmanNya dalam surat Fâŝir ayat 28: Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hambahambaNya adalah para ulama”. Karena para ulama-lah yang telah membaca tanda-tanda kebesaran, keagungan, keadilan Allah swt dalam segala peristiwa dan alam yang dibentangkanNya sehingga mewariskan ke dalam hati mereka rasa takut kepada Allah swt untuk melakukan segala bentuk perbuatan yang mendatangkan murka Allah swt. Ibnu Mas`ud ra pernah berkata: Artinya: “cukuplah rasa takut kepada Allah swt menandakan seorang berilmu dan cukuplah keberanian untuk melakukan maksiat sebagai tanda
kebodohan seorang”.


PENUTUP

Kiranya jelas bagi kita bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat. Meskipun hadis-hadis yang membicarakan mengenai hal ini lemah namun karena banyaknya sanad yang meriwayatkannya maka hadis ini menjadi hasan bahkan maknanya sahih. Ilmu yang wajib `ain dituntut terutama adalah ilmu-ilmu agama kemudian ilmu-ilmu lainnya yang tidak bertentangan dengan agama dan membawa maslahat bagi orang banyak maka fardhu kifayah menuntutnya.

Begitu banyak keutaman ilmu yang dijelaskan sebelumnya di antaranya; orang yang berilmu adalah yang takut kepada Allah, orang yang berilmu adalah orang yang adil, orang yang berilmu disamakan kesaksiannya dengan kesaksian Allah dan para malaikatNya, orang yang berilmu memberikan sumbangsih yang besar dalam mentransfer ilmu kepada generasi selanjutnya dan lain sebagainya. Disadari banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini oleh sebab itu penulis mengharapkan saran yang membangun untuk membenahinya. Semoga juga makalah ini dapat memotivasi kita untuk lebih giat mendalami ilmu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Baihaqi, Abu BakarAhmad, Syu`abul Iman, Beirut, Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah,
1410 H Al-Gazâli,

Abu Hâmid,Ihya `Ulumiddîn, Semarang, Karya Toha Putra, t.t -------, Ihya `Ulumiddin, Beirut, Dâr al-Ma`rifah, 1989

Al-Manâwi , Abdur Ra`uf , Zainuddin,at-Taisir Bisyarhi al-Jâmi` as-Şagîr, (Riyaᶁ, Dar an-Nasyar, 1998-------, Faiᶁul Qadîr, Beirut, Dârul Kutub al-`Ilmiyah, 1994 Al-Qarᶁâwi, Yusuf,Al-`Aqlu Wal `Ilmu Fil Quranil Karîm, Cairo, Maktabah AlWahbah, 1996

-------, al-Islam Wal `Ilmâniyah, Cairo, Maktabah Wahbah, 1997 Al-Qarᶁâwi dalam 

Ibnu al-Qayyim, Miftâh Dâr as-Sa`adah, Cairo, Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1994
Shafwan Adnan Daudi, Mufrâdat al-Quran, Beirut, Dâr al-Qalam, t.t
SM,Ismail,Strategi Pembelajaran Islam Berbasis PAIKEM, Semarang, Rasail Media Group, 2008

Selasa, 22 September 2020

MANUSIA, PENDIDIKAN DAN AGAMA oleh: Bakri, S.Pd.I., M.Pd.

 

PENDAHULUAN

Kita seringkali terjebak dengan asumsi masyarakat tentang manusia, pendidikan dan agama itu tidak ada keterkaitan sama sekali. Pembahasan manusia, pendidikan dan agama disampaikan secara terpisah, misalnya manusia diasumsikan hanya pada urusan kehidupan, baik secara fisik, ekonomi, mental maupun psikologi. Pembahasan tentang pendidikan diasumsikan hanya pada permasalahan pendidikan secara kontenporer, misalnya kurikulum, Pengajaran dan sebagainya. Dan agama diasumsikan hanya seakan-akan membahas masalah ukrowi saja.

Pembahasan terpisah yang demikian itu disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap manusia, pendidikan dan agama . Kajian tentang manusia masih dangkal dan pemahaman terhadap permasalahan pendidikan yang kadang tidak dipikirkan secara mendalam, dan pengetahuan tentang keluwasan agama kurang sempurna, merupakan sebagian sebab masyarakat belum membahas keduanyasecara terpadu.

