Bakri
Manajemen Pendidikan Islam
Bakri1
Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA.2 Dr. H. M. Ansor Anwar.3
Abstrak: Penelitian ini berangkat dari adanya animo masyarakat Indonesia
terhadap sekolah Islam dikatakan lebih rendah dibanding animo terhadap sekolah
umum. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab ialah, mengapa hal itu bisa
terjadi? Barangkali hal itu disebabkan oleh kompleksitas problematika
pendidikan Islam sangat tinggi. Beberapa problem tersebut antara lain adalah
problem manajemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar madrasah
(sekolah) yang ada masih dikelola dengan manajemen ”apa adanya” (manajemen
tradisional). Bermula dari keadaan inilah penulis
tertarik untuk mengkaji lebih dalam manajemen pendidikan Islam perspektif kiai
muh. As’ad umar. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk
menggambarkan paradigma manajemen pendidikan Islam,
sekaligus mendeskripsikan pemikiran para tokoh pendidikan Islam, tentang
manajemen pendidikan Islam. 2) Untuk menjelaskan
manajemen pendidikan Islam perspektif kiai As’ad Umar. 3) Untuk membuktikan keunggulan manajemen pendidikan Islam
Kiai. Muh. As’ad Umar.
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kualitatif
dengan menggunakan metode observasi, interview
(wawancara), dan dokumentasi, yaitu berupa buku-buka klasik, jurnal, serta
beberapa pandangan para tokoh yang berkaitan dengan penelitian tersebut.. Sedangkan data sekundernya adalah
buku, majalah, artikel atau tulisan yang berbicara tentang manajemen pendidikan
Islam Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan empiris,
yang kemudian lebih dispesifikkan pada metode studi kasus. Studi kasus adalah
suatu usaha yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap obyek
tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Manajemen organisasi kiai
As’ad dilaksnakan secara kolektif, hak dan kewajiban sama tapi tugas dan
wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan bidang keilmuannya, 2) Dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam
kiai As’ad berperan sebagai inovator, motivator, komunikator dan dinamisator
yang efektif. 3) Kiai As’ad mempunyai kemampuan
mengomunikasikan dan mengimplementasikan visi secara baik dan tepat sehingga
memungkinkan terlaksananya peran mananjer yang berhasil dalam menciptakan
komitmen terhadap nilai-nilai dalam menejemen pendidikan Islam.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah bagaimana para pendidik, pengelola
lembaga pendidikan Islam, dan semua praktisi pendidikan untuk dapat lebih
meningkatkan pengetahuan tentang manajemen pendidikan Islam, termasuk tentang
manajemen pendidikan yang berdasarkan pada ajaran Islam
Kata Kunci: Manajemen Pendidikan, Kiai Muh. As’ad Umar.
Abstract:
Islamic education management based on KH,
Muh As’ad Umar view. Thesis unpublished postgraduate program. Unipdu
Jombang 2016.
This research set out of an existing view of
Indonesian people that Islamic education has lower interest than public
school. This phenomenon reveals question to be answered that why it
happened. Perhaps it was caused by the elevation of Islamic education problems
such as management crisis. It is common knowledge that Islamic education still
uses traditional management. Thus, it inspires the writer to carry out the
research about Islamic education management based on KH Muh
As’ad’s point of view. It aims 1) to describe Islamic
management education paradigm and Islamic leaders thinking on the education. 2)
to explain Islamic management education based on KH Muh As’ad Umar Point of
view. 3) To prove the
superiority Islamic education management of Kh. Muh. As'ad Umar
This research applied qualitative
approach with observation method, interview, and documentation such
as classical book, journal and Islamic leader opinion. While, the secondary
data were article, magazine and writing which discuss about Islamic
education management. It applied also empirical approach to specify the
research into case study. The case study is an
attempt conducted intensively, detailed and in-depth on a particular
object
Research results show that 1) Organization
management of Kiai As'ad held collectively, the rights and obligations are the
same but the duties and authority vary according to their field. 2) KH. Asad
Umar has been acted as innovator, motivator, communicator, and the mover of
developing Islamic institution. 3) KH. Asad Umar has the
ability to communicate and implement the vision well and right and
enable to succeed manager role in creating a commitment to the values of Islam
in education management.
A recommendation from a this research
is how educators, Islamic educational institutions headmaster
and all education practitioners are able to further enhance the knowledge of
Islamic education management, including the management of education based on
Islam.
Keywords: Islamic education
management, based on KH, Muh As’ad Umar view
Pendahuluan
Sebagai
manusia yang sengaja diciptakan oleh Allah SWT dengan beberapa potensi yang
dimilikinya baik secara jasmani (fisik) maupun rohani (jiwa), dengan
kefitrahannya tentu membutuhkan proses agar potensi yang dimiliki manusia dapat
berkembang secara alamiah. Manusia tumbuh berkembang sejak dalam kandungan
sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap, demikian pula kejadian
alam semesta ini diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat. Pola
perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian
berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”
Dalam
proses perkembangan manusia, pendidikan sangat dibutuhkan sebagai usaha membina
dan mendidik manusia secara utuh (kaffah) dan seimbang (tawazun), baik aspek
rohani maupun jasmani, juga harus berlangsung secara bertahap. Dengan demikian,
rupanya sangat tepat apa yang dikatakan oleh A. tafsir (2004)[1], bahwa tujuan
pendidikan Islam adalah “memanusiakan manusia” (humanisasi). Artinya bahwa
pendidikan Islam akan membawa manusia pada posisi yang sebenarnya sebagai
“manusia”, yakni menjadi khalifatullah fil al-ardh (wakil Allah dimuka bumi)
yang akan memakmurkan bumi ini dengan segala potensi yang dimilikinya, serta
sekaligus menjadi seorang ‘abid (hamba) Allah yang selalu tunduk dan patuh
kepada-Nya, baik dalam segi ucapan, tingkah laku, maupun pemikirannya.
Lembaga
pendidikan Islam dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dari perkembangan
zaman era modern. Tantangan yang dimaksud antara lain kehadiran negara-negara
tanpa batas (bordeles) yang lebih populer dilabeli sebagai pergaulan global
antar bangsa atau globalisasi dalam segala bidang. Termasuk didalamnya adalah
kehadiran abad informasi dengan pembaruan teknologinya yang menjangkau setiap
lembaga Islam.[2]
Salah satu
permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya
mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan
dasar dan menengah. Hal ini tidak terlepas dari masalah kebijakan pemerintah
karena menyangkut kebutuhan dasar rakyat.[3] Pendidikan Islam di Indonesia keadaannya bermacam-macam sebagaimana
Ahmadi H. Syukran Nafismengatakan bahwa lembaga pendidikan Islam ada yang
awalnya mengalami kemunduran, kemudian bisa maju dengan pesat. Sebaliknya, ada
sekolah atau madrasah yang awalnya maju, tetapi kemudian hampir gulung tikar.
