BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Kita seringkali
terjebak dengan asumsi masyarakat tentang manusia dan pendidikan itu tidak ada
keterkaitan sama sekali. Pembahasan manusia dan pendidikan disampaikan secara
terpisah, misalnya manusia diasumsikan hanya pada urusan kehidupan, baik secara
fisik, ekonomi, mental maupun psikologi.Pembahasan tentang pendidikan diasumsikan
hanya pada permasalahan pendidikan secara kontenporer, misalnya kurikulum, Pengajaran
dan sebagainya.
Pembahasan terpisah yang
demikian itu disebabkan olehkurangnya pemahaman masyarakat terhadap manusia dan
pendidikan.Kajian tentangmanusia masih dangkal dan pemahaman terhadap permasalahan
pendidikan yang kadang tidak dipikirkan secaramendalam, merupakan sebagian
sebab masyarakat belum membahas keduanyasecara terpadu.
Selanjutnya dengan
berbekal makalah yang sederhana ini mari kitaberdiskusi mengenai masalah
tersebut untuk mencari dan menemukan pemahaman yang komprehensif dan jika mungkin
berusaha untuk menciptakan ide-ide baru dan segar yang bisa mewarnai dan
memberi corak kualitas keilmuan dunia pendidikan sehingga bisa membantu
memberikan solusi masalah dan bukan malah menambah masalah di negeri yang sudah
dirundung banyakmasalah ini.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar
belakang, dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
- Apayang dimaksud manusia, dan pendidikan?
- Apatujuan pendidikan dalam kehidupan manusia?
- Bagaimana kehidupan manusia dan proses kependidikan?
C. TUJUAN
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini sebagaiberikut:
- Menjelaskan tentang manusia, dan pendidikan.
- Menjelaskan tujuan pendidikan dalam kehidupan manusia.
- Memaparkan kehidupan manusia dan proses kependidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. MANUSIA
DAN PENDIDIKAN
Sebagaimana
disampaikan diawal bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan dua tugas pokok
yaitu; pertama manusia sebagai makhluk yang harus menyembah kepada
khalik-Nya sebagaimana firman Allah, yaitu
وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون ..الذاريات:٥٦
“Dan Aku tidak
menciptakan jindan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku” (QS. Adz
Dzaariyat: 56)[1]
Kedua manusia juga bertugas sebagai khalifah dimuka bumi,
selain itu manusia juga dibekali dengan akal. Maka dengan akal itulah manusia
itu akan selaluberfikir tentang kelangsungan hidupnya dan generasinya. Manusia
akan selaluberupaya untuk menemukan berbagai cara untuk survive baik bagi
dirinyamaupun keturunan atau generasinya, sekaligus meningkatkan kualitaskehidupannya
baik jasmani maupun rohani yang berlangsung secara alami. Haltersebut merupakan
hakikat pendidikan secara umum.
Pertanyaan filosofis atau mendasar tentang
sosok manusia adalah “Whatis man , and what of is man made?”Apa dan
terbuat dari apa manusia itu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut banyak
filosuf dengan pandangan filsafatnya yang memberikan batasan atau definisi tentang manusia. SigmundFreud
misalnya berpandangan bahwa hakikat manusia sebenarnya bisa ditinjaudari struktur
jiwa yang dimiliki yang terdiri dari tiga hal yaitu: das Es, das Ichdan
das Uber Ich. Das Es bagian dasar (the Id) yang sama sekali terisolasi
daridunia luar, hanya mementingkan masalah kesenangan dan kepuasan
(lustprinciple) yang merupakan sumber nafsu kehidupan, yakni hasrat-hasrat
biologis(libido-sexualis) dan bersifat a-sadar, a-moral a-sosial dan
egoistis. Das Ich(aku=ego), sifatnya lebih baik dari pada das Es, das Ich dapat
mengerti dunia asadar,a-sosialdana-moral, lebih realistis tapi belum ethis.Yang ketiga dan UberIch (superego), ini adalah bagian jiwa yang paling tinggi dan paling sadar
norma dan paling luhur,
bagianiniseringdinamakanbudinurani(consciencia).SuperegoataudasUberIchiniselalumenjunjungtingginilai-nilaimoral,ethikadanreligious.(Muhammad,1986).