Selanjutnya dengan berbekal makalah yang sederhana ini mari kitaberdiskusi mengenai masalah tersebut untuk mencari dan menemukan pemahaman yang komprehensif dan jika mungkin berusaha untuk menciptakan ide-ide baru dan segar yang bisa mewarnai dan memberi corak kualitas keilmuan dunia pendidikan sehingga bisa membantu memberikan solusi masalah dan bukan malah menambah masalah di negeri yang sudah dirundung banyakmasalah ini.

 

 

PEMBAHASAN

MANUSIA , PENDIDIKAN DAN AGAMA

 

Sebagaimana disampaikan diawal bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan dua tugas pokok yaitu; pertama manusia sebagai makhluk yang harus menyembah kepada khalik-Nya sebagaimana firman Allah, yaitu

وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون ..الذاريات:٥٦

“Dan Aku tidak menciptakan jindan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku” (QS. Adz Dzaariyat: 56)[1]

 

Kedua manusia juga bertugas sebagai khalifah dimuka bumi, selain itu manusia juga dibekali dengan akal. Maka dengan akal itulah manusia itu akan selaluberfikir tentang kelangsungan hidupnya dan generasinya. Manusia akan selaluberupaya untuk menemukan berbagai cara untuk survive baik bagi dirinyamaupun keturunan atau generasinya, sekaligus meningkatkan kualitaskehidupannya baik jasmani maupun rohani yang berlangsung secara alami. Haltersebut merupakan hakikat pendidikan secara umum.

Pertanyaan filosofis atau mendasar tentang sosok manusia adalah “Whatis man , and what of is man made?”Apa dan terbuat dari apa manusia itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut banyak filosuf dengan pandangan filsafatnya yang memberikan batasan atau  definisi tentang manusia. SigmundFreud misalnya berpandangan bahwa hakikat manusia sebenarnya bisa ditinjaudari struktur jiwa yang dimiliki yang terdiri dari tiga hal yaitu: das Es, das Ichdan das Uber Ich. Das Es bagian dasar (the Id) yang sama sekali terisolasi dari dunia luar, hanya mementingkan masalah kesenangan dan kepuasan (lustprinciple) yang merupakan sumber nafsu kehidupan, yakni hasrat-hasrat biologis(libido-sexualis) dan bersifat a-sadar, a-moral a-sosial dan egoistis. Das Ich(aku=ego), sifatnya lebih baik dari pada das Es, das Ich dapat mengerti dunia asadar, a-sosialdana-moral, lebih realistis tapi belum ethis.Yang ketiga dan UberIch (superego), ini adalah bagian jiwa yang paling tinggi dan paling sadar norma dan paling luhur, bagian ini sering dinamakan budi nurani (consciencia). 

Faham monoisme atau yang terkenal juga dengan faham materialismmemandang manusia hanya dari segi materi. Manusia tidak ada bedanya denganalam semesta yang serba materi, manusia ialah apa yang nampak sebagaiwujudnya. Sedangkan faham idealisme yang sering juga disebut dengan fahamrasionalisme atau spiritualisme memandang manusia dari aspek mentalnya, jasmani atau tubuh hanya merupakan alat jiwa untuk melaksanakn tujuan,keinginan dan dorongan jiwa (rohani, spirit dan rasio) manusia.

Selanjutnya faham Dualisme atau realisme yang melihat realita sebagaisintesa dua kategori animate dan inanimate, makhluk hidup dan makhluk mati.Manusia menurut faham ini adalah kesatuan antara rohani dan jasmani, jiwa danraga. Faham ini juga berpendapat bahwa  manusia adalah satu totalitas, sebagaisatu individu dengan kepribadian yang unik baik sebagai ummat manusiakeseluruhan maupun sebagai satu pribadi. Lebih lanjut faham ini mengakuiadanya potensi hereditas di samping realita lingkungan yang sebagai faktor luar. (Muhammad, 1986) Anthropologi metafisika berkesimpulan bahwa hakikat manusia merupakan integritas antara kesadaran-kesadaran:

Pertama: Manusia sebagai makhluk individu yang memiliki keunikan tersendiri, jadi setiap manusia mempunyai ciri khas masing-masing yang membedakan dari manusia yang lainnya,

Kedua: Manusia sebagai makhluk sosial, yang berarti bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Orang lain di sini minimal adalah orang tuanya atau keluarganya sendiri, dan

Ketiga: Manusia sebagai makhluk susila maksudnya adalah bahwa manusia adalah makhluk yang bermoral dan sadar akan norma dan nilai-nilai.