Ada yang awalnya maju dan tetap bertahan, sebaliknya ada juga yang awalnya
dalam kategori ”la yamutu wala yahya” (mati tak mau, hidup enggan) dan tetap
seperti itu. Empat kasus ini lebih karena factor manajemen daripada
lainnya,meskipun faktor manajemen bukanlah faktor tunggal yang terlepas dari
faktor-faktor lainnya.[4]
Suroyo dalam Ahmadi H. Syukran Nafis berpendapat bahwa lembaga pendidikan
Islam jika diamati dan disimpulkan bahwa terkungkung dalam kemunduran,
kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan,
sebagaimana pula dialami sebagian besar negara dan masyarakat Islam
dibandingkan dengan mereka yang non-Islam. Bahkan, lembaga pendidikan yang
diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi kemunduran dan
keterbelakangan, meskipun dewasa ini secara berangsur-angsur banyak lembaga
pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan yang signifikan.[5]
Masyarakat
Indonesia memiliki animo terhadap sekolah Islam dikatakan lebih rendah
dibanding animo terhadap sekolah umum. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab
ialah, mengapa hal itu bisa terjadi? Barangkali hal itu disebabkan oleh
kompleksitas problematika pendidikan Islam sangat tinggi. Beberapa problem
tersebut antara lain adalah problem manajemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa
sebagian besar madrasah (sekolah) yang ada masih dikelola dengan manajemen ”apa
adanya” (manajemen tradisional). Kendati pemerintah telah mengeluarkan PP
No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No.19/2007
tentang Standar Pengelolaan Pendidikan, madrasah (sekolah) belum
mengaplikasikan konsep manajemen fungsional yang modern dan manajemen strategik
yang sudah diketahui sukses diaplikasikan dikalangan organisasi apapun.[6]
Kompleksitas problem lainnya lebih pada
manusianya baik dari problem kepemimpinan maupun problem sumber daya manusianya
dan juga problem finansial serta problem kelembagaanitu sendiri. Manajemen yang baik adalah manajemen yang mempunyai konsep dan
sesuai dengan objek serta tempat organisasinya. Proses manajemen merupakan
aktivitas yang melingkar, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, sampai dengan pengawasan. Manajemendalam pendidikan itu
sangat penting, terutama dalam lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam harus mampu menciptakan bagaimana pelaksanaan
manajemen pendidikan yang efektif dan efisien. Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal, pengelolalembaga pendidikan Islam harus mampu memanfaatkan setiap
sumber yang tersedia sesuai dengan perencanaannya.
Selain itu pendidikan Islam akan membawa
manusia pada derajat ulul albab, yakni manusia yang berdzikir dan sekaligus
berfikir, berfikir dan sekaligus berdzikir, hal ini sangat selaras dengan yang
dikatakan oleh Kiai. Muh. As’ad Umar yaitu “berazas manfaat, berfikir cepat,
berdzikir kuat dan bertindak tepat” disertai dengan aktualisasi diri dalam
melakukan amal sholeh, berdo’a, dan tawadhu’ di hadapan Tuhannya, sebagaimana
dikehendaki QS. Ali Imran ayat 190-191.
Dalam pandangan ajaran Islam,
segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur.
Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan
secara asal-asalan.[7]
Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan
urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan
pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar
tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan
efektif.
Pendidikan dalam Islam mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI),
Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) sampai Perguruan Tinggi Islam,
perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan
hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan
tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak
itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di
sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang
tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun
rapi”.
Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan
bernegara, manajemen merupakan upaya yang sangat penting untuk mencapai tujuan
bersama. Pendidikan yang salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia
sudah semestinya mendapat perhatian khusus dalam hal manajemennya. Pendidikan
yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa tau negara dalam hal kemajuan
yang dicapai tidak terkecuali dalam Islam.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan persoalan yang sangat
krusial dan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia, oleh karena
itu Pendidikan sudah semestinya dikelola dan di manage dengan sebaik-baiknya.
Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral, materi, dan
spiritual.[8]
Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Hal ini tampak dalam
ungkapan bijak’ “sesuatu yang haq yang tidak di organisir terkadang dikalahkan
oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”.
Dari uraian di atas, penulis merasa tertarik
untuk meneliti sejauh mana. ”Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Kiai. Muh. As’ad Umar”.
Manajemen
Pendidikan Islam
Islam
mengajarkan kepada pemeluknya untuk selalu melakukan segala sesuatunya dengan
baik, benar, rapih, teratur, dan tertib. Segala sesuatu tidak boleh dilakukan
secara asal-asalan sehingga menghasilkan sesuatu yang keluar dari target yang
telah ditentukan. Melalui manajemen yang baik secara terarah dan tepat akan
didapatkan hasil yang baik. Manajemen dalam kamus bahasa Indonesia adalah
proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan Kamus Bahasa Indonesia, 2008:909). Ilmu manajemen sebenarnya dalam
Islam sudah ada semenjak masa Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an, hadis Nabi serta
para sahabat banyak menjelaskan tentang perlunya manajeman sebagai salah satu
media dalam mempermudah mencapai tujuan. Al-Qur’an sendiri menganjurkan kepada
manusia untuk memenej dirinya untuk menghadapi hari depan. Seperti yang
terdapat dalam surat al-Hasyar: 18:
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.
Menurut
Muhammad Ali al-Shabuni, yang dimaksud ayat adalah hendaklah masing-masing
individu memperhatikan amal saleh yang diperbuat untuk mengahadapi hari kiamat
(Mujamil Qomar, ttl:30). Ayat di atas memberikan pesan yang amat jelas kepada
orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Mereka harus pandai dan
jeli untuk mengatur dirinya agar tidak terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang
dilarang. Sehingga kelak ketika dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang
telah dilakukannya semasa hidup tidak membuatnya menjadi manusia yang merugi.
Dari segi
bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung
dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata
pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia (John M. Echols dan Hasan
Syadily, 1995:372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti
mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.