Faham monoisme atau yang terkenal juga dengan faham
materialismmemandang manusia hanya dari segi materi. Manusia tidak ada bedanya
denganalam semesta yang serba materi, manusia ialah apa yang nampak
sebagaiwujudnya. Sedangkan faham idealisme yang sering juga disebut dengan
fahamrasionalisme atau spiritualisme memandang manusia dari aspek mentalnya,
jasmani atau tubuh hanya merupakan alat jiwa untuk melaksanakn tujuan,keinginan
dan dorongan jiwa (rohani, spirit dan rasio) manusia.
Selanjutnya faham Dualisme atau realisme yang melihat
realita sebagaisintesa dua kategori animate dan inanimate, makhluk hidup
dan makhluk mati.Manusia menurut faham ini adalah kesatuan antara rohani dan
jasmani, jiwa danraga. Faham ini juga berpendapat bahwa manusia adalah satu totalitas, sebagaisatu
individu dengan kepribadian yang unik baik sebagai ummat manusiakeseluruhan
maupun sebagai satu pribadi. Lebih lanjut faham ini mengakuiadanya potensi
hereditas di samping realita lingkungan yang sebagai faktor luar.(Muhammad,
1986)
Anthropologi metafisika berkesimpulan bahwa hakikat
manusia merupakan integritas antara kesadaran-kesadaran:
- Manusia sebagai makhluk individu yang memiliki keunikan tersendiri, jadi setiap manusia mempunyai ciri khas masing-masing yang membedakan dari manusia yang lainnya,
- Manusia sebagai makhluk sosial, yang berarti bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Orang lain di sini minimal adalah orang tuanya atau keluarganya sendiri, dan
- Manusia sebagai makhluk susila maksudnya adalah bahwa manusia adalah makhluk yang bermoral dan sadar akan norma dan nilai-nilai.
Seiring perkembangan peradaban manusia, pendidikan
dilaksanakansecara lebih sistematis dan terorganisir dalam bentuk pendidikan
formal disekolah.Dalam hal ini manusia pada dasarnya bisa sebagai subyek
sekaligusobyek dari pendidikan. Sebagai subyek pendidikan berarti mereka
berperan aktifdalam proses dan pelaksanaannya, mereka bertanggung jawab
sebagaiperencana, pengelola sekaligus pihak yang harus mengevaluasi dan
mengawasiproses berlangsungnya pendidikan tersebut. Sedangkan sebagai obyek
berartimereka menjadi sasaran yang harus digarap dan dituju oleh
pendidikan(khususnya manusia yang belum dewasa).
Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai sebuah proses
tanpa akhir, John Dewey pernah menyatakkan bahwa “Education Is The Process
Without End.”,[2]sejalan
dengan pendidikan adalah inti dari sebuah proses kehidupan manusia. Hal
tersebut menunjukkan bahwa pendidikan adalah ungen terhadap kelangsungan hidup
manusia. Sebab itu sejauh mana manusia mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan
dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut dalam kelangsungan hidupnya, pendidikan
merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai di mana titik optimal kemampuan
kemampuan tersebut dapat dicapai.
Manusia dan pendidikan yang ibarat dua sisi matauang
tersebut , jelaslah bahwa pendidikan bertujuan untuk meningkatkankualitas hidup
manusia, baik pendidikan yang berlangsung secara alami olehorang tua atau
masyarakat terlebih pendidikan tersistem yang diselenggarakanoleh sekolah. Jadi
kesimpulannya adalah manusia memiliki beberapa potensiyang ada pada dirinya,
yaitu potensi intelektual, rasa.karsa, karya dan religi yang bisa dan akan
ditumbuh dan kembangkan melalui proses pendidikan yang baik dan terarah. .