Seiring perkembangan peradaban manusia, pendidikan dilaksanakansecara lebih sistematis dan terorganisir dalam bentuk pendidikan formal disekolah.Dalam hal ini manusia pada dasarnya bisa sebagai subyek sekaligusobyek dari pendidikan. Sebagai subyek pendidikan berarti mereka berperan aktifdalam proses dan pelaksanaannya, mereka bertanggung jawab sebagaiperencana, pengelola sekaligus pihak yang harus mengevaluasi dan mengawasiproses berlangsungnya pendidikan tersebut. Sedangkan sebagai obyek berartimereka menjadi sasaran yang harus digarap dan dituju oleh pendidikan(khususnya manusia yang belum dewasa).

Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses tanpa akhir, John Dewey pernah menyatakkan bahwa “Education Is The Process Without End.”,[2]sejalan dengan pendidikan adalah inti dari sebuah proses kehidupan manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adalah ungen terhadap kelangsungan hidup manusia. Sebab itu sejauh mana manusia mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut dalam kelangsungan hidupnya, pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai di mana titik optimal kemampuan kemampuan tersebut dapat dicapai.

Manusia dan pendidikan yang ibarat dua sisi matauang tersebut , jelaslah bahwa pendidikan bertujuan untuk meningkatkankualitas hidup manusia, baik pendidikan yang berlangsung secara alami olehorang tua atau masyarakat terlebih pendidikan tersistem yang diselenggarakanoleh sekolah. Jadi kesimpulannya adalah manusia memiliki beberapa potensiyang ada pada dirinya, yaitu potensi intelektual, rasa.karsa, karya dan religi yang bisa dan akan ditumbuh dan kembangkan melalui proses pendidikan yang baik dan terarah.  

“Agama” berasal dari bahasa Sansakerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu a yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”. Hal ini mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Dalam bahasa Arab, istilah agama disebut “dīn”, berarti “ajaran tentang ketaatan absolut (kepada Tuhan, Allah)”, pemahaman ini benar-benar sesuai dengan konsep “Islam”, yang berarti

“ketundukan penuh (kepada Tuhan)”. Menurut para salaf al- shālih sebagaimana yang dikutip oleh Atiqullah, agama adalah suatu keimanan manusia akan adanya Allah Swt yang ditetapkan kebenarannya melalui perasaan iman (qalb), diucapkan dengan kata-kata (lisan), dan melaksanakan dengan perbuatan.

Fitrah ini merupakan potensi bawaan yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk selalu tunduk, taat melaksanakan perintah Tuhan sebagai pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Hubungan manusia dan agama tampaknya merupakan hubungan yang bersifat kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah penciptaan manusia. Terwujud dalam bentuk ketundukan, kerinduan ibadah, serta sifat-sifat luhur.


TUJUAN PENDIDIKAN
DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Tujuan pedidikan biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan akhir(ultimate aims of education).Secara umum tujuan pendidikan ialah kematangandan integritas pribadi.Ada pula yang merumuskan dengan kata kesempurnaan(perfection).Bagi kaum Naturalis, dengan tokohnya JJ.Rousseau, menyatakanbahwa tujuan akhir pendidikan adalah self-realisasi potensi-potensi manusiamenjadi kenyataan di dalam tindakan yang nyata. Seperti dikatakan Rousseau :... education should aim to perfect the individual in all his powers ..., the education is not to make a soldier, magistrate, or priest, but to make a man. (5: 114). Maksudnya pendidikan harus bertujuan untuk menyempurnakan semuapotensi individu..., pendidikan bukan bertujuan untuk membina manusia menjadiprajurit,  seorang hakim, melainkan untuk membina seseorang menjadi manusia.(google search) Pada dasarnya, pendidikan di semua institusi dan tingkat pendidikanmempunyai muara tujuan yang sama, yaitu ingin mengantarkan anak manusiamenjadi manusia paripurna yang mandiri dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungannya. Dalam sistem pendidikan di Indonesia,tujuan pendidikan tersebut secara eksplisit dapat dilihat pada Undang-undang RINomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturanperaturanpemerintahyangberkaitandenganundang-undangtersebut.

