Senin, 07 Januari 2019

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PRESPEKTIF KIAI MUH. AS’AD UMAR


Bakri
Manajemen Pendidikan Islam
Bakri1 Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA.2 Dr. H. M. Ansor Anwar.3


Abstrak: Penelitian ini berangkat dari adanya animo masyarakat Indonesia terhadap sekolah Islam dikatakan lebih rendah dibanding animo terhadap sekolah umum. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab ialah, mengapa hal itu bisa terjadi? Barangkali hal itu disebabkan oleh kompleksitas problematika pendidikan Islam sangat tinggi. Beberapa problem tersebut antara lain adalah problem manajemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar madrasah (sekolah) yang ada masih dikelola dengan manajemen ”apa adanya” (manajemen tradisional). Bermula dari keadaan inilah penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam manajemen pendidikan Islam perspektif kiai muh. As’ad umar. Penelitian ini bertujuan 1) Untuk menggambarkan paradigma manajemen pendidikan Islam, sekaligus mendeskripsikan pemikiran para tokoh pendidikan Islam, tentang manajemen pendidikan Islam. 2) Untuk menjelaskan manajemen pendidikan Islam perspektif kiai As’ad Umar. 3) Untuk membuktikan keunggulan manajemen pendidikan Islam Kiai. Muh. As’ad Umar.
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode observasi, interview (wawancara), dan dokumentasi, yaitu berupa buku-buka klasik, jurnal, serta beberapa pandangan para tokoh yang berkaitan dengan penelitian tersebut.. Sedangkan data sekundernya adalah buku, majalah, artikel atau tulisan yang berbicara tentang manajemen pendidikan Islam Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan empiris, yang kemudian lebih dispesifikkan pada metode studi kasus. Studi kasus adalah suatu usaha yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap obyek tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Manajemen organisasi kiai As’ad dilaksnakan secara kolektif, hak dan kewajiban sama tapi tugas dan wewenang yang berbeda-beda sesuai dengan bidang keilmuannya, 2) Dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam kiai As’ad berperan sebagai inovator, motivator, komunikator dan dinamisator yang efektif. 3) Kiai As’ad mempunyai kemampuan mengomunikasikan dan mengimplementasikan visi secara baik dan tepat sehingga memungkinkan terlaksananya peran mananjer yang berhasil dalam menciptakan komitmen terhadap nilai-nilai dalam menejemen pendidikan Islam.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah bagaimana para pendidik, pengelola lembaga pendidikan Islam, dan semua praktisi pendidikan untuk dapat lebih meningkatkan pengetahuan tentang manajemen pendidikan Islam, termasuk tentang manajemen pendidikan yang berdasarkan pada ajaran Islam

Kata Kunci: Manajemen Pendidikan, Kiai Muh. As’ad Umar.
Abstract: 
Islamic  education management based on KH, Muh As’ad Umar view.  Thesis unpublished postgraduate program. Unipdu Jombang 2016.

This research set out of an existing view of Indonesian people that Islamic education has lower interest than public school.  This phenomenon reveals question to be answered that why it happened. Perhaps it was caused by the elevation of Islamic education problems such as management crisis. It is common knowledge that Islamic education still uses traditional management. Thus, it inspires the writer to carry out the research about Islamic education management based on KH Muh As’ad’s   point of view. It aims 1) to describe Islamic management education paradigm and Islamic leaders thinking on the education. 2) to explain Islamic management education based on KH Muh As’ad Umar Point of view. 3) To prove the superiority Islamic education management of  Kh. Muh. As'ad Umar
This research applied qualitative approach  with observation method, interview, and documentation such as classical book, journal and Islamic leader opinion. While, the secondary data were  article, magazine and writing which discuss about Islamic education management. It applied also empirical approach to specify the research into case study. The case study is an attempt conducted intensively, detailed and in-depth on a particular object
Research results show that 1) Organization management of Kiai As'ad held collectively, the rights and obligations are the same but the duties and authority vary according to their field. 2) KH. Asad Umar has been acted as innovator, motivator, communicator, and the mover of developing Islamic institution. 3) KH. Asad Umar has the ability to communicate and implement the vision well and right and enable to succeed manager role in creating a commitment to the values of Islam in education management.
A recommendation from a this research is how educators, Islamic educational institutions  headmaster and all education practitioners are able to further enhance the knowledge of Islamic education management, including the management of education based on Islam.
 