B. TUJUAN
PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Tujuan
pedidikan biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan akhir(ultimate aims of
education).Secara umum tujuan pendidikan ialah kematangandan integritas
pribadi.Ada pula yang merumuskan dengan kata kesempurnaan(perfection).Bagi
kaum Naturalis, dengan tokohnya JJ.Rousseau, menyatakanbahwa tujuan akhir
pendidikan adalah self-realisasi potensi-potensi manusiamenjadi kenyataan di
dalam tindakan yang nyata. Seperti dikatakan Rousseau :... education should
aim to perfect the individual in all his powers ..., the education is not to
make a soldier, magistrate, or priest, but to make a man. (5: 114).
Maksudnya pendidikan harus bertujuan untuk menyempurnakan semuapotensi
individu..., pendidikan bukan bertujuan untuk membina manusia
menjadiprajurit, seorang hakim,
melainkan untuk membina seseorang menjadi manusia.(google search) Pada
dasarnya, pendidikan di semua institusi dan tingkat pendidikanmempunyai muara
tujuan yang sama, yaitu ingin mengantarkan anak manusiamenjadi manusia
paripurna yang mandiri dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan
lingkungannya. Dalam sistem pendidikan di Indonesia,tujuan pendidikan tersebut
secara eksplisit dapat dilihat pada Undang-undang RINomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturanperaturanpemerintahyangberkaitandenganundang-undangtersebut.
Dalam
UU Sisdiknas tersebut dinyatakan bahwa,
Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(google
search)
Secara
umum tujuan pendidikan di Indonesia sudah mencakup tigaranah perkembangan
manusia, yaitu perkembangan kognitif, afektif, danpsikomotor.Tiga ranah ini
harus dikembangkan secara seimbang, optimal, danintegratif. Seimbang artinya
ketiga ranah tersebut dikembangkan denganintensitas yang sama, proporsional dan
tidak berat sebelah. Optimal maksudnyadikembangkan secara maksimal sesuai
dengan potensinya.Integratif artinyapengembangan ketiga ranah tersebut
dilakukan secara terpadu.Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan
cita-citamencerdaskan kehidupan bangsa yang sejalan dengan visi pendidikan
nasional,Kemendiknas mempunyai visi 2025 untuk menghasilkan Insan Indonesia
Cerdasdan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). Yang dimaksud dengan
insanIndonesia cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif, yaitu
cerdasspiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan
cerdaskinestetis.
Adapun
tujuan akhir dari pendidikan, mengingat konpleksitasnya, secara teoritis dapat
dibedakan sebagai berikut[3].
1. Tujuan
Normatif
Suatu tujuan yang harus
dicapai berdasarkan kaidah-kaidah (norma-norma) yang mampu mengkristalisasikan
nilai-nilai yang hendak diinternalisasikan.
2. Tujuan
Fungsional
Tujuan ini bersasaran
pada kemampuan anak didik untuk memfungsikan daya kognitif, afektif, dan
psikomotor dari hasil pendidikan yang diperoleh sesuai yang ditetapkan.
3. Tujuan
Opersional
Tujuan ini mempunyai
sasaran pada pencapaian kemampuan, intermedial (bersifat sementara), partial,
incidental dan khusus.
C. MANUSIA
DAN PROSES KEPENDIDIKAN
Pendidikan secara sederhana dikatakan sebagai
sebuah proses “memanusiakan manusia”, Abdurrahman Shalih mengatakan “man is
the core of the educational process”,(Google search) bahwa manusia
adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa
manusia adalah obyek dan sekaligus pelaku pendidikan.Sebab itu sejauh mana
pendidikan itu diformulasikan dan diimplementasikan harus selalu disandarkan pada
konsepsi tentang hakekat manusia.Merumuskan dan mengembangkan tujuan
pendidikan, materi pendidikan, metode, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan
seterusnya harus selalu dikonsultasikan pada filsafat dan pemahaman tentang
hakekat manusia itu sendiri.