Dalam UU Sisdiknas tersebut dinyatakan bahwa,

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(google search)

 Secara umum tujuan pendidikan di Indonesia sudah mencakup tiga ranah perkembangan manusia, yaitu perkembangan kognitif, afektif, danpsikomotor. Tiga ranah ini harus dikembangkan secara seimbang, optimal, danintegratif. Seimbang artinya ketiga ranah tersebut dikembangkan denganintensitas yang sama, proporsional dan tidak berat sebelah. Optimal maksudnyadikembangkan secara maksimal sesuai dengan potensinya.Integratif artinyapengembangan ketiga ranah tersebut dilakukan secara terpadu.Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan cita-citamencerdaskan kehidupan bangsa yang sejalan dengan visi pendidikan nasional,Kemendiknas mempunyai visi 2025 untuk menghasilkan Insan Indonesia Cerdasdan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). Yang dimaksud dengan insanIndonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yaitu cerdasspiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdaskinestetis.

Adapun tujuan akhir dari pendidikan, mengingat konpleksitasnya, secara teoritis dapat dibedakan sebagai berikut[3].

 Tujuan Normatif

Suatu tujuan yang harus dicapai berdasarkan kaidah-kaidah (norma-norma) yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan.

Pertama: Tujuan Fungsional

Tujuan ini bersasaran pada kemampuan anak didik untuk memfungsikan daya kognitif, afektif, dan psikomotor dari hasil pendidikan yang diperoleh sesuai yang ditetapkan.

Kedua: Tujuan Opersional

Tujuan ini mempunyai sasaran pada pencapaian kemampuan, intermedial (bersifat sementara), partial, incidental dan khusus.

 

MANUSIA DAN PROSES KEPENDIDIKAN

Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses “memanusiakan manusia”, Abdurrahman Shalih mengatakan “man is the core of the educational process”,(Google search) bahwa manusia adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan.Sebab itu sejauh mana pendidikan itu diformulasikan dan diimplementasikan harus selalu disandarkan pada konsepsi tentang hakekat manusia.Merumuskan dan mengembangkan tujuan pendidikan, materi pendidikan, metode, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan seterusnya harus selalu dikonsultasikan pada filsafat dan pemahaman tentang hakekat manusia itu sendiri.

Dalam proses kependidikan yang alami lebih ditentukan perkembangannya oleh pendidikan atau lingkungan sekitar, karena empiri (pengalaman) pada hakekatnya yang membentuk manusia, hubungan ini menunjukkan bahwa bukan hanya perkembangan potensi dasar (jasmani dan rohani) manusia saja, namun perkembangan dasar beragama juga banyak dipengaruhi oleh langkah-langkah pendidik[4] dan tentunya tidak terlepas dari proses pendidikan.

Melihat tujuan dan fungsi pendidikan seperti telah disebutkan diatas jelas bahwa tugas dan fungsi tersebut dapat berubah sesuai dengan berubahnya kebutuhan dan tututan hidup manusia. Pada masa abad-abad permulaan berdirinya system pendidikan klasikal, tugas kependidikan adalah mencerdaskan daya fikir (intelek) manusia dengan melalui mata pelajaran “menulis, membaca, dan berhitung” atau terkenal dengan “3R’s” (writing, reading, and arithmatic),[5] akan tetapi sesuai dengan tuntutan hidup manusia maka tugas tersebut semakin bertambah dan meluas, yaitu selain mencerdaskan otak (intelek) manusia juga mendidik akhlak (Afektif) manusia dan keterampilan (psikomotor) manusia, Muzayyin Arifin menyatakan dengan sebutan (“3 H’ s) “head (otak), heart (akhlak atau moralitas yang berkembang dari hati), hand (kemampuan tangan)[6].

Proses kependidikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia bukan hanya sesaat namun sampai akhir hayat sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Yang artinya:

“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”(HR. Muslim)

Hadist diatas menunjukkan bahwa manusia dituntuk untuk berproses sejak didalam kandungan hingga menemui ajalnya (sakratul maut). Dalam hubungannya dengan proses kependidikan menurut ajaran Islam dipandang suatu perkembangan alamiah manusia, yaitu suatu proses yang harus terjadi terhadap diri manusia.[7]Oleh karena hal tersebut merupakan pola perkembangan hidupnya yang telah ditentukan oleh Allah, atau dikatakan sebagai “sunnatullah”. Firman Allah di bawah ini dapat dijadikan pandangan dasar, yaitu artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dari saripati tanah, kemudian Kami jadikannya dari setitik nutfah yang tersimpan dalam tempat yang aman, yang teguh (yaitu dalam rahim ibu). Kemudian air mani (nutfah) itu Kami jadikan ‘alaqah (segumpal darah) kemudian Kami jadikan segumpal daging (mudghah) itu menjadi tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami selaputi dengan daging. Setelah itu Kami jadikannya suatu bentuk yang lain (yaitu bentuk menusia), maka berkah Allah Maha Pencipta yang paling utama. (QS. Al-Mukminuun:12,13,14)