Keywords: Islamic  education management, based on KH, Muh As’ad Umar view

Pendahuluan
Sebagai manusia yang sengaja diciptakan oleh Allah SWT dengan beberapa potensi yang dimilikinya baik secara jasmani (fisik) maupun rohani (jiwa), dengan kefitrahannya tentu membutuhkan proses agar potensi yang dimiliki manusia dapat berkembang secara alamiah. Manusia tumbuh berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap, demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat. Pola perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”
Dalam proses perkembangan manusia, pendidikan sangat dibutuhkan sebagai usaha membina dan mendidik manusia secara utuh (kaffah) dan seimbang (tawazun), baik aspek rohani maupun jasmani, juga harus berlangsung secara bertahap. Dengan demikian, rupanya sangat tepat apa yang dikatakan oleh A. tafsir (2004)[1], bahwa tujuan pendidikan Islam adalah “memanusiakan manusia” (humanisasi). Artinya bahwa pendidikan Islam akan membawa manusia pada posisi yang sebenarnya sebagai “manusia”, yakni menjadi khalifatullah fil al-ardh (wakil Allah dimuka bumi) yang akan memakmurkan bumi ini dengan segala potensi yang dimilikinya, serta sekaligus menjadi seorang ‘abid (hamba) Allah yang selalu tunduk dan patuh kepada-Nya, baik dalam segi ucapan, tingkah laku, maupun pemikirannya.
Lembaga pendidikan Islam dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dari perkembangan zaman era modern. Tantangan yang dimaksud antara lain kehadiran negara-negara tanpa batas (bordeles) yang lebih populer dilabeli sebagai pergaulan global antar bangsa atau globalisasi dalam segala bidang. Termasuk didalamnya adalah kehadiran abad informasi dengan pembaruan teknologinya yang menjangkau setiap lembaga Islam.[2]
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Hal ini tidak terlepas dari masalah kebijakan pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar rakyat.[3] Pendidikan Islam di Indonesia keadaannya bermacam-macam sebagaimana Ahmadi H. Syukran Nafismengatakan bahwa lembaga pendidikan Islam ada yang awalnya mengalami kemunduran, kemudian bisa maju dengan pesat. Sebaliknya, ada sekolah atau madrasah yang awalnya maju, tetapi kemudian hampir gulung tikar. Ada yang awalnya maju dan tetap bertahan, sebaliknya ada juga yang awalnya dalam kategori ”la yamutu wala yahya” (mati tak mau, hidup enggan) dan tetap seperti itu. Empat kasus ini lebih karena factor manajemen daripada lainnya,meskipun faktor manajemen bukanlah faktor tunggal yang terlepas dari faktor-faktor lainnya.[4]
Suroyo dalam Ahmadi H. Syukran Nafis berpendapat bahwa lembaga pendidikan Islam jika diamati dan disimpulkan bahwa terkungkung dalam kemunduran, kekalahan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, perpecahan, dan kemiskinan, sebagaimana pula dialami sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non-Islam. Bahkan, lembaga pendidikan yang diberi embel-embel Islam, juga dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun dewasa ini secara berangsur-angsur banyak lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan yang signifikan.[5]
Masyarakat Indonesia memiliki animo terhadap sekolah Islam dikatakan lebih rendah dibanding animo terhadap sekolah umum. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab ialah, mengapa hal itu bisa terjadi? Barangkali hal itu disebabkan oleh kompleksitas problematika pendidikan Islam sangat tinggi. Beberapa problem tersebut antara lain adalah problem manajemen. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar madrasah (sekolah) yang ada masih dikelola dengan manajemen ”apa adanya” (manajemen tradisional). Kendati pemerintah telah mengeluarkan PP No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No.19/2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan, madrasah (sekolah) belum mengaplikasikan konsep manajemen fungsional yang modern dan manajemen strategik yang sudah diketahui sukses diaplikasikan dikalangan organisasi apapun.[6]
Kompleksitas problem lainnya lebih pada manusianya baik dari problem kepemimpinan maupun problem sumber daya manusianya dan juga problem finansial serta problem kelembagaanitu sendiri. Manajemen yang baik adalah manajemen yang mempunyai konsep dan sesuai dengan objek serta tempat organisasinya. Proses manajemen merupakan aktivitas yang melingkar, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, sampai dengan pengawasan. Manajemendalam pendidikan itu sangat penting, terutama dalam lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam harus mampu menciptakan bagaimana pelaksanaan manajemen pendidikan yang efektif dan efisien. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pengelolalembaga pendidikan Islam harus mampu memanfaatkan setiap sumber yang tersedia sesuai dengan perencanaannya.
Selain itu pendidikan Islam akan membawa manusia pada derajat ulul albab, yakni manusia yang berdzikir dan sekaligus berfikir, berfikir dan sekaligus berdzikir, hal ini sangat selaras dengan yang dikatakan oleh Kiai. Muh. As’ad Umar yaitu “berazas manfaat, berfikir cepat, berdzikir kuat dan bertindak tepat” disertai dengan aktualisasi diri dalam melakukan amal sholeh, berdo’a, dan tawadhu’ di hadapan Tuhannya, sebagaimana dikehendaki QS. Ali Imran ayat 190-191.
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan.[7] Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.
Pendidikan dalam Islam mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) sampai Perguruan Tinggi Islam, perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi”.
Dalam kehidupan berkeluarga, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara, manajemen merupakan upaya yang sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan yang salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia sudah semestinya mendapat perhatian khusus dalam hal manajemennya. Pendidikan yang baik merupakan tolok ukur bagi sebuah bangsa tau negara dalam hal kemajuan yang dicapai tidak terkecuali dalam Islam.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan persoalan yang sangat krusial dan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia, oleh karena itu Pendidikan sudah semestinya dikelola dan di manage dengan sebaik-baiknya. Manajemen pendidikan Islam merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat dari keterbelakangan baik secara moral, materi, dan spiritual.[8] Dalam Islam, manajemen adalah hal yang sangat penting. Hal ini tampak dalam ungkapan bijak’ “sesuatu yang haq yang tidak di organisir terkadang dikalahkan oleh sesuatu yang batil yang terorganisir”.
Dari uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti sejauh mana. ”Manajemen Pendidikan Islam Perspektif Kiai. Muh. As’ad Umar”.

Manajemen Pendidikan Islam
Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk selalu melakukan segala sesuatunya dengan baik, benar, rapih, teratur, dan tertib. Segala sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan sehingga menghasilkan sesuatu yang keluar dari target yang telah ditentukan. Melalui manajemen yang baik secara terarah dan tepat akan didapatkan hasil yang baik. Manajemen dalam kamus bahasa Indonesia adalah proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan Kamus Bahasa Indonesia, 2008:909). Ilmu manajemen sebenarnya dalam Islam sudah ada semenjak masa Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an, hadis Nabi serta para sahabat banyak menjelaskan tentang perlunya manajeman sebagai salah satu media dalam mempermudah mencapai tujuan. Al-Qur’an sendiri menganjurkan kepada manusia untuk memenej dirinya untuk menghadapi hari depan. Seperti yang terdapat dalam surat al-Hasyar: 18:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Menurut Muhammad Ali al-Shabuni, yang dimaksud ayat adalah hendaklah masing-masing individu memperhatikan amal saleh yang diperbuat untuk mengahadapi hari kiamat (Mujamil Qomar, ttl:30). Ayat di atas memberikan pesan yang amat jelas kepada orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Mereka harus pandai dan jeli untuk mengatur dirinya agar tidak terjebak dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang. Sehingga kelak ketika dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang telah dilakukannya semasa hidup tidak membuatnya menjadi manusia yang merugi.
Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia (John M. Echols dan Hasan Syadily, 1995:372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.
Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak.[9] Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
Secara sederhana, pendidikan Islam dapat dipahami dalam beberapa pengertian:

Pendidikan Islam
Untuk memberikan pengertian pendidikan Islam, lebih bijaknya kalau melihat konsep pendidikan terlebih dahulu. Menurut Ki Hajar Dewantoro, mendidik adalah menuntun segala kekuatan yang ada pada anak-anaknya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[10]
Menurut H.M. Arifin adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam hal bentuk pendidikan formal maupun non formal. Dengan kata lain pendidikan pada hakekatnya adalah ikhtiar untuk membantu dan mengarahkan fikiran dan fitrah manusia supaya berkembang sampai ke titik maksimal yang dapat dicapai dengan tujuan yang dicita-citakan.[11] Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[12]
Dari pengertian tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan itu dilaksanakan oleh orang dewasa yang ditujukan kepada anak yang merupakan benih yang berkembang membutuhkan bimbingan dan bantuan. Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi anak calon manusia dewasa yang akan mengemban tugas melaksanakan dan melanjutkan kekhalifahan di bumi yang mempunyai tanggung jawab di hadapan Allah. Menurut Ahmad Tafsir (2004:24)[13] secara sederhana pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasar Islam, dengan demikian, nilai-nilai ajaran Islam itu sangat mewarnai dan mendasari seluruh proses pendidikan.
Dilihat dari sudut etimologis, istilah pendidikan Islam sendiri terdiri atas dua kata, yakni “pendidikan dan Islam”. Dalam konteks keislaman definisi pendidikan sering disebut dengan berbagai istilah, yakni al-tarbiyah, al-ta’lim, al-ta’dib, dan al-riyadhah (Muhaimin dan Mujib, 1993:97),[14] setiap istilah tersebut memiliki makna yang berbeda-beda, hal ini dikarenakan perbedaan konteks kalimatnya dalam penggunaan istilah tersebut. Akan tetapi dalam keadaan tertentu semua istilah itu memiliki makna yang sama, yakni pendidikan.
“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”[15] Adapun dasar pendidikan Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadist:
a.       Dasar yang bersumber pada Al Qur’an
Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang mendorong kita untuk melaksanakan pendidikan antara lain:
1)    Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 122
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama memberikan peringatan kepadanya supaya mereka itu menjaga diri”
2)    Firman Allah surat At-Tahrim ayat 6
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”[16]

b.       Dasar yang bersumber pada Al-Hadist
Selain dari Al Qur’an hadist-hadist yang menjelaskan tentang pendidikan diantaranya adalah:
“Semua anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia jelas lesannya, kemudian kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (H.R. Abu Ja’far Al-Thabrani dan Al Baihaqi dan Al Aswad bin Sari)[17]

Manajemen
Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris dari kata kerja “to manage” yang sinonimnya antara lain; “to hand’ berarti mengurus, “to control” berarti memeriksa, “to guide” berarti memimpin. Dalam kamus istilah populer, kata manajemen mempunyai arti pengelolaan usaha, kepengurusan, ketatalaksanaan, penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang di inginkan direksi.
Sukanto reksohadipprodjo, mengatakan bahwa “manajemen adalah suatu usaha, merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkordinir serta mengawasi kegiatan dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif.[18] Marry Papker Follent, mengatakan bahwa “manajemen sebagai seni untuk mendapatkan sesuatu melalui sikap dan keterampilan tertentu.[19] James A.F. Stoner, mengatakan bahwa menajemen adalah proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sulistyorini, mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses penataan atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan manusia dalam menggerakkannya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Senada sebagaimana pengertian di atas, Muhaimin mengatakan bahwa manajemen pendidikan Islam adalah bagaimana menggunakan dan mengelola sumber daya pendidikan Islam secara efektif untuk mencapai tujuan pengembangan, kemajuan, dan kualitas proses dan hasil pendidikan Islam itu sendiri.[20]
Menurut Abduh, tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Keberhasilan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan tujuan tergantung pada proses manajerial yang terdapat di dalamnya.[21]
Berdasarkan paparan diatas, maka dapat didefinisikan bahwa manajemen pendidikan islam sebagai suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam degan melibatkan sumber daya manusia muslim yang berkualitas dan manusia dalam mengembangkan potensinya agar tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.  
Sebagai tokoh muslim yang fenominal, kiai Muh. As’ad Umar dikenal sebagai tokoh spiritual dan tokoh politik yang memiliki kharismatik manajerial, Selain itu juga beliau memiliki segudang semangat untuk merubah tradisi pesantren yang seringkali dikesankan oleh masyarakat sebagai tempat yang kumuh dan terbelakang, dengan cara membuka lembaga pendidikan formal bagi santrinya.[22]

Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan langkah yang digunakan peneliti untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang akan diteliti dilapangan. Oleh karena penelitian ini merupakan studi tokoh, maka kajian dan pembahasannya akan diuraikan dan dijelaskan secara lengkap tentang berbagai aspek individu, gagasan, organisasi, program atau situasi social [23] Secara umum pendekatan penelitian ini akan diperoleh data melalui du acara yaitu: studi teoritis dan studi empiris. Studi teoritis dicapai dengan cara mengkaji dan menelaah buku-buku dan sumber-sumber pustaka lainnya yang relevan dengan judul penelitian. Sedangkan studi empiris diperoleh melalui kajian secara mendalam mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan. Dalam melaksanakan penelitian ini pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan empiris, yang kemudian lebih dispesifikkan pada metode studi kasus. Studi kasus adalah suatu usaha yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap obyek tertentu. Studi kasus dapat diartikan sebagai suatu bentuk fenomena yang terjadi mengenai seseorang tokoh, baik mengenai latar belakang kehidupan, gagasan maupun perjuangan dan manajemennya dalam pendidikan Islam.
Adapun studi kasus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengkajian mengenai, manajeman, inovasi, latar belakang dan keunggulan seseorang dalam memberikan perannya terhadap pengelolaan suatu lembaga pendidikan Islam. Sedangkan pendekatan yang lain adalah pendekatan teoritis yang dilakukan dengan memadukan literature yang ada dengan keadaan yang sesungguhnya untuk mencari data yang valid untuk dipaparkan dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif oleh karena itu penelitian ini menggunakan desain yang sangat fleksibel dengan data yang bebas, penelitian kualitatif lebih terbuka untuk memunculkan hal-hal yang baru dan menghasilkan data deskriptif. Ciri penelitian kualitatif menurut muleong adalah berakar pada alamiah (apa adanya) sebagai sesuatu yang utuh, menghandalkan manusia sebagai alat penelitian, menggunakan metode kualitatif, analisis data secara induktif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, rancangan penelitian bersifat sementara, bersifat deskriptif dan hasil penelitian disepakati kedua belah pihak, yaitu peneliti dan objeknya.[24]
Sementara, menurut arikunto, pendekatan kualitatif deskriptif pada umumnya merupakan penelitian non hipotesis, sehingga dalam langkah penelitian tidak diperlukan hipotesis, akan tetapi lebih bersifat eksploratif (mencari informasi/ penyelidikan yang mendalam) agar dapat menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena tertentu.[25] Atas dasar ini maka penelitian ini didasarkan pada pendekatan fenomenologis, yakni suatu usaha yang dilakukan untuk menemukan kembali pengalaman dasariyah, berupa latar belakang dan menejemen yang anaut oleh seseorang, baik yang menyangkut masalah pendidikan, ekonomi, politik maupun kehidupan dalam suatu komunitas. Tujuan dari jenis penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan yang sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta tertentu. Oleh karena itu dalam penelitian ini tidak dibutuhkan tes hipotesis untuk mendapatkan makna dan implikasinya, tetapi yang dibutuhkan adalah mengumpulkan dan menjelaskan data, menganalisis serta mengintrepretasikannya dengan tepat.
Dalam penelitian kualitatif ini penulis lebih berorientasi pada penggalian data atau tepatnya refrensi bersumber dari hasil wawancara (interview) observasi (Observation) dan dukomentasi yang ada. Sebagai instrument, sehingga data yang dihasilkan data deskriptif, yaitu berupa kata-kata, tertulis atau lisan dari sumber informasi atau perilaku yang terus diamati dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam. Menurut Moleong, kendala utama dalam mengumpulkan data penelitian kualitatif adalah cara pendekatan ke subjek kajian, hal ini disebabkan kesulitan menghilangkan motif pribadi dan keengganan menelusuri data dilapangan dengan cara yang benar dan sebagainya.[26]
Selain wawancara secara mendalam, peneliti juga mengadakan observasi dan memerlukan data dokumentasi serta catatan-catatan lain yang mendukaung untuk mendiskripsikan data, apabila data yang diperoleh kurang tepat dan tidak valid, maka interpretasinya bias kabur atau meragukan. Pengamatan juga tidak boleh hanya fenomena sekilas yang hanya tampak kulitnya saja, walaupun demikian penggunaan bahan dokumentasi atau foto dan yang sejenisnya perlu untuk dikritisi. Observasi dan interview merupakan data primer sedangkan dokumentasi merupakan data sekunder.

Biografi KH. Muh. As’ad Umar
KH. Muh. As’ad Umar Lahir pada 18 Agustus 1933 di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Peterongan Jombang. Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Termasuk Pondok tertua setelah Tebuireng di Kabupaten Jombang. Lokasi Pondok Pesantren Darul ‘Ulum di dusun pesantren desa Peterongan Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang. Pondok Pesantren Darul ‘Ulum dikalangan masyarakat sekitarnya dikenal dengan nama pondok Njoso atau Pondok Terongan. Pesantren ini terletak pada kilometer 6 arah timur Kabupaten Jombang. Secara geografis letak Pesantren Peterongan sangat strategis karena terletak 300 m dari jalan raya Surabaya-Kediri-Jogyakarta dan 50 m dari stasiun kereta api pembantu peterongan.
Kiai As’ad menikah dengan Hj. Azzah pada tahun 1960 dan dikaruniai 8 orang putra-putri, yaitu: Pertama, H.M. zaimuddin Wijaya As’ad, MS, alumni S1 dan S2 FISIP UGM, sekarang beliau menjabat sebagai ketua Yayasan Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum dan pengasuh asrama hurun ‘in di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang. Kedua, Dr. dr. H.M. zulfikar As’ad, MMR, alumni S1 dan S2 UGM, S3 FKM Unair Surabaya, beliau sekarang menjabat sebagai Wakil Rektor Bid. SDM dan UMUM Unipdu, Direktur RSUM dan Pengasuh asrama As’adiyah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Ketiga, Drs. H. M. Zainul Ibad As’ad, alumni IAIN Surabaya dan sekarang menjabat sebagai pengasuh dan penasehat Yayasan Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang. Keempat, Dra. Hj. Niswah Qanita, alumni IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta, sebagai pengasuh asrama Muzamzamah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Kelima, H.M. Dzulhilmi As’ad, S. Ag, alumni IAIN Sunan kalijaga Jogyakarta, seorang novelis dan pengasuh asrama al-Falah PP. Darul ‘Ulum Jombang. Keenam, M. Zahrul Jihad, M.S.I, alumni Universitas Negeri Jember, dosen dan pengasuh asrama Pondok Tinggi Darul ‘Ulum Jombang. Ketujuh, Uswatun Qayyimah, SS, M.Sc., Phd., akademisi dan dosen pascasarjana Unipdu Jombang. Kedelapan, M. zahrul Azhar, S.Ip., M.kes., Direktur Utama TV Nusantra dan Pengasuh asrama Queen Darul ‘Ulum Jombang.
Pendidikan masa mudanya diperoleh dari ayahandanya KH. Umar Tamim dan paman-pamannya di Darul ‘Ulum sampai tingkat SMA. Sebagaimana kebanyakan putra-putra kyai, selepas SMA Muh. As’ad melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren, antara lain di pondok al-Mu’ayyat Solo. Dan pada tahun 1958 beliau menimba ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) Jogjakarta sambal mondok di krapayak di bawah asuhan KH. Ali Ma’sum. Namun tidak sampai meraih gelar sarjana, karena keburu dipanggil ayahandanya untuk membantu mengelola pesantren[27].
Sepulang dari Jogjakarta kiai ini tidak hanya membantu mengelola pesantren saja, tetapi juga terlibat di beberapa organisasi sosial dan keagamaan, antara lain pada tahun 1959, beliau sudah dipercaya sebagai ketua PERTANU Kabupaten Jombang. PERTANU adalah organisasi pertanian di bawah payung Nahdlatul Ulama’ (NU). Setahun kemudian yakni pada tahun 1960 beliau menjabat ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Kabupaten Jombang.
Karir organisasi semakin meningkat setelah pada tahun 1969-1971, ia duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur, perwakilan dari kader NU. Lalu 1975-1997 ia kembali menjadi anggota DPRD Jawa Timur dari Golkar. Salah satu alasan beliau masuk Golkar kala itu adalah ruang politik partai persatuan pembangunan (PPP) sudah terlalu “sumpek” Dalam konteks ini juga, Kiai As'ad melihat Partai Golkar (dahulu Golkar) lebih nyata memperjuangkan kepentingan umat dibandingkan dengan dua partai lainnya (PPP dan PDI) pada era rezim Orde Baru.[28]
Dan yang perlu menjadi catatan sejarah, pondok pesantren yang pertama kali masuk golkar adalah Pondok Pesantren Darul ‘Ulum  Jombang. Hijrahnya Kiai As’ad ke Golkar mengikuti jejak saudara sepupunya yaitu Kiai H. Musta’in Romly, kepindahannya ke partai golkar telah memberi keuntungan yang besar terhadap perkembangan pondok pesantren ini. Bahkan di akhir rezim Soeharto kiai As’ad sempat menjadi anggota DPR Republik Indonesia.[29]
Tidak hanya dibidang oragnisasi dan politik saja. Kiai As’ad, berkiprah juga di bidang pendidikan. Berangkat dari keprihatinan kiai As’ad terhadap anggapan orang selama ini pada santri yang selalu dikesankan kumuh dan terbelakang, telah menggugah semangat beliau untuk mendobrak tardisi pesantren. Maka jalan yang ditempuh adalah dengan membuka pendidikan umum pada para santrinya. Ia pun mendirikan SMA Unggulan, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs.N), MA Program Khusus, SMK DU, SMK Telkom, MAN, SMPN 3 DU. Untuk meningkatkan kualitas santri ia pun mendirikan AKPER, AKBID, STAIDU, STIBA pada tahun 2011 marger menjadi Unipdu. Bahkan untuk menunjang sarana kesehatan santri ia juga membangun Rumah Sakit (RS) Unipdu Medika dilahan seluas satu hektar.[30]
Seiring dengan senjanya usia, kiai as’ad sejak juni 2004 tidak lagi terjun diranah politik praktis dan memilih keluar dari keanggotaan golkar. Keputusan ini didasari dua alasan yaitu, pertama, paradigm partai sudah tidak mengakomudasi kiai dan ‘ulama’ dan kedua, ingin kembali mengurus pondok pesantren yang lebih intensif.[31]
Keinginan beliau kembali untuk mengurus pondok pesantren secara intensif benar-benar dilanjutkan sampai akhir hayatnya. Hal ini dapat dilihat dari semangat beliau yang tak pernah surut meski menderita stroke. Setelah kurang lebih 5 tahun beliau menderita stroke, pada 5 desember 2010 beliau pulang ke rahmatullah dengan meninggalkan banyak kenangan dan harapan. Diantara harapan kiai Muh. As’ad Umar yang mengispirasi para penerusnya adalah mempersiapkan santri dan mahasiswa unipdu menjadi intelektual yang tafaquh fi al-ddin, berazaz manfaat, berfikir cepat, bertindak tepat dan berdzikir kuat.[32]