Dalam proses kependidikan yang alami lebih
ditentukan perkembangannya oleh pendidikan atau lingkungan sekitar, karena
empiri (pengalaman) pada hakekatnya yang membentuk manusia, hubungan ini
menunjukkan bahwa bukan hanya perkembangan potensi dasar (jasmani dan
rohani) manusia saja, namun perkembangan dasar beragama juga banyak
dipengaruhi oleh langkah-langkah pendidik[4]
dan tentunya tidak terlepas dari proses pendidikan.
Melihat tujuan dan fungsi pendidikan seperti
telah disebutkan diatas jelas bahwa tugas dan fungsi tersebut dapat berubah
sesuai dengan berubahnya kebutuhan dan tututan hidup manusia. Pada masa
abad-abad permulaan berdirinya system pendidikan klasikal, tugas kependidikan
adalah mencerdaskan daya fikir (intelek) manusia dengan melalui mata pelajaran
“menulis, membaca, dan berhitung” atau terkenal dengan “3R’s” (writing,
reading, and arithmatic),[5]
akan tetapi sesuai dengan tuntutan hidup manusia maka tugas tersebut semakin
bertambah dan meluas, yaitu selain mencerdaskan otak (intelek) manusia juga
mendidik akhlak (Afektif) manusia dan keterampilan (psikomotor) manusia, Muzayyin
Arifin menyatakan dengan sebutan (“3 H’ s) “head (otak), heart (akhlak atau
moralitas yang berkembang dari hati), hand (kemampuan tangan)[6].
Proses kependidikan sangat dibutuhkan dalam
kehidupan manusia bukan hanya sesaat namun sampai akhir hayat sebagaimana sabda
Nabi Muhammad SAW. Yang artinya:
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang
lahat”(HR. Muslim)
Hadist
diatas menunjukkan bahwa manusia dituntuk untuk berproses sejak didalam
kandungan hingga menemui ajalnya (sakratul maut). Dalam hubungannya dengan
proses kependidikan menurut ajaran Islam dipandang suatu perkembangan alamiah
manusia, yaitu suatu proses yang harus terjadi terhadap diri manusia.[7]Oleh
karena hal tersebut merupakan pola perkembangan hidupnya yang telah ditentukan
oleh Allah, atau dikatakan sebagai “sunnatullah”. Firman Allah di bawah ini
dapat dijadikan pandangan dasar, yaitu artinya:
“Sesungguhnya
Kami telah menjadikan manusia dari saripati tanah, kemudian Kami jadikannya
dari setitik nutfah yang tersimpan dalam tempat yang aman, yang teguh (yaitu
dalam rahim ibu). Kemudian air mani (nutfah) itu Kami jadikan ‘alaqah (segumpal
darah) kemudian Kami jadikan segumpal daging (mudghah) itu menjadi tulang
belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami selaputi dengan daging. Setelah itu
Kami jadikannya suatu bentuk yang lain (yaitu bentuk menusia), maka berkah
Allah Maha Pencipta yang paling utama. (QS. Al-Mukminuun:12,13,14)
Ayat diatas menunjukkan bagaimana
manusia berproses dalam pertumbuhan biologisnya sejak alam periode pranatal,
hingga menjadi bentuk manusia yang sempurna.[8]
Secara
pedagogis manusia berkembang melalui proses pendidikan, sebagaimana sabda Nabi
Muhammad saw. Yaitu
Artinya:
Berkata
Anas, “Bersabda Nabi Muhammad saw.: Anak setelah hari ketujuh dari kelahirannya
disembelihkan ‘aqiqah dan diberi nama serta dicukur rambutnya, setelah usia
enam tahun ia dididik untuk berperilaku sopan santun: setelah 9 tahun tempat
tidurnya dipisah dari orang tuanya; bila telah berusia 13 tahun ia harus
dipukul bila tidak menjalankan shalat, dan setelah berusia 16 tahun ia harus
dikawinkan oleh ayahnya, lalu ayahnya berjabatan tangan dengannya seraya
mengatakan: “Saya telah mendidik kamu, mengajar, dan mengawinkan kamu, saya
memohon kepada Tuhan supaya saya dijauhkan dari fitnahmu di dunia dan siksamu
di akhirat.”[9]
Meskipun
tidak terperinci, sabda Nabi di atas dapat dijadikan landasan bahwa dalam
pembinaan jiwa manusia diperlukan proses kependidikan secara bertahap dari
mulai sejak mempengaruhi jiwanya secara psikologis sampai dengan mengamalkan
perilaku yang diajarkan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa pendidikan sangat berkaitanerat dengan proses kehidupan manusia seumur
hidup. Oleh karena itu, pendidikanmempunyai kedudukan penting yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia.