 Ayat diatas menunjukkan bagaimana manusia berproses dalam pertumbuhan biologisnya sejak alam periode pranatal, hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna.[8]

Secara pedagogis manusia berkembang melalui proses pendidikan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. Yaitu

Artinya:

Berkata Anas, “Bersabda Nabi Muhammad saw.: Anak setelah hari ketujuh dari kelahirannya disembelihkan ‘aqiqah dan diberi nama serta dicukur rambutnya, setelah usia enam tahun ia dididik untuk berperilaku sopan santun: setelah 9 tahun tempat tidurnya dipisah dari orang tuanya; bila telah berusia 13 tahun ia harus dipukul bila tidak menjalankan shalat, dan setelah berusia 16 tahun ia harus dikawinkan oleh ayahnya, lalu ayahnya berjabatan tangan dengannya seraya mengatakan: “Saya telah mendidik kamu, mengajar, dan mengawinkan kamu, saya memohon kepada Tuhan supaya saya dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu di akhirat.”[9]

 Meskipun tidak terperinci, sabda Nabi di atas dapat dijadikan landasan bahwa dalam pembinaan jiwa manusia diperlukan proses kependidikan secara bertahap dari mulai sejak mempengaruhi jiwanya secara psikologis sampai dengan mengamalkan perilaku yang diajarkan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan sangat berkaitanerat dengan proses kehidupan manusia seumur hidup. Oleh karena itu, pendidikanmempunyai kedudukan penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

 Sebagaimana dikemukakan oleh John Dewey dalam analisisnya sebagai berikut:

1.Education as a necessity on life.

2.Education as social function.

3.Education as direction.

4.Education as growth.

5.Preparation, unfolding and formal discipline.

 

Atau dengan kata lain pendidikan sebagai:

1.Salah satu kebutuhan hidup.

2.Salah satu fungsi sosial.

3.Bimbingan.

4.Sarana pertumbuhan.

5.Mempersiapkan, mengembangkan, dan membentuk kedisiplinan.

 Jadi, pendidikan merupakan suatu aktivitas manusia terhadap manusia dan untuk manusia, atau yang berhubungan dengan kehidupan manusia dengan segalaproblematikanya.

 

      KESIMPULAN

Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar manusia baik aspek rohaniah maupun jasmaniah, pendidikan merupakan wasilah (sarana) yang  menentukan sampai    dimana             titik optimal kemampuan-kemampuan tersebut dapat dicapai. Dari ulasan singkat diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pertama: Manusia sebagai homo edukandum, makhluk yang harus dididik, atau bisa disebut animal educabil, makhluk sebangsa binatang yang bisa dididik.

 

Kedua: Manusia sebagai makhluk yang dapat tumbuh dan berkembang dalam proses komunikasi antara individualitasnya dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.

 

Ketiga: Pendidikan memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan, yakni sebagai upaya untuk mencerdaskan daya pikir (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan prilaku (afektif) manusia.

 

Keempat: Agama tampaknya memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Muzayyin, Prof. 2012. Filsafat Pendidikan Islam.Edisi revisi, Jakarta. Bumi Aksara.

Dewey, John. 1934. Science of Education. New york.

Alqur’an dan Terjemahnya. 1985. Departemen Agama, Proyek Pengadaan Kitab Suci Alquran.

Al-Djamaly, Mohammad Fadhil, Dr. Prof. 1967.Tarbijjah Al-Ihsan Al-Jadid.Matba’ah Al-Ittihad Al-‘Aam Al-Tunisijjah Al-Sughli.

Al-Qur’an Digital. Versi, 3.1

 

 

 


[1]QS. Adz Dzaariyat, AlQur’an Digital ver.3.1

[2]John Dewey, Science of education, p.10

[3]Prof. H. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (ER). Bumi Aksara. (Jakarta. 2012) cet. 6 hlm. 115

[4]Prof. Dr. Muh. Fadhil al-Djamaly, Tarbijjah Al-Ihsan, Al-Djadid, P.39

[5]Prof. H. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (ER). Bumi Aksara. (Jakarta. 2012) cet. 6 hlm. 53.

[6]Ibid.

[7]Ibid.55

[8]Ibid.

[9]Ibid.56