Peran dan Pola Kepemimpinan KH. Muh. As’ad Umar
Pola kepemimpinan kolektif di Pondok Pesantren Darul Ulum sudah dijalankan sejak masa-masa pembibitan dan penanaman dasar-dasar berdirinya Pondok Pesantren (antara tahun 1885-1937). Pemimpin pertama yang mendirikan pendidikan ini adalah KH Tamim Irsyad dan dibantu KH Cholil sebagai mitra kerja dan sekaligus menjadi menantunya. Kerja sama keduanya juga tidak hanya pada pengelolaan Pesantren saja tetapi juga pada pembidangan pengajaran di Pondok Pesantren, KH Tamim membidangi ilmu-ilmu syariat sedangkan KH Cholil membidangi ilmu tasawuf dan tarekat. Sehingga sesungguhnya embrio kolektivitas kepemimpinan dalam pengelolaan lembaga di Pondok Pesantren Darul Ulum sudah ada sejak masa perkembangannya yang paling awal. Oleh karena itu tipe kepemimpinan yang dikembangkan oleh Kiai As‟ad adalah rational-collective-managerial (manajemen kolektif rasional), karena pada dasarnya sikap yang dikembangkan KH Muh. As‟ad Umar dibanding dengan kiai-kiai sebelumnya di Pondok Pesantren Darul Ulum lebih bersifat rasional. Kiai As‟ad bukanlah alim ulama yang senantiasa identik dengan kajian-kajian kitab Islam klasik dan spiritual. Mereka senantiasa memecahkan masalah secara rasional, bahkan menggunakan metode tertentu untuk memecahkan masalah kepesantrenan. Bahkan sering kali para kiai di Pondok Pesantren Darul Ulum berperan sebagai manajer pendidikan pesantren yang efektif dengan memanfaatkan SDM dari luar pesantren. Ini seperti yang juga dilakukan oleh KH Muh. As‟ad Umar. Kiai As‟ad bukanlah orang yang secara original pemimpin pendidikan, sebab ia tidak memiliki background pendidikan dan kualifikasi pendidikan apalagi membuat perencanaan pembangunan, ia hanya seorang lulusan SMA yang sempat mencicipi pendidikan tinggi beberapa semester saja. Namun visinya dalam memandang tuntutan zaman, utamanya di bidang pendidikan jauh melampui kemampuan generasi di zamanya. Kiai As‟ad membagi kewenangan kepemimpinan secara kolektif kepada Majelis Pimpinan Pondok Pesantren yang berjumlah 8 orang yang penentuannya berdasarkan musyawarah sesuai dengan keilmuan secara genealogis keterwakilan keluarga putra-putri pendiri partama Pondok Pesantren.[33]
Inovasi KH. Muh As’ad Umar dalam Pengembangan Lembaga
Tentutan masyarakat akan layakan dalam menyelenggaraan pendidikan menyebabkan pimpinan Darul Ulum berupaya secara maksimal membangun sarana fisik demi menunjang santri didik mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Usaha pembangunan fisik bias dilihat dari penambahan ruang kelas dan perkuliahan asrama dan ruang penunjang. Pada tahun 1986 dibangun perkuliahan fakultas hukum dan teknik di jombang, ada tahun 1987gedung fakultas tarbiyah di JL. Rejoso Peterongan pada tahun 1990 gedung pertemuan UNDAR berdiri dengan kapasitas 2000 orang.
Sementara di pondok pesantren Darul Ulum selama berturut-turut dibangun gedung SMA Darul Ulum, tahun 1986 bersama gedung asrama Ibnu Siena, pada tahun 1987 dibangun SMA putri bersama dengan asrama Raden Ahmad, pada tahun 1989 MAN Rejoso  Jombang 7 lokal dan MTsN 5 lokal bersama dengan asrama Bani Tamim dan Al Ghozali. Dan terkhir pada tahun 1992 dibangun gedung Akademi Perawatan Darul Ulum, dibangu juga gedung SMK Telekomunikasi Darul Ulum dan Gedung MA Unggulan Darul Ulum.
Pada tahun 2000 Dibangun Kampus Utama Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (unipdu), dibarengi dengan pembagunan Islamic Center Unipdu, serta Didirikannya Rumah Sakit Unipdu Medika. Pada tahun 2003 juga dibangun gedung SD Plus Darul ‘Ulum yang terletak di kota Jombang.