Sebagaimana dikemukakan oleh John Dewey dalam analisisnya sebagai
berikut:
1.Education
as a necessity on life.
2.Education
as social function.
3.Education
as direction.
4.Education
as growth.
5.Preparation,
unfolding and formal discipline.
Atau
dengan kata lain pendidikan sebagai:
1.Salah
satu kebutuhan hidup.
2.Salah
satu fungsi sosial.
3.Bimbingan.
4.Sarana
pertumbuhan.
5.Mempersiapkan,
mengembangkan, dan membentuk kedisiplinan.
Jadi, pendidikan merupakan suatu
aktivitas manusia terhadap manusia dan untuk manusia, atau yang berhubungan
dengan kehidupan manusia dengan segalaproblematikanya.
BAB
III
PENUTUP
Manusia sebagai makhluk yang dibekali dengan
kemampuan dasar baik jasmani maupun rohani, yang secara alamiah tumbuh dan
berkembang sejak dari kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi
tahap, dan tidak ada makhluk ciptaan Allah SWT., yang tumbuh berkembang tanpa
proses.
Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar
manusia baik aspek rohaniah maupun jasmaniah, pendidikan merupakan wasilah
(sarana) yang menentukan sampai dimana titik optimal kemampuan-kemampuan
tersebut dapat dicapai.
Dari ulasan singkat
diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Manusia sebagai homo edukandum, makhluk yang harus dididik, atau bisa disebut animal educabil, makhluk sebangsa binatang yang bisa dididik.
- Manusia sebagai makhluk yang dapat tumbuh dan berkembang dalam proses komunikasi antara individualitasnya dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
- Pendidikan memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan, yakni sebagai upaya untuk mencerdaskan daya pikir (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan prilaku (afektif) manusia.
- Tujuan pendidikan bersandar pada tujuan hidup manusia.
- Pendidikan sangat erat sekali hubungannya dengan manusia, seperti mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin,
Muzayyin, Prof. 2012. Filsafat Pendidikan Islam.Edisi revisi, Jakarta.
Bumi Aksara.
Alqur’an
dan Terjemahnya. 1985. Departemen Agama, Proyek
Pengadaan Kitab Suci Alquran.
Al-Djamaly,
Mohammad Fadhil, Dr. Prof. 1967.Tarbijjah Al-Ihsan Al-Jadid.Matba’ah
Al-Ittihad Al-‘Aam Al-Tunisijjah Al-Sughli.
Al-Qur’an
Digital. Versi, 3.1
[1]QS. Adz Dzaariyat, AlQur’an Digital ver.3.1
[2]John Dewey, Science
of education, p.10
[3]Prof. H. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (ER). Bumi
Aksara. (Jakarta. 2012) cet. 6 hlm. 115
[4]Prof. Dr. Muh.
Fadhil al-Djamaly, Tarbijjah Al-Ihsan, Al-Djadid, P.39
[5]Prof. H. Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam. (ER). Bumi
Aksara. (Jakarta. 2012) cet. 6 hlm. 53.
[6]Ibid.
[7]Ibid.55
[8]Ibid.
[9]Ibid.56