Dengan
demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam adalah proses
pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan
atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak.[9] Pemanfaatan
tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien,
dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun
di akhirat.
Secara
sederhana, pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa pengertian:
Pendidikan Islam
Untuk memberikan pengertian pendidikan Islam, lebih bijaknya
kalau melihat konsep pendidikan terlebih dahulu. Menurut Ki Hajar Dewantoro,
mendidik adalah menuntun segala kekuatan yang ada pada anak-anaknya mereka
sebagai manusia dan anggota masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[10]
Menurut H.M. Arifin adalah usaha sadar yang dilakukan oleh
orang dewasa untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan
dasar anak didik baik dalam hal bentuk pendidikan formal maupun non formal.
Dengan kata lain pendidikan pada hakekatnya adalah ikhtiar untuk membantu dan
mengarahkan fikiran dan fitrah manusia supaya berkembang sampai ke titik
maksimal yang dapat dicapai dengan tujuan yang dicita-citakan.[11] Sedangkan
menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh
pendidik terhadap terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[12]
Dari pengertian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa pendidikan itu dilaksanakan oleh orang dewasa yang ditujukan kepada anak
yang merupakan benih yang berkembang membutuhkan bimbingan dan bantuan.
Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi anak calon manusia dewasa yang
akan mengemban tugas melaksanakan dan melanjutkan kekhalifahan di bumi yang
mempunyai tanggung jawab di hadapan Allah. Menurut Ahmad Tafsir (2004:24)[13]
secara sederhana pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasar Islam, dengan
demikian, nilai-nilai ajaran Islam itu sangat mewarnai dan mendasari seluruh
proses pendidikan.
Dilihat dari sudut etimologis, istilah pendidikan Islam
sendiri terdiri atas dua kata, yakni “pendidikan dan Islam”. Dalam konteks
keislaman definisi pendidikan sering disebut dengan berbagai istilah, yakni al-tarbiyah,
al-ta’lim, al-ta’dib, dan al-riyadhah (Muhaimin dan Mujib, 1993:97),[14]
setiap istilah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda, hal ini dikarenakan
perbedaan konteks kalimatnya dalam penggunaan istilah tersebut. Akan tetapi
dalam keadaan tertentu semua istilah itu memiliki makna yang sama, yakni
pendidikan.
“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab atas
yang dipimpinnya”[15]
Adapun dasar pendidikan Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadist:
a.
Dasar
yang bersumber pada Al Qur’an
Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang mendorong kita untuk melaksanakan pendidikan antara lain:
Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang mendorong kita untuk melaksanakan pendidikan antara lain:
1)
Firman
Allah dalam surat At-Taubah ayat 122
“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang),
mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama memberikan peringatan
kepadanya supaya mereka itu menjaga diri”
2)
Firman
Allah surat At-Tahrim ayat 6
“Hai orang-orang
yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”[16]
b.
Dasar
yang bersumber pada Al-Hadist
Selain dari Al Qur’an hadist-hadist yang menjelaskan tentang pendidikan diantaranya adalah:
Selain dari Al Qur’an hadist-hadist yang menjelaskan tentang pendidikan diantaranya adalah:
“Semua anak
dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas lesannya, kemudian kedua orang
tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (H.R.
Abu Ja’far Al-Thabrani dan Al Baihaqi dan Al Aswad bin Sari)[17]
Manajemen
Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris dari kata kerja “to
manage” yang sinonimnya antara lain; “to hand’ berarti mengurus, “to
control” berarti memeriksa, “to guide” berarti memimpin. Dalam kamus
istilah populer, kata manajemen mempunyai arti pengelolaan usaha, kepengurusan,
ketatalaksanaan, penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang di inginkan direksi.
Sukanto reksohadipprodjo, mengatakan bahwa “manajemen adalah
suatu usaha, merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkordinir serta
mengawasi kegiatan dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi
secara efisien dan efektif.[18] Marry
Papker Follent, mengatakan bahwa “manajemen sebagai seni untuk mendapatkan
sesuatu melalui sikap dan keterampilan tertentu.[19] James
A.F. Stoner, mengatakan bahwa menajemen adalah proses untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Sulistyorini, mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses
penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumber daya
manusia muslim dan manusia dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan
pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Senada sebagaimana pengertian di
atas, Muhaimin mengatakan bahwa manajemen pendidikan Islam adalah bagaimana
menggunakan dan mengelola sumber daya pendidikan Islam secara efektif untuk
mencapai tujuan pengembangan, kemajuan, dan kualitas proses dan hasil
pendidikan Islam itu sendiri.[20]
Menurut Abduh, tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah
membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan
fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai
dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Keberhasilan pelaksanaan
penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan tujuan tergantung pada proses
manajerial yang terdapat di dalamnya.[21]
Berdasarkan paparan
diatas, maka dapat didefinisikan bahwa manajemen pendidikan islam sebagai suatu
proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam degan melibatkan sumber daya
manusia muslim yang berkualitas dan manusia dalam mengembangkan potensinya agar
tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Sebagai tokoh muslim
yang fenominal, kiai Muh. As’ad Umar dikenal sebagai tokoh spiritual dan tokoh
politik yang memiliki kharismatik manajerial, Selain itu juga beliau memiliki
segudang semangat untuk merubah tradisi pesantren yang seringkali dikesankan
oleh masyarakat sebagai tempat yang kumuh dan terbelakang, dengan cara membuka
lembaga pendidikan formal bagi santrinya.[22]
Metode
Penelitian
Metode
penelitian merupakan langkah yang digunakan peneliti untuk menemukan jawaban
atas persoalan-persoalan yang akan diteliti dilapangan. Oleh karena penelitian
ini merupakan studi tokoh, maka kajian dan pembahasannya akan diuraikan dan
dijelaskan secara lengkap tentang berbagai aspek individu, gagasan, organisasi,
program atau situasi social [23] Secara umum
pendekatan penelitian ini akan diperoleh data melalui du acara yaitu: studi
teoritis dan studi empiris. Studi teoritis dicapai dengan cara mengkaji dan
menelaah buku-buku dan sumber-sumber pustaka lainnya yang relevan dengan judul
penelitian. Sedangkan studi empiris diperoleh melalui kajian secara mendalam
mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan. Dalam melaksanakan
penelitian ini pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan
empiris, yang kemudian lebih dispesifikkan pada metode studi kasus. Studi kasus
adalah suatu usaha yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam
terhadap obyek tertentu. Studi kasus dapat diartikan sebagai suatu bentuk
fenomena yang terjadi mengenai seseorang tokoh, baik mengenai latar belakang
kehidupan, gagasan maupun perjuangan dan manajemennya dalam pendidikan Islam.
Adapun
studi kasus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengkajian
mengenai, manajeman, inovasi, latar belakang dan keunggulan
seseorang dalam memberikan perannya terhadap pengelolaan suatu lembaga
pendidikan Islam. Sedangkan pendekatan yang lain adalah
pendekatan teoritis yang dilakukan dengan memadukan literature yang ada dengan
keadaan yang sesungguhnya untuk mencari data yang valid untuk dipaparkan dalam
penelitian ini.
Dalam
penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif oleh karena itu penelitian ini
menggunakan desain yang sangat fleksibel dengan data yang bebas, penelitian
kualitatif lebih terbuka untuk memunculkan hal-hal yang baru dan menghasilkan
data deskriptif. Ciri penelitian kualitatif menurut muleong adalah berakar pada
alamiah (apa adanya) sebagai sesuatu yang utuh, menghandalkan manusia sebagai
alat penelitian, menggunakan metode kualitatif, analisis data secara induktif,
lebih mementingkan proses dari pada hasil, rancangan penelitian bersifat
sementara, bersifat deskriptif dan hasil penelitian disepakati kedua belah
pihak, yaitu peneliti dan objeknya.[24]
Sementara,
menurut arikunto, pendekatan kualitatif deskriptif pada umumnya merupakan
penelitian non hipotesis, sehingga dalam langkah penelitian tidak diperlukan
hipotesis, akan tetapi lebih bersifat eksploratif (mencari informasi/ penyelidikan
yang mendalam) agar dapat menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena tertentu.[25] Atas dasar ini maka penelitian ini didasarkan pada
pendekatan fenomenologis, yakni suatu usaha yang dilakukan untuk menemukan
kembali pengalaman dasariyah, berupa latar belakang dan menejemen yang anaut
oleh seseorang, baik yang menyangkut masalah pendidikan, ekonomi, politik
maupun kehidupan dalam suatu komunitas. Tujuan dari jenis
penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan yang sistematis, factual dan
akurat mengenai fakta-fakta tertentu. Oleh karena itu dalam penelitian ini
tidak dibutuhkan tes hipotesis untuk mendapatkan makna dan implikasinya, tetapi
yang dibutuhkan adalah mengumpulkan dan menjelaskan data, menganalisis serta mengintrepretasikannya dengan tepat.
Dalam
penelitian kualitatif ini penulis lebih berorientasi pada penggalian data atau tepatnya
refrensi bersumber dari hasil wawancara (interview) observasi (Observation)
dan dukomentasi yang ada. Sebagai instrument, sehingga data yang dihasilkan
data deskriptif, yaitu berupa kata-kata, tertulis atau lisan dari sumber
informasi atau perilaku yang terus diamati dalam pengembangan manajemen
pendidikan Islam. Menurut Moleong, kendala utama dalam mengumpulkan data
penelitian kualitatif adalah cara pendekatan ke subjek kajian, hal ini
disebabkan kesulitan menghilangkan motif pribadi dan keengganan menelusuri data
dilapangan dengan cara yang benar dan sebagainya.[26]
Selain
wawancara secara mendalam, peneliti juga mengadakan observasi dan memerlukan
data dokumentasi serta catatan-catatan lain yang mendukaung untuk
mendiskripsikan data, apabila data yang diperoleh kurang tepat dan tidak valid,
maka interpretasinya bias kabur atau meragukan. Pengamatan juga tidak boleh
hanya fenomena sekilas yang hanya tampak kulitnya saja, walaupun demikian
penggunaan bahan dokumentasi atau foto dan yang sejenisnya perlu untuk
dikritisi. Observasi dan interview merupakan data primer sedangkan dokumentasi
merupakan data sekunder.
Biografi KH. Muh. As’ad Umar
KH. Muh. As’ad Umar
Lahir pada 18 Agustus 1933 di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan
Jombang. Pondok Pesantren
Darul ‘Ulum Termasuk Pondok tertua setelah Tebuireng di Kabupaten Jombang.
Lokasi Pondok Pesantren Darul ‘Ulum di dusun pesantren desa Peterongan
Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang. Pondok Pesantren Darul ‘Ulum dikalangan
masyarakat sekitarnya dikenal dengan nama pondok Njoso atau Pondok Terongan. Pesantren ini terletak
pada kilometer 6 arah timur Kabupaten Jombang. Secara geografis letak Pesantren
Peterongan sangat strategis karena terletak 300 m dari jalan raya
Surabaya-Kediri-Jogyakarta dan 50 m dari stasiun kereta api pembantu
peterongan.
Kiai As’ad menikah
dengan Hj. Azzah pada tahun 1960 dan dikaruniai 8 orang putra-putri, yaitu: Pertama,
H.M. zaimuddin Wijaya As’ad, MS, alumni S1 dan S2 FISIP UGM, sekarang beliau
menjabat sebagai ketua Yayasan Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum dan pengasuh asrama
hurun ‘in di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Kedua, Dr. dr. H.M.
zulfikar As’ad, MMR, alumni S1 dan S2 UGM, S3 FKM Unair Surabaya, beliau
sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor Bid. SDM dan UMUM Unipdu, Direktur RSUM
dan Pengasuh asrama As’adiyah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Ketiga, Drs. H.
M. Zainul Ibad As’ad, alumni IAIN Surabaya dan sekarang menjabat sebagai
pengasuh dan penasehat Yayasan Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang. Keempat,
Dra. Hj. Niswah Qanita, alumni IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta, sebagai pengasuh
asrama Muzamzamah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Kelima, H.M. Dzulhilmi As’ad,
S. Ag, alumni IAIN Sunan kalijaga Jogyakarta, seorang novelis dan pengasuh
asrama al-Falah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Keenam, M. Zahrul Jihad, M.S.I,
alumni Universitas Negeri Jember, dosen dan pengasuh asrama Pondok Tinggi Darul
‘Ulum Jombang. Ketujuh, Uswatun Qayyimah, SS, M.Sc., Phd., akademisi dan
dosen pascasarjana Unipdu Jombang. Kedelapan, M. zahrul Azhar, S.Ip.,
M.kes., Direktur Utama TV Nusantra dan Pengasuh asrama Queen Darul ‘Ulum
Jombang.
Pendidikan masa
mudanya diperoleh dari ayahandanya KH. Umar Tamim dan paman-pamannya di Darul
‘Ulum sampai tingkat SMA. Sebagaimana kebanyakan putra-putra kyai, selepas SMA
Muh. As’ad melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren, antara lain di
pondok al-Mu’ayyat Solo. Dan pada tahun 1958 beliau menimba ilmu di Perguruan Tinggi
Agama Islam (PTAIN) Jogjakarta sambal mondok di krapayak di bawah asuhan KH.
Ali Ma’sum. Namun tidak sampai meraih gelar sarjana, karena keburu dipanggil
ayahandanya untuk membantu mengelola pesantren[27].
Sepulang dari
Jogjakarta kiai ini tidak hanya membantu mengelola pesantren saja, tetapi juga
terlibat di beberapa organisasi sosial dan keagamaan, antara lain pada tahun
1959, beliau sudah dipercaya sebagai ketua PERTANU Kabupaten Jombang. PERTANU adalah
organisasi pertanian di bawah
payung Nahdlatul Ulama’
(NU). Setahun kemudian yakni pada tahun 1960 beliau menjabat ketua Dewan
Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Kabupaten Jombang.
Karir organisasi
semakin meningkat setelah pada tahun 1969-1971, ia duduk sebagai anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, perwakilan dari kader NU. Lalu
1975-1997 ia kembali menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari Golkar. Salah satu
alasan beliau masuk Golkar kala itu adalah ruang politik partai persatuan
pembangunan (PPP) sudah terlalu “sumpek” Dalam konteks ini juga, Kiai As'ad
melihat Partai Golkar (dahulu Golkar) lebih nyata memperjuangkan kepentingan
umat dibandingkan dengan dua partai lainnya (PPP dan PDI) pada era rezim Orde
Baru.[28]
Dan yang perlu
menjadi catatan sejarah, pondok pesantren yang pertama kali masuk golkar adalah
Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang.
Hijrahnya Kiai As’ad ke Golkar mengikuti jejak saudara sepupunya yaitu Kiai H.
Musta’in Romly, kepindahannya ke partai golkar telah memberi keuntungan yang
besar terhadap perkembangan pondok pesantren ini. Bahkan di akhir rezim
Soeharto kiai As’ad sempat menjadi anggota DPR Republik Indonesia.[29]
Tidak hanya
dibidang oragnisasi dan politik saja. Kiai As’ad, berkiprah juga di bidang
pendidikan. Berangkat dari keprihatinan kiai As’ad terhadap anggapan orang
selama ini pada santri yang selalu dikesankan kumuh dan terbelakang, telah
menggugah semangat beliau untuk mendobrak tardisi pesantren. Maka jalan yang
ditempuh adalah dengan membuka pendidikan umum pada para santrinya. Ia pun
mendirikan SMA Unggulan, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah
Negeri (MTs.N), MA Program Khusus, SMK DU, SMK Telkom, MAN, SMPN 3 DU. Untuk meningkatkan
kualitas santri ia pun mendirikan AKPER, AKBID, STAIDU, STIBA pada tahun 2011 marger menjadi
Unipdu. Bahkan untuk menunjang sarana kesehatan santri ia juga membangun Rumah
Sakit (RS) Unipdu Medika dilahan seluas satu hektar.[30]
Seiring dengan
senjanya usia, kiai as’ad sejak juni 2004 tidak lagi terjun diranah politik
praktis dan memilih keluar dari keanggotaan golkar. Keputusan ini didasari dua alasan
yaitu, pertama, paradigm partai sudah tidak mengakomudasi kiai dan
‘ulama’ dan kedua, ingin kembali mengurus pondok pesantren yang lebih
intensif.[31]
Keinginan beliau
kembali untuk mengurus pondok pesantren secara intensif benar-benar dilanjutkan
sampai akhir hayatnya. Hal ini dapat dilihat dari semangat beliau yang tak
pernah surut meski menderita stroke. Setelah kurang lebih 5 tahun beliau
menderita stroke, pada 5 desember 2010 beliau pulang ke rahmatullah dengan
meninggalkan banyak kenangan dan harapan. Diantara harapan kiai Muh. As’ad Umar
yang mengispirasi para penerusnya adalah mempersiapkan santri dan mahasiswa
unipdu menjadi intelektual yang tafaquh fi al-ddin, berazaz manfaat, berfikir
cepat, bertindak tepat dan berdzikir kuat.[32]
Peran
dan Pola Kepemimpinan KH. Muh. As’ad Umar
Pola kepemimpinan kolektif di Pondok Pesantren Darul Ulum sudah
dijalankan sejak masa-masa pembibitan dan penanaman dasar-dasar berdirinya
Pondok Pesantren (antara tahun 1885-1937). Pemimpin pertama yang mendirikan
pendidikan ini adalah KH Tamim Irsyad dan dibantu KH Cholil sebagai mitra kerja
dan sekaligus menjadi menantunya. Kerja sama keduanya juga tidak hanya pada
pengelolaan Pesantren saja tetapi juga pada pembidangan pengajaran di Pondok
Pesantren, KH Tamim membidangi ilmu-ilmu syariat sedangkan KH Cholil membidangi
ilmu tasawuf dan tarekat. Sehingga sesungguhnya embrio kolektivitas
kepemimpinan dalam pengelolaan lembaga di Pondok Pesantren Darul Ulum sudah ada
sejak masa perkembangannya yang paling awal. Oleh karena itu tipe kepemimpinan
yang dikembangkan oleh Kiai As‟ad adalah rational-collective-managerial (manajemen
kolektif rasional), karena pada dasarnya sikap yang dikembangkan KH Muh. As‟ad Umar
dibanding dengan kiai-kiai sebelumnya di Pondok Pesantren Darul Ulum lebih
bersifat rasional. Kiai As‟ad bukanlah alim ulama yang senantiasa identik dengan
kajian-kajian kitab Islam klasik dan spiritual. Mereka senantiasa memecahkan
masalah secara rasional, bahkan menggunakan metode tertentu untuk memecahkan masalah
kepesantrenan. Bahkan sering kali para kiai di Pondok Pesantren Darul Ulum
berperan sebagai manajer pendidikan pesantren yang efektif dengan memanfaatkan
SDM dari luar pesantren. Ini seperti yang juga dilakukan oleh KH Muh. As‟ad Umar.
Kiai As‟ad bukanlah orang yang secara original pemimpin pendidikan, sebab
ia tidak memiliki background pendidikan dan kualifikasi pendidikan
apalagi membuat perencanaan pembangunan, ia hanya seorang lulusan SMA yang
sempat mencicipi pendidikan tinggi beberapa semester saja. Namun visinya dalam
memandang tuntutan zaman, utamanya di bidang pendidikan jauh melampui kemampuan
generasi di zamanya. Kiai As‟ad membagi kewenangan kepemimpinan secara kolektif kepada Majelis
Pimpinan Pondok Pesantren yang berjumlah 8 orang yang penentuannya berdasarkan
musyawarah sesuai dengan keilmuan secara genealogis keterwakilan keluarga
putra-putri pendiri partama Pondok Pesantren.[33]
Inovasi KH. Muh As’ad Umar dalam Pengembangan Lembaga
Tentutan masyarakat akan layakan dalam menyelenggaraan
pendidikan menyebabkan pimpinan Darul Ulum berupaya secara maksimal membangun
sarana fisik demi menunjang santri didik mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan. Usaha pembangunan fisik bias dilihat dari penambahan ruang kelas
dan perkuliahan asrama dan ruang penunjang. Pada tahun 1986 dibangun
perkuliahan fakultas hukum dan teknik di jombang, ada tahun 1987gedung fakultas
tarbiyah di JL. Rejoso Peterongan pada tahun 1990 gedung pertemuan UNDAR berdiri
dengan kapasitas 2000 orang.
Sementara di pondok pesantren Darul Ulum selama
berturut-turut dibangun gedung SMA Darul Ulum, tahun 1986 bersama gedung asrama
Ibnu Siena, pada tahun 1987 dibangun SMA putri bersama dengan asrama Raden
Ahmad, pada tahun 1989 MAN Rejoso
Jombang 7 lokal dan MTsN 5 lokal bersama dengan asrama Bani Tamim dan Al
Ghozali. Dan terkhir pada tahun 1992 dibangun gedung Akademi Perawatan Darul
Ulum, dibangu juga gedung SMK Telekomunikasi Darul Ulum dan Gedung MA Unggulan
Darul Ulum.
Pada tahun 2000 Dibangun Kampus Utama Universitas
Pesantren Tinggi Darul Ulum (unipdu), dibarengi dengan pembagunan Islamic
Center Unipdu, serta Didirikannya Rumah Sakit Unipdu Medika. Pada tahun 2003
juga dibangun gedung SD Plus Darul ‘Ulum yang terletak di kota Jombang.
Temuan-Temuan Hasil Wawancara
Dari beberapa
wawancara atau diskusi dengan dzurriyah dan asatidz dalam penelitian ini dapat
menghasilkan temuan-temuan tentang manajemen Pendidikan Islam presfektif KH.
Muh. As’Ad Umar, sebagai berikut,:
Pertama, Abdul Mu’in
Hasanuddin[34], mengemukakan bahwa ada lima perkara penting yang
diterapkan oleh kiai As’ad dalam perencanaan yaitu: Konsep yang tersusun dengan
mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal. Fokus terhadap tujuan yang
akan dilakukan, tanpa banyak wacana. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk
tujuan. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai. Bertanggungjawab atas apa yang direncanakan dan dilakukan
Ketika menyusun sebuah
perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai
tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas
target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target
kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara
seimbang. Sebagaimana do’a yang
selalu diamalkan oleh beliau
Kedua, Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan
Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten
dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan,
keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara
konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat
membantu bagi para manajer pendidikan Islam.
Seperti yang
dilakukan oleh kiai Muh. As’ad Umar,[35]
yaitu membagi kewenangan kepemimpinan secara kolektif kepada majelis pimpinan
pondok pesantren yang berjumlah 8 orang merupakan representasi dari keluarga
putra-putri pendiri pertama pondok pesantren,[36]
yang penentunya berdasarkan musyawarah sesuai dengan bidang keilmuan yang
berbeda-beda, tetapi tetap mendapatkan hak dan kewajiban yang sama.
Ketiga, Pada kasus kepemimpinan kiai Muh. As’ad Umar yang
bersifat kolektif merupakan hal yang unik pada kepemimpinan sebelumnya dengan
kepemimpinan tunggal, dan bukan hanya dari dzurriyah (keluarga) akan
tetapi keterlibatan santri, alumni dan bahkan tenaga profesional dari luar
pondok pesantren.[37]
Seperti yang diterapkan oleh Kiai Muh. As’ad
Umar dalam menentukan kepala sekolah pada lembaga pendidikan Islam yang ada di
Pondok Pesantren Darul ‘Ulum tidak diperkenankan berasal dari dzurriyah
(keluarga) atau putra-putri majelis,[38]
dengan harapan agar pelaksanaan manajemen dan pengembangan lembaga berjalan
dengan baik, rapi dan transparan.
Keempat, Kiai Muh. As’ad Umar dalam menentukan kebijakan sangat
terbuka dan mengutamakan konsistensi lembaga pendidikan Islam, Misalnya kiai
As’ad berusaha keras untuk mengangkat derajat kaum muslimin utamanya warga
nahdiyin yang mayoritas pengikutnya adalah orang pesantren, beliau sering
memberikan motivasi kepada para santrinya agar tetap optimis dapat bersaing
secara positif dengan lembaga pendidikan diluar pesantren.[39]
Kelima, Kesederhanaan kiai As’ad inilah yang membuat para santri
dan pengelola lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum termotivasi
untuk selalu mengadakan inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan Islam
dengan mengikuti arus globalisasi. Dengan kemampuannya beliau dibidang keuangan
dan sarana prasarana, lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum
memiliki manajemen keuangan dan sarana prasarana yang baik, teratur, dan
terarah secara integral, sehingga mempengaruhi pola kepemimpinan beliau dan
berdampak positif pada perekembangan lembaga pendidikan Islam yang ada di
Pondok Pesntren Darul ‘Ulum.[40]
Kesimpulan.
Berdasarkan
penelitian yang penulis lakukan melalui tahapan pengumpulan data pengolahan
data serta analisis data maka, penulis selanjutnya dapat menarik kesimpulan
dari penelitian berjudul “Manjamen Pendidikan Prespektif KH. Muh. As’ad Umar”
sebagai berikut;
Pertama,
Perencanaan pendidikan Islam harus berorientasi pada kebaikan yang mementingkan
kemashlahatan bersama, harus ada profesionalisme pada pembagian kerja dan
tugas, dalam job analisis. Kiai As’ad dalam merencanakan program tersusun
dengan baik dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal.
Kedua,
Manajemen kiai As’ad Umar secara kolektif, dengan membagi hak dan kewajiban yang
sama sesuai dengan bidang keilmuan yang berbeda-beda dan manajemen keuangan
secara integral, sehingga memudahkan kontrol.
Ketiga,
Pengawasan dilakukan secara berkala dan menjadi rutinitas, agar program yang
direncanakan berjalan sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Keempat, Kiai
As’ad mampu dalam membangun sistem kaderisasi kepemimpinan dan menjaga
nilai-nilai dan kebermutuan pendidikan Islam kiai As’ad juga dapat berperan
sebagai inovator, motivator, komunikator dan dinamisator yang efektif
Daftar Pustaka
Al Qozwini, Abu
Abdillah, bin Yazid, Muhammad. Sunan Ibnu Majah, Jilid II, Beirut.
Arikanto,
Suharmin. 1993. Prosedur Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta,).
Arikunto,
Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (jakarta:
Rineka Cipta,).
Bogdan &
Taylor dalam Siswono, 2016. “Sumber data dalam penelitian”, dalam
tttps://www/blog.spot.com.
Departemen Agama
RI, Al Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci.
Katalog Dalam
Penerbitan Republika, wong Jawa Timur.
Lexy J. Moleong,
1998. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,).
Mahmud, Dr. Kata
Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,
2014. PT Remaja Rosydakarya).
Marimba, Ahmad,
1989. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Al Ma’arif, Bandung,).
Mahmud, 2014. Kata
Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,
PT Remaja Rosydakarya).
Manaf, Sofyan, H.
2001. Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI,).
Prastowo, Andi.
2011. “Teknik Pengumpulan Data” dalam http://www./blogspot.com.
Qomar et,. 2003.
Al, Mujamil, Meniti Jalan Pendidikan Islam,
Sulistyorini. 2005.
Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung,
Sahran. 2006. Pemikiran
Pendidikan Muhammad Abduh Sebagai Strategi Modernisasi. Makalah dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
Suriasumantri, S.
Jujun Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular, (Jakarta: Pustaka sinar
harapan, 2009).
Wahjosumidjo, 1987. Kepemimpinan Dan Motivasi,
(cet.3; Jakarta : Ghalia Indonesia,).
Mahmud, Dr. 2014. Kata
Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,
PT Remaja Rosydakarya).
Syukran Nafis, Ahmadi H. 2011.Manajemen
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo,).
wahyudi, Imam. 2012. Pengembangan
pendidikan (Strategi Inovatif dan Kreatif dalam Mengelola Pendidikan Secara
Komprehensif ), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,).
Qomar, Mujamil. 2007. Manajemen
Pendidikan Islam, (Malang: Erlangga,).
Syukran Nafis, Ahmadi H. 2011. Manajemen
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo,).
Hendri, Didin. 2003.Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani,
Jakarta
Sulistyorini.
2005. Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung,
Ramayulis, 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia,
Jakarta,
Qomar, Mujamil. Manajemen
Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta,
Qomar, Mujamil.
et. al, 2003. Meniti Jalan Pendidikan Islam, P3M STAIN Tulungagung
dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Marimba, Ahmad.
1989. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Al Ma’arif, Bandung,).
Mahmud, 2014. Kata
Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,.
PT Remaja Rosydakarya).
Departemen Agama
RI, Al-Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an,
1979/1980.
Muhammad bin Yazid
Abu Abdillah Al Qozwini, Sunan Ibnu
Majah, Jilid II, Beirut.
Manaf, Sofyan H., 2001.
Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI,)
Wahjosumidjo, 1987.
Kepemimpinan Dan Motivasi, (cet.3; Jakarta : Ghalia Indonesia,)
Katalog Dalam
Penerbitan Republika, wong Jawa Timur,.
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung:
Nuansa Baru,).
Gunawan, Heri. 2014.
Pendidikan Islam
Kajian Teoritis Dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya,).
Syalabi, Ahmad 1945.
Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyat, (Kairo:
al-Kasyaf,).
Ibnu Abdullah. Muhammad bin Ahmad al-Anshary
al-Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, Juz 1, (Kairo: Dari al-Sya’biy.tt).
An-Nahlawi,
Abdurrahman 1992. Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung:
CV. Diponegoro,).
al-Thoumy
al-Syaibani, Omar Muhammad. 1979.
Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,).
Heri Gunawan, 2014.
Pendidikan Islam Kajian Teoritis Dan
Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,).
Arsip YAPETIDU
SD Plus Darul Ulum,
merupakan unit pendidikan yang berada diluar lingkungan PP. Darul Ulum,
tepatnya beralamat di jl. Sultan Agung No 3 Jombang.
Rasyid Ridha, Muhammad, Tafsir al-Qur’an al-hakim; Tafsir al-Manar,
Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, tt)
Fatah Jalal, Abdul.
1988. Azaz-azaz Pendidikaan Islam,
Terj. Harry Noer Ali, (Bandung: CV Diponegoro).
Pendapat
Al-Abrasyi ini yang mendapat banyak dukungan dari para pemikir pendidikan,
termasuk para pemikir pendidikan Islam
Indonesia.
Gunawan, Heri. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan
Pemikiran Tokoh. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
Nuquib al-Attas, Muhammad.
1994. Konsep Pendidikan Islam, terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan).
Muhammad at-Toumy al-Syabany, Oemar,. 1979. Falsafah Pendidikan Islam,
(Jakarta, Bulan Bintang,).
Martoyo,
Susilo. 1988. Pengetahuan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan, (Yogyakarta:
BPFE,)
H. Muhalimin.
Prof.Dr., M. A, Dr.Hj. Suti’ah, M.A, Dr. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd. Manajemen
Pendidikan,).
Tim Dosen
Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan,
Departemen Agama RI, Al-Qur‘an
dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci.
Mulyana, Deddy.
2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, (bandung. PT Remaja Rosdakarya).
Lexy J Muleong, 1991.
Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
PT. Rosda Karyua,)
Arikunto, S., 1994.
Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan
Praktek, (Jakarta: Reneikab Cipta,).
Moleong, Lexy J.
1998. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,)
Arikunto, Suharsini.
2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (jakarta: Rineka
Cipta,)
Jujun. S.
Suriasumantri, 2009. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular, (Jakarta:
Pustaka sinar harapan).
Suharsini Arikunto, 1998. Prosedur
Penelitian, Jakarta: Renika Cipta,
Prastowo, Andi (oktober
2011). “Teknik-Pengumpulan Data” dalam http://www./blogspot.com.
Nurul Zuriah.
Penelitian Tindakan, (Malang: Bayu Media 2003)
Lexy I, Moleong, Metodelogi
Penelitian Kualitatif, hlm. 103
Mudjia Rahardjo, Triangulasi Dalam Penelitian Kualitatif,
dalam http://www.
Mudjiarahardjo.com/artikel/270.html.diakses tanggal 30 Juni 2014
Dikutip dari
website darul ulum http://darululum.net.
dengan sedikit penambahan dan perbaikan)
Hasil wawancara
dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang,
pada Tanggal 20 Juli 2016,
Katalog Dalam
Terbitan Republika, Wong Jawa Timur Berpengaruh, (2005) hlm. 30
Hasil wawancara
esklusif dengan Abdullah Rikza, salah seorang ustadz dan juga murid kiai As’ad
pada tanggal 10 Juni 2016 pukul: 14.00 WIB
3 B, merupakan
falsafah kiai As’ad umar yang sampai saat ini masih menjadi slogan dan motivasi
para penerusnya.
M. Dahlan Al Barry, Pius A Partanto, , 1994. Kamus ilmiah Populer,
(Surabaya; Arkola,)
Sahran, 2006. Pemikiran Pendidikan
Muhammad Abduh Sebagai Strategi
Modernisasi, makalah dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
Hasil wawncara dengan Abdul Mu’in, pada tanggal 15 Juli
2016, santri senior dan pegawai PP Darul
‘Ulum Peterongan Jombang
Terry, George R. 1956. Principles of Management,
(New York: Irwin,).
Astutik, Puji. 2007. Makalah Pemikiran Filosofis Tentang
manajemen Pendidikan Islam,
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam,
(Bandung: Nuansa Baru,).
Bukhari, M. DKK, 2005.
Azas-Azas Manajemen, (Aditya Media, Yogyakarta:)
Hasil wawancara
dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang,
pada Tanggal 20 Juli 2016.
Hafidudin Didin
dan Tanjung Hendri, 2003. Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema
Insani, Jakarta.
Ramayulis, 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta.
Hasil wawancara
tidak langsung dengan Abdulllah Rikza, seorang
santri senior. pada tanggal 10 Juni 2016
[1] Mahmud, Dr. Kata
Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,
2014. PT Remaja Rosydakarya) Hlm, 3
[2] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011),
hlm. 2.
[3] Imam wahyudi, Pengembangan
pendidikan (Strategi Inovatif dan Kreatif dalam Mengelola Pendidikan Secara
Komprehensif ), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2012) hlm. 66
[5] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011),
hlm. 2.
[6] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam,
(Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011),hlm. 11.
[11] Mujamil Qomar et. al, Meniti
Jalan Pendidikan Islam, P3M STAIN Tulungagung dengan Pustaka Pelajar Yogyakarta 2003, hlm. 23
[13] Mahmud, Kata Pengantar
Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, 2014. PT Remaja
Rosydakarya) hlm, 1.
[15] Departemen Agama RI, Al-Qur‘an
dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci
Al-Qur’an, 1979/1980.
[18] H. Sofyan Manaf, Pola Manajemen
Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam Depag RI, 2001), hlm.1.
[21] Sahran.
Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Sebagai Strategi Modernisasi.
Makalah 2006. dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
[23] Deddy Mulyana. Metodologi
Penelitian Kualitatif, (bandung. PT Remaja Rosdakarya 2001). Hlm. 201
[25] S. Arikunto, Prosedur Penelitian,
Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Reneikab Cipta, 1994), hlm. 28.
[30] Hasil wawancara esklusif
dengan Abdullah Rikza, salah seorang ustadz dan juga murid kiai As’ad pada
tanggal 10 Juni 2016 pukul: 14.00 WIB
[31] Kedua alasan ini sering
disampaikan oleh kiai As’ad kepada beberapa tamu yang berkunjung di pondok
pesantren darul ‘ulum, ketiak beliau ditanya tentang alasan pengunduran dirinya
dari partai polik praktis, ustadz rikza (santri kiai As’ad)
[32] 3 B, merupakan falsafah kiai Muh.
As’ad Umar yang sampai saat ini masih menjadi slogan dan motivasi para
penerusnya.
[33] KH Tamim Irsyad memiliki 2 orang putra dan seorang putri, yaitu KH
Romly
Tamim, KH Umar Tamim dan Nyai Fatima. Dari ketiga putra putri ini diambil
representasi keterwakilan masing-masing Bani (keturunan). Anak laki-laki diwakili 3
orang dan anak perempuan diwakili 2 orang.
Tamim, KH Umar Tamim dan Nyai Fatima. Dari ketiga putra putri ini diambil
representasi keterwakilan masing-masing Bani (keturunan). Anak laki-laki diwakili 3
orang dan anak perempuan diwakili 2 orang.
[34] Seorang santri Darul
‘Ulum Tahun 1965, sekaligus tokoh masyarakat yang masih memiliki hubungan
dengan obyek penelitian, beliau sebagai santri dan juga salah satu dewan guru
di lingkungan pondok pesantren darul ‘ulum serta berperan selama periode
kepemimpinan kiai As’ad.
[35] Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan
, Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016,
[36] KH. Tamim
Irsyad Memiliki 2 orang putra dan seorang putri, yaitu KH. Romly Tamim, KH.
Umar Tamim dan Nyai fatima, dari ketiga putra putri ini diambil represntasi
keterwakilan bani, anak laki-laki diwakili 3 orang dan anak perempuan diwakili
2 orang
[37] Hasil
wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum
Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016, “dalam rekrutmen tenaga pendidik
mengutamakan alumni agar nilai-nilai dan kualitas tetap terjaga dengan baik.
[38] Hasil wawancara dengan Abdul Mu’in
Hasanuddin , pada Tanggal 15 Juli 2016, seorang santri senior dan juga
salah satu pengurus di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum
[39] Hasil
wawancara dengan ibu Nyai Azzah As’ad pada tanggal 20 Juli 2016 di kediaman,
dalam penjelasan beliau....... “meski hanya punyak uang sedikit”.
[40] Hasil
wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum
Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016, “kiai sepuh itu besar sekali pengaruhnya
pada tim, sama halnya dengan pondok, jika kiainya itu mahir dibidang kitab maka
pondoknya juga dinamakan pondok kitab.