Temuan-Temuan Hasil Wawancara
Dari beberapa wawancara atau diskusi dengan dzurriyah dan asatidz dalam penelitian ini dapat menghasilkan temuan-temuan tentang manajemen Pendidikan Islam presfektif KH. Muh. As’Ad Umar, sebagai berikut,:
Pertama, Abdul Mu’in Hasanuddin[34], mengemukakan bahwa ada lima perkara penting yang diterapkan oleh kiai As’ad dalam perencanaan yaitu: Konsep yang tersusun dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal. Fokus terhadap tujuan yang akan dilakukan, tanpa banyak wacana. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai. Bertanggungjawab atas apa yang direncanakan dan dilakukan
Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang. Sebagaimana do’a yang selalu diamalkan oleh beliau
Kedua, Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.
Seperti yang dilakukan oleh kiai Muh. As’ad Umar,[35] yaitu membagi kewenangan kepemimpinan secara kolektif kepada majelis pimpinan pondok pesantren yang berjumlah 8 orang merupakan representasi dari keluarga putra-putri pendiri pertama pondok pesantren,[36] yang penentunya berdasarkan musyawarah sesuai dengan bidang keilmuan yang berbeda-beda, tetapi tetap mendapatkan hak dan kewajiban yang sama.
Ketiga, Pada kasus kepemimpinan kiai Muh. As’ad Umar yang bersifat kolektif merupakan hal yang unik pada kepemimpinan sebelumnya dengan kepemimpinan tunggal, dan bukan hanya dari dzurriyah (keluarga) akan tetapi keterlibatan santri, alumni dan bahkan tenaga profesional dari luar pondok pesantren.[37]
Seperti yang diterapkan oleh Kiai Muh. As’ad Umar dalam menentukan kepala sekolah pada lembaga pendidikan Islam yang ada di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum tidak diperkenankan berasal dari dzurriyah (keluarga) atau putra-putri majelis,[38] dengan harapan agar pelaksanaan manajemen dan pengembangan lembaga berjalan dengan baik, rapi dan transparan.
Keempat, Kiai Muh. As’ad Umar dalam menentukan kebijakan sangat terbuka dan mengutamakan konsistensi lembaga pendidikan Islam, Misalnya kiai As’ad berusaha keras untuk mengangkat derajat kaum muslimin utamanya warga nahdiyin yang mayoritas pengikutnya adalah orang pesantren, beliau sering memberikan motivasi kepada para santrinya agar tetap optimis dapat bersaing secara positif dengan lembaga pendidikan diluar pesantren.[39]
Kelima, Kesederhanaan kiai As’ad inilah yang membuat para santri dan pengelola lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum termotivasi untuk selalu mengadakan inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan Islam dengan mengikuti arus globalisasi. Dengan kemampuannya beliau dibidang keuangan dan sarana prasarana, lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum memiliki manajemen keuangan dan sarana prasarana yang baik, teratur, dan terarah secara integral, sehingga mempengaruhi pola kepemimpinan beliau dan berdampak positif pada perekembangan lembaga pendidikan Islam yang ada di Pondok Pesntren Darul ‘Ulum.[40]

Kesimpulan.
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan melalui tahapan pengumpulan data pengolahan data serta analisis data maka, penulis selanjutnya dapat menarik kesimpulan dari penelitian berjudul “Manjamen Pendidikan Prespektif KH. Muh. As’ad Umar” sebagai berikut;
Pertama, Perencanaan pendidikan Islam harus berorientasi pada kebaikan yang mementingkan kemashlahatan bersama, harus ada profesionalisme pada pembagian kerja dan tugas, dalam job analisis. Kiai As’ad dalam merencanakan program tersusun dengan baik dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal.
Kedua, Manajemen kiai As’ad Umar secara kolektif, dengan membagi hak dan kewajiban yang sama sesuai dengan bidang keilmuan yang berbeda-beda dan manajemen keuangan secara integral, sehingga memudahkan kontrol.
Ketiga, Pengawasan dilakukan secara berkala dan menjadi rutinitas, agar program yang direncanakan berjalan sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Keempat, Kiai As’ad mampu dalam membangun sistem kaderisasi kepemimpinan dan menjaga nilai-nilai dan kebermutuan pendidikan Islam kiai As’ad juga dapat berperan sebagai inovator, motivator, komunikator dan dinamisator yang efektif

Daftar Pustaka
Al Qozwini, Abu Abdillah, bin Yazid, Muhammad. Sunan Ibnu Majah, Jilid II, Beirut.
Arikanto, Suharmin. 1993. Prosedur Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta,).
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (jakarta: Rineka Cipta,).
Bogdan & Taylor dalam Siswono, 2016. “Sumber data dalam penelitian”, dalam tttps://www/blog.spot.com.
Departemen Agama RI, Al Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci.
Katalog Dalam Penerbitan Republika, wong Jawa Timur.

Lexy J. Moleong, 1998. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,).
Mahmud, Dr. Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, 2014. PT Remaja Rosydakarya).
Marimba, Ahmad, 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Al Ma’arif, Bandung,).
Mahmud, 2014. Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, PT Remaja Rosydakarya).
Manaf, Sofyan, H. 2001. Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI,).
Prastowo, Andi. 2011. “Teknik Pengumpulan Data” dalam http://www./blogspot.com.
Prasetiyo, Dwi 2014. “Pengertian-Observasi-Penelitian” dalam http://www./blogspot.com.
Qomar et,. 2003. Al, Mujamil, Meniti Jalan Pendidikan Islam,
Sulistyorini.  2005. Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung,
Sahran. 2006. Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Sebagai Strategi Modernisasi. Makalah  dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
Suriasumantri, S. Jujun Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular, (Jakarta: Pustaka sinar harapan, 2009).
Siahaan, Dermon. 2014. “Metode-Dokumentasi”, dalam http://www./blogspot.com.
Wahjosumidjo,  1987. Kepemimpinan Dan Motivasi, (cet.3; Jakarta : Ghalia Indonesia,).
Mahmud, Dr. 2014. Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, PT Remaja Rosydakarya).
Syukran Nafis, Ahmadi H. 2011.Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo,).
wahyudi, Imam. 2012. Pengembangan pendidikan (Strategi Inovatif dan Kreatif dalam Mengelola Pendidikan Secara Komprehensif ), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher,).
Qomar, Mujamil. 2007. Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: Erlangga,).

Syukran Nafis, Ahmadi H. 2011. Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo,).
Hendri, Didin. 2003.Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta
Sulistyorini. 2005. Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung,
Ramayulis, 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta,
 Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta,
Qomar, Mujamil. et. al, 2003. Meniti Jalan Pendidikan Islam, P3M STAIN Tulungagung dengan   Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Al Ma’arif, Bandung,).
Mahmud, 2014. Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung,. PT Remaja Rosydakarya).
Departemen Agama RI, Al-Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1979/1980.
Muhammad bin Yazid Abu Abdillah Al Qozwini, Sunan Ibnu Majah, Jilid II, Beirut.
Manaf, Sofyan H., 2001. Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI,)
Wahjosumidjo, 1987. Kepemimpinan Dan Motivasi, (cet.3; Jakarta : Ghalia Indonesia,)
Katalog Dalam Penerbitan Republika, wong Jawa Timur,.
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung: Nuansa Baru,).
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam Kajian Teoritis Dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,).
Syalabi, Ahmad 1945. Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyat, (Kairo: al-Kasyaf,).
Ibnu Abdullah. Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, Juz 1, (Kairo: Dari al-Sya’biy.tt).
An-Nahlawi, Abdurrahman 1992. Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro,).
al-Thoumy al-Syaibani, Omar Muhammad. 1979. Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,).

Heri Gunawan, 2014. Pendidikan Islam Kajian Teoritis Dan Pemikiran Tokoh, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,).
Arsip YAPETIDU
SD Plus Darul Ulum, merupakan unit pendidikan yang berada diluar lingkungan PP. Darul Ulum, tepatnya beralamat di jl. Sultan Agung No 3 Jombang.
Rasyid Ridha, Muhammad, Tafsir al-Qur’an al-hakim; Tafsir al-Manar, Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, tt)
Fatah Jalal, Abdul. 1988. Azaz-azaz Pendidikaan Islam, Terj. Harry Noer Ali, (Bandung: CV Diponegoro).
Pendapat Al-Abrasyi ini yang mendapat banyak dukungan dari para pemikir pendidikan, termasuk para pemikir pendidikan Islam Indonesia.
Gunawan, Heri. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
Nuquib al-Attas, Muhammad. 1994. Konsep Pendidikan Islam, terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan).
Muhammad at-Toumy al-Syabany, Oemar,. 1979. Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang,).
Martoyo, Susilo. 1988. Pengetahuan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan, (Yogyakarta: BPFE,)
H. Muhalimin. Prof.Dr., M. A, Dr.Hj. Suti’ah, M.A, Dr. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd. Manajemen Pendidikan,).
Tim Dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan,
 Departemen Agama RI, Al-Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci.
Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif, (bandung. PT Remaja Rosdakarya).
Lexy J Muleong, 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosda Karyua,)
Arikunto, S., 1994. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Reneikab Cipta,).
Moleong, Lexy J. 1998. Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,)
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (jakarta: Rineka Cipta,)

Jujun. S. Suriasumantri, 2009. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular, (Jakarta: Pustaka sinar harapan).
Prasetiyo, Dwi., (08 Juni 2014). “Pengertian-Observasi-Penelitian” dalam http://www./blogspot.com.
Suharsini Arikunto, 1998. Prosedur Penelitian, Jakarta: Renika Cipta,
Prastowo, Andi (oktober 2011). “Teknik-Pengumpulan Data” dalam http://www./blogspot.com.
Nurul Zuriah. Penelitian Tindakan, (Malang: Bayu Media 2003)
Siahaan, Dermon. (08 Juli 2014). “Metode-Dokumentasi”, dalam http://www./blogspot.com.
Lexy I, Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, hlm. 103
Mudjia Rahardjo, Triangulasi Dalam Penelitian Kualitatif, dalam http://www. Mudjiarahardjo.com/artikel/270.html.diakses tanggal 30 Juni 2014
Dikutip dari website darul ulum http://darululum.net. dengan sedikit penambahan dan perbaikan)
Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016,
Katalog Dalam Terbitan Republika, Wong Jawa Timur Berpengaruh, (2005) hlm. 30
Hasil wawancara esklusif dengan Abdullah Rikza, salah seorang ustadz dan juga murid kiai As’ad pada tanggal 10 Juni 2016 pukul: 14.00 WIB
3 B, merupakan falsafah kiai As’ad umar yang sampai saat ini masih menjadi slogan dan motivasi para penerusnya.
M. Dahlan Al Barry, Pius A Partanto, , 1994. Kamus ilmiah Populer, (Surabaya; Arkola,)
Sahran, 2006. Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Sebagai Strategi Modernisasi, makalah dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
Hasil wawncara dengan Abdul Mu’in, pada tanggal 15 Juli 2016, santri senior dan pegawai  PP Darul ‘Ulum Peterongan Jombang
Terry, George R. 1956. Principles of Management, (New York: Irwin,).
Astutik, Puji. 2007. Makalah Pemikiran Filosofis Tentang manajemen Pendidikan Islam,

Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung: Nuansa Baru,).
Bukhari, M. DKK, 2005. Azas-Azas Manajemen, (Aditya Media, Yogyakarta:)
Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016.
Hafidudin Didin dan Tanjung Hendri, 2003. Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta.
Ramayulis, 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta.
Hasil wawancara tidak langsung dengan Abdulllah Rikza, seorang santri senior.  pada tanggal 10 Juni 2016




[1] Mahmud, Dr. Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, 2014. PT Remaja Rosydakarya) Hlm, 3
[2] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011), hlm. 2.
[3] Imam wahyudi, Pengembangan pendidikan (Strategi Inovatif dan Kreatif dalam Mengelola Pendidikan Secara Komprehensif ), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2012) hlm. 66
[4] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: Erlangga, 2007), hlm. 3.
[5] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011), hlm. 2.

[6] Ahmadi H. Syukran Nafis, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2011),hlm. 11.

[7] Didin dan Hendri, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta, 2003. Hlm. 1
[8] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung, 2005, Hlm. 4
[9] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008. Hlm. 260
[10] Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam, Erlangga, Yogyakarta, hlm. 101
[11] Mujamil Qomar et. al, Meniti Jalan Pendidikan Islam, P3M STAIN Tulungagung dengan   Pustaka Pelajar Yogyakarta 2003, hlm. 23
[12] Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Al Ma’arif, Bandung,1989) hlm, 45
[13] Mahmud, Kata Pengantar Pendidikan Islam Kajian Teoretis Dan Pemikiran Tokoh. (Bandung, 2014. PT Remaja Rosydakarya) hlm, 1.
[14] Ibid.
[15] Departemen Agama RI, Al-Qur‘an dan Terjemahannya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci
  Al-Qur’an, 1979/1980.

[16] Ibid.
[17] Muhammad bin Yazid Abu Abdillah Al Qozwini, Sunan Ibnu Majah, Jilid II, Beirut.
[18] H. Sofyan Manaf, Pola Manajemen Penyelenggaraan Pondok Pesantren. (Jakarta, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI, 2001), hlm.1.
[19] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Dan Motivasi, (cet.3; Jakarta : Ghalia Indonesia, 1987), hlm. 32.
[20] Sulistyorini.  Manajemen Pendidikan Islam (diktat). STAIN Tulungagung, 2005.
[21] Sahran. Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Sebagai Strategi Modernisasi. Makalah 2006. dipresentasikan di Fakultas IAIN Mataram.
[22] Katalog Dalam Penerbitan Republika, wong Jawa Timur, hlm, 29.
[23] Deddy Mulyana. Metodologi Penelitian Kualitatif, (bandung. PT Remaja Rosdakarya 2001). Hlm. 201
[24] Lexy J Muleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosda Karyua, 1991), hlm. 27
[25] S. Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Reneikab Cipta, 1994), hlm. 28.
[26] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1998), hlm:29
[27] Katalog Dalam Terbitan Republika, Wong Jawa Timur Berpengaruh, (2005) hlm. 3
[28] Ibid. hlm, 61
[29] Katalog Dalam Terbitan Republika, Wong Jawa Timur Berpengaruh, (2005) hlm. 29
[30] Hasil wawancara esklusif dengan Abdullah Rikza, salah seorang ustadz dan juga murid kiai As’ad pada tanggal 10 Juni 2016 pukul: 14.00 WIB
[31] Kedua alasan ini sering disampaikan oleh kiai As’ad kepada beberapa tamu yang berkunjung di pondok pesantren darul ‘ulum, ketiak beliau ditanya tentang alasan pengunduran dirinya dari partai polik praktis, ustadz rikza (santri kiai As’ad)
[32] 3 B, merupakan falsafah kiai Muh. As’ad Umar yang sampai saat ini masih menjadi slogan dan motivasi para penerusnya.
[33] KH Tamim Irsyad memiliki 2 orang putra dan seorang putri, yaitu KH Romly
Tamim, KH Umar Tamim dan Nyai Fatima. Dari ketiga putra putri ini diambil
representasi keterwakilan masing-masing Bani (keturunan). Anak laki-laki diwakili 3
orang dan anak perempuan diwakili 2 orang.
[34] Seorang santri Darul ‘Ulum Tahun 1965, sekaligus tokoh masyarakat yang masih memiliki hubungan dengan obyek penelitian, beliau sebagai santri dan juga salah satu dewan guru di lingkungan pondok pesantren darul ‘ulum serta berperan selama periode kepemimpinan kiai As’ad.
[35] Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016,
[36] KH. Tamim Irsyad Memiliki 2 orang putra dan seorang putri, yaitu KH. Romly Tamim, KH. Umar Tamim dan Nyai fatima, dari ketiga putra putri ini diambil represntasi keterwakilan bani, anak laki-laki diwakili 3 orang dan anak perempuan diwakili 2 orang
[37] Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016, “dalam rekrutmen tenaga pendidik mengutamakan alumni agar nilai-nilai dan kualitas tetap terjaga dengan baik.
[38] Hasil wawancara dengan Abdul Mu’in Hasanuddin , pada Tanggal 15 Juli 2016, seorang santri senior dan juga salah satu pengurus di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum
[39] Hasil wawancara dengan ibu Nyai Azzah As’ad pada tanggal 20 Juli 2016 di kediaman, dalam penjelasan beliau....... “meski hanya punyak uang sedikit”.
[40] Hasil wawancara dengan Kiai Kholil Dahlan , Ketua Umum Majelis PP. Darul ‘Ulum Jombang, pada Tanggal 20 Juli 2016, “kiai sepuh itu besar sekali pengaruhnya pada tim, sama halnya dengan pondok, jika kiainya itu mahir dibidang kitab maka pondoknya juga dinamakan pondok kitab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar