Jumat, 23 April 2021

Al-Sunnah : Sumber Kajian Islam Kedua

 

Pertemuan Ke Tujuh

 

 

A.     PENGERTIAN AL-SUNNAH

As-Sunnah disebut juga Al-Hadits. Secara harfiyah (etimologis), Sunnah berarti adat-istiadat (traditions). Secara maknawi (terminologis), Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan penetapan Nabi Muhammad Saw. Penetapan (taqrir) adalah persetujuan atau diamnya Nabi Saw terhadap perkataan dan perilaku sahabat.

Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, ia melarang para sahabatnya menuliskan apa yang dikatakannya. Kebijakan itu dilakukan agar ucapan-ucapannya tidak bercampur-baur dengan wahyu (Al-Qur’an). Karenanya, seluRuh Hadith waktu itu hanya berada dalam ingatan atau hapalan para sahabat.

Kodifikasi Hadits Rasulullah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718 M), lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174 M). Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam Malik di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwaththa, Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi, serta Imam Syafi’i menulis Ikhtilaf al-Hadits, Al-Um, dan Al-Sunnah.

Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000 Hadits. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206 H/261 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600.000 Hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Muslim mengumpulkan 300.000 Hadits yang kemudian diseleksinya.

Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa’i yang menuangkan koleksi Haditsnya dalam Kitab Nasa’i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi, Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah, Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu’b al-Imam, dan Imam Daruquthni dalam Sunan Daruquthni.

 

B.     KEDUDUKAN AL-SUNNAH

Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad Saw.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya  datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(Qs. Al-Nisa>’: 64)

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. .(Qs. Al-Nisa>’: 65)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah” (Q.S. al-H{asyr: 7).

 

Sebuah Hadits

“Kutinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang kepada keduanya, yakni Kitabullah (Quran) dan Sunnah Rasul-Nya”.

“Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku” (H.R. Abu Daud).

 

Sunnah merupakan “juru tafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan) Al-Qur’an. Sebagai contoh, Al-Qur’an menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara tentang ruku’ dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulai takbiratul ihram (bacaan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat), doa iftitah, bacaan Al-Fatihah, gerakan ruku, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam.

Adapun fungsi sunnah terhadap Al-Qur’an secara garis besar terbagi menjadi tiga:

a.       Menetapkan dan memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al-Qur’an. Maka dalam hal ini kedua-duanya sama-sama menjadi sumber hukum, misalnya dalam Al-Qur’an disebutkan mengharamkan bersaksi palsu:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الأوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (٣٠)

Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS. Al-H{aj: 30)

Ayat tersebut kemudian dikuatkan oleh Sabda Nabi saw dengan Haditsnya:

ألاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَباَئِرِ ثَلاَثاً قاَلُوْا بَلىَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قاَلَ الإِشْرَاكُ باللهِ وَ عُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ

وَ كاَنَ مُتَّكِئاً فَقاَلَ ألاَ وَ قَوْلُ الزُّوْرِ (رواه البخاري و مسلم)

Perhatikan, aku akan memberitahukan kepadamu sekalian tentang dosa yang paling besar, sahut kami:”baiklah, hai Rasulullah, beliau meneruskan sabdanya: (1) menyekutukan Allah; (2) durhaka kepada kedua orang tua. Saat itu Rasulullah sedang bersandar, tiba-tiba duduk seraya bersabda lagi: "awas berkata palsu" (HR. al-Bulchari dan Muslim)

 

Sedangkan Hadits-Hadits tentang perintah mengerjakan shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahi munkar serta Hadits-Hadits yang melarang minum khamar, berjudi, menyembelih Qurban dengan menyebut nama selain Allah dan lain sebagainya adalah juga termasuk contoh-contoh dan fungsi pertama ini.

b.      Memberikan perincian dan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang masih mujmal/Global (bayan al-mujmal), memberikan batasan terhadap hal­hal yang masih belum terbatas di dalam Al-Qur’an (taqyiq al-mutlaq) memberikan kekhususan (takhs{i>s{) ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum (takhs{i>s{ al-'amm), dan memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang masih rumit di dalam Al-Qur’an (tawdih al-musykil).

Contoh yang Baya>n al-Mujmal:

Di dalam Al-Qur’an hanya disebutkan secara global tentang perintah shalat dan zakat, sebagaimana firman Allah:

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (٤٣)

dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'. (Qs. Al-Baqarah: 43)

 

Tetapi di dalamnya belum dijelaskan kaifiyat (cara-cara) menjalankan shalat, jumlah rakaat dalam shalat, nisab-nisab zakat dan lain sebagainya secara terperinci, dalam hal ini hanya dijumpai dalam Hadits-­Hadits Nabi SAW., misalnya Sabda Nabi SAW.:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِي

“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku menjalankan shalat”

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi saw memberikan contoh-contoh secara praktis tentang cara-cara menjalankan ibadah shalat.

c.       Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al Qur’an. Hal ini berarti bahwa ketetapan Hadits itu merupakan ketetapan yang bersifat tambahan hal-hal yang tidak disinggung oleh Al-Qur’an dan hukum-hukum atau aturan-aturan itu hanya berasaskan al-Hadits semata-mata. Misalnya larangan berpoligami bagi seseorang terhada orang wanita dengan bibinya, sebagaimana Sabda Nabi SAW.:

لاَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَ عَمَّتِهاَ وَ لاَ بَيْنَ الْمَرْأَ وَ خاَلَتِهاَ

"Tidak boleh dikawini bersama (berpoligami) antara seorang wanita dengan ‘ammah (saudari bapaknya) dan seorang wanita dengan khalah (saudari ibunya)".(HR. Bukhori dan Muslim).

 

Di dalam Al-Qur’an surat al-Nisa>’ ayat 23 disebutkan:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (٢٣)

Diharamkan atas kamu berpoligami di diantara dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.

 

Tuhan seolah-olah memperbolehkan orang berpoligami antara seorang wanita dengan bibinya, karena itu, Hadits di atas menetapkan hukum yang tidak dijumpai dalamm Al-Qur’an.

d.      Ketetapan Hadits itu bisa mengubah hukum dalam Al-Qur’an.

Misalnya Hadits nabi saw “لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ”  (tidak ada hak memperoleh wasiat bagi ahli waris). Hadits ini menasakh/mengubah ketetapan hukum dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah: 180:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ....

diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, ...(Qs. Al-Baqarah: 180).

 

Rabu, 21 April 2021

Kesungguhan Dalam Belajar


Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar, harus tekun. Seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur'an, "Dan orang-orang yang berjihad atau berjuang sungguh-sungguh untuk mencari (keridhaanku), maka benar-benar Aku akan tunjukkan mereka kepada jalan-jalan menuju keridhaan-Ku". Dikatakan barangsiapa bersungguh-sungguh mencari sesuatu tentu akan mendapatkannya. Dan siapa saja yang mau mengetuk pintu, dan maju terus, tentu bisa masuk.

 

Dengan kadar sengsaramu dalam berusaha kamu akan mendapat apa yang kamu dambakan. Dikatakan bahwa belajar dan memperdalam ilmu fiqih itu dibutuhkan adanya kesungguhan dari tiga orang, kesungguhan murid, guru dan ayah bila masih hidup.

 

Ustadz Sadiduddin mengalunkan syair gubahan Imam Syafi'i kepadaku,

"Kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh, dan bisa membuka pintu yang terkunci. Sungguh sangat banyak orang yang bercita-cita luhur bersedih, karena diuji dengan kemiskinan. Barangkali sudah menjad i suratan takdir dan keputusan Allah, bahwa banyak orang cerdas tapi miskin dan banyak orang bodoh yang kaya raya. Dan kedua hal tersebut tidak bisa dikumpulkan."

 

Penyair yang lain berkata,

"Kamu ingin menjadi orang ahli fiqih, tapi tak mau sengsara, itu artinua kamu gila. Mencari harta pun tidak akan berhasil tanpa kerja keras, dan harus tahan menghadapi penderitaan. Begitu juga mencari ilmu tidak akan berhasil tanpa kerja keras (sengsara)."

 

Abu Thoyyib berkata

"Sungguh naif orang yang mampu berusaha tapi tidak mau berusaha secara optimal."

 

Santri tidak boleh banyak tidur pada malam hari. Seperti dikatakan dalam syair, "Kemuliaan itu akan tercapai menurut kadar kesengsaraan. Barangsiapa ingin mencari kemuliaan, maka harus menginggalkankan tidur malam. Kamu ingin berkedudukan tinggi tapi kamu enak-enak tidur pada malam hari. Padahal orang yang mencari permata pun harus menyelam ke dalam lautan. Derajat yang luhur itu seiring dengan cita-cita yang luhur. Orang yang memperoleh kedudukan tinggi karena ia berjaga malam. Aku tidak tidur di waktu malam, ya Tuhanku, demi mencari keridhaanmu Ya Tuhan yang menjadikan seseorang menjadi tuan. Siapa ingin kedudukan tinggi tapi tidak mau kerja keras, itu artinya dia menyia-nyiakan usia. Mengharap sesuatu yang mustahil. Maka tolonglah kami, Ya Allah, dalam mencari ilmu dan tempatkanlah kami kepuncak kedudukan yang luhur." Para santri harus menggunakan waktu malam untuk belajar dan ibadah, supaya memperoleh kedudukan tinggi di sisi-Nya.

 

Penyusun kitab ini berkata: Bagiku, cukup menarik makna syair yang berbunyi, "Barangsiapa ingin meraih apa yang dicita-citakan, maka ia harus menjadikan waktu malamnya sebagai kendaraan untuk mengejar cita-citanya. Jangan banyak makan agar kamu tidak ngantuk. Hal itu jika Anda benar-benar ingin menggapai kesempurnaan."

 

Santri harus mengulang-ulang pelajarannya pada awal malam dan akhir malam. Yaitu antara Isya' dan waktu subuh, karena saat-saat tersebut diberkati.

Seorang penyair berkata, "Wahai para penuntut ilmu hiasilah dirimu dengan sifat wara' (menjauhi barang syubhat), jauhilah tidur, kurangilah makan, dan tekunlah belajar."

Para pelajar harus memanfaatkan masa mudanya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Perhatikan bait syair ini, "Dengan kadar kerja kerasmulah kamu akan diberi apa yang menjadi cita-citamu. Orang yang ingin sukses, harus sedikit mengurangi tidur malam. Gunakan masa mudamu sebaik-baiknya, karena masa muda adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang."

Seorang santri tidak boleh memaksakan diri hingga melebihi kekuatannya. Karena akan melemahkan tubuhnya, sehingga tidak mampu bekerja terlalu lelah. Mencari ilmu itu harus sabar. Pelan-pelan tapi kontinyu, sabar inilah pokok yang penting dari segala sesuatu.

Rasulullah SAW. bersabda, "Ketahuilah bahwa agama ini kukuh (banyak tugas), maka terlibatlah dalam urusan agama dengan pelan-pelan dan janganlah kamu buat dirimu bosan beribadah kepada Allah, karena orang yang mematahkan kendaraannya, tidak akan bisa menempuh perjalanan, bahkan akan kehilangan kendaraannya."

Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Badanmu adalah tungganganmu, maka kasihanilah padanya."

Santri harus bercita-cita tinggi, sebab orang itu tinggi derajatnya karena memang ia bercita-cita tinggi. Cita-cita itu ibarat sayap burung yang dipergunakan untuk terbang tinggi-tinggi. Abi Thayib berkata: "Kedudukan seseorang itu tergantung menurut cita-citanya. Dan kemuliaan akan tergapai oleh seseorang kalau cita-citanya tinggi dan mulia. Pangkat yang tinggi akan terasa berat meraihnya bagi orang yang berjiwa kerdil. Tapi bagi orang yang berjiwa besar, setinggi apa pun sebuah kedudukan, dianggap kecil atau ringan."

Modal paling pokok ialah kesungguhan. Segala sesuatu bisa dicapai asal mau bersungguh-sungguh dan bercita-cita luhur. Barang siapa bercita-cita ingin menguasai kitab-kitab Imam Muhammad bin Al Hasan, asal disertai dengan kesungguhan dan ketekunan, tentu dia akan menguasai seluruhnya, paling tidak sebagian.

Jika ada yang bercita-cita ingin pandai, tapi tidak mau bersungguh-sungguh dalam belajar, tentu dia tidak akan memperoleh ilmu kecuali sedikit.

Syaikh Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya, Makarimul Akhlak bahwa raja Zulqurnain ketika hendak pergi untuk menguasai Timur dan Barat, terlebih dahulu dia berunding dengan orang-orang yang bijaksana, dia berkata, "Bagaiamana aku harus pergi untuk mengejar kedudukan ini, sementara dunia ini amat sedikit dan segera sirna, dan kerajaan dunia, menurutku sangat remeh, dan bukan tergolong cita-cita yang luhur." Orang-orang bijaksana itu berkata, "Pergilah supaya kamu memperoleh kerajaan dunia dan akhirat." Dia menjawab, "Jika demikian, baiklah."

Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mencintai sesuatu yang luhur atau tinggi dan membenci sesutu yang rendah." Dikatakan oleh seorang penyair, "Janganlah kamu tergesa-gesa ingin mencapai sesuatu tapi cobalah terus bersabar (ulet), karena sabar itu ibarat air yang dapat melunakkan tongkat dari besi."

Dikatakan: Abu Hanifah berkata kepada Abi Yusuf, "Kami memang bodoh tapi itu bisa kamu usir dengan terus menerus belajar. Jauhilah sifat malas, sebab malas itu sumber keburukan dan kerusakan yang amat besar."

Syaikh Abu Nash Ash-Shaffar berkata dalam syairnya. "Oh jiwaku.. oh jiwaku, jangan menunda amal saleh, berbuat adil, dan berbuat ihsan, semua orang yang berbuat kebaikan akan senang, sebaliknya orang pemalas berada dalam bencana dan kesialan."

Syair tersebut semakna dengan perkataan Imam Mushannif, "Wahai jiwaku, tinggalkanlah bermalas-malasan dan menunda-nunda supaya kamu tidak menetap di dalam kehinaan. Aku tidak melihat bagian yang diberikan kepada para pemalas kecuali penyesalan karena gagal meraih cita-cita."

Dikatakan: "Penderitaan, kelemahan, dan penyesalan yang diderita manusia sering timbul dari rasa malas. Oleh karena itu jauhilah rasa malas, dan membicarakan hal-hal yang tidak jelas."

Disebutkat: Sungguh sifat malas itu timbul karena kurang perhatian terhadap keutamaan dari pentingnya ilmu. Oleh karena itu, santri harus berpayah-payah dalam menuntut ilmu.

Karena ilmu itu kekal, sedang harta benda akan sirna. Sebagaimana dikaakan Al bin Abi Thalib ra., "Aku senang menerima pemberian Tuhan Maha Perkasa. Kita diberi ilmu, dan musuh-musuh kita (orang-orang kafir) diberi harta benda. Karena harta akan segera sirna, sedangan ilmu itu abadi takkan pernah hilang."

Ilmu yang bermanfaat akan tetap dikenang sekalipun orang yang berilmu itu meninggal, karena ilmu yang bermanfaat itu abadi. Syaikh Murghinan berkata dalam sebuah syair, "Orang bodoh hakikatnya mati sebelum mati, dan orang yang berilmu tetap hidup sekalipun sudah mati."

Syaikh Burhanuddin berkata, "Orang bodoh itu mati sebelum mati. Tubuhnya ibarat kuburan bagi jiwanya. Sedangkan orang yang berilmu itu selamanya hidup, sekalipun tulangnya hancur dikalang tanah."
"Orang-orang bodoh itu mati, sekalipun dia berjalan-jalan di muka bumi ini. Keberadaan mereka sama dengan tidak ada atau tidak diperhitungkan."

Syaikh Burhanuddin berkata, "Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi melebihi ilmu, golongan manusia yang paling tinggi derajatnya adalah golongan manusia yang paling berilmu. Orang yang berilmu itu abadi karena dikenang orang, sedangkan orang yang bodoh, bila mati, tak ada yang mengenang."

"Kedudukan orang berilmu jauh lebih tinggi daripada raja dan panglima. Aku akan menerangkan keunggulan ilmu kepada kalian. Ketahuilah, ilmu itu laksana cahaya terang yang sempurna yang dapat menerangi jalan orang bodoh di sepanjang masa, orang yang berada dalam kebodohan. Ilmu itu laksanan puncak gunung yang tinggi yang dapat meneyelamatkan manusia dari bahaya banjir."

"Dengan ilmu orang akan selamat dari siksa akhirat. Sedangkan orang yang meremehkan ilmu akan menyesal di akhirat. Orang berilmu (ulama) dapat memberi syafaat kepada orang yang berlaku maksiat ketika ia digiring menuju jurang neraka. Orang yang mencari ilmu, berarti dia mencari segala-galanya. Dan orang yang memperoleh ilmu, berarti dia telah mencapai segalanya. Karena ilmu itu kedudukannya lebih luhur dari segala yang luhur. Renungkan hal ini, wahai para pelajar. Jika kamu telah memperoleh ilmu, maka jangan risau bila kamu gagal meraih kedudukan dunawi yang lain. Dan jangan cemas bila kamu tidak memiliki harta dunia dan kenikmatannya. Karena sebaik-baik pemberian adalah ilmu agama Islam. Terutama ilmu fiqih."

Sebagian ulama berkata, "Ilmu fiqih itu ilmu yang paling berharga yang sepatutnya kamu pelajari. Siapa yang mempelajari ilmu, maka tak akan habis kebanggaan ilmunya. Maka berjuanglah atau bersungguh-sungguhlah mempelajari sesuatu yang belum kamu ketahui."

Karena ilmu itu membawa keuntungan di dunia dan di akhirat. Lezatnya mempelajari ilmu fiqih dapat mendorong akal untuk memperoleh ilmu-ilmu yang lain. Rasa malas itu kadang timbul dari dahak dan karena kebanyakan kadar air. Cara menanggulanginya dengan mengurangi makan.

Tujuh puluh nabi telah sepakat bahwa lupa itu disebabkan kebanyakan dahak. Banyak dahak karena banyak minum. Dan banyak minum karena banyak makan. Roti kering dapat menghilangkan dahak. Makan anggur kering juga dapat menghilangkan dahak, tapi jangan banyak supaya tidak haus. Kalau banyak minum malah menambah dahak.

Bersiwak juga dapat mengurangi dahak, dapat menguatkan hafalan, dan menyebabkan fasih. Bersiwak itu hukumnya sunnah. Dapat menambah pahala salat dan pahala membaca Al-Qur'an. Muntah juga dapat mengurangi dahak dan kadar air.

Adapun cara mengurangi makan adalah dengan cara memikirkan manfaat makan sedikit itu, yaitu dapat menyehatkan badan, menumbuhkan sifat wara', dan sikap mengalah. Ada yang berkata, "Tercela, tercela, dan tercela orang yang celaka karena makanan."

Nabi Muhammad SAW. bersabda: "Ada tiga kelompok manusia yang dimurkai oleh Allah tanpa dosa, yaitu orang yang banyak makan, orang kikir, dan orang yang sombong."

Termasuk cara mengurangi makan ialah memikirkan bahayanya banyak makan, yaitu mudah terserang penyakit dan mengakibatkan bebalnya otak, termasuk malas. Dikatakan, perut yang penuh itu dapat menghilangkan kecerdasan.

Jalianus berkata, "Buah delima seluruhnya berguna, sedang ikan, seluruhnya membahayakan. Sedikit makan ikan lebih baik daripada banyak makan delima. Dan banyak makan itu pemborosan. Makan terlalu kenyang itu membahayakan. Dan bahkan karena banyak makan orang akan menerima siksa di akhirat. Orang yang banyak makan biasanya tidak disukai teman."

Cara mengurangi makan itu di antaranya adalah dengan mengurangi makanan yang berlemak. Jangan makan bersama orang-orang yang lapar. Boleh banyak makan kalau ada tujuan yang benar, misalnya supaya kuat berpuasa, supaya kuat salat, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat.


Kesimpulan Kesungguhan itu dapat mendekatkan sesuatu yang jauh, dan bisa membuka pintu yang terkunci. syair imam Syafi'i. Para penuntut ilmu jika ingin meraih kesuksesan maka harus bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu atau bersungguh sungguh dalam meraih cita-cita nya, tidak ada orang sukses karena kemalasan. Ada beberapa hal yg harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu yaitu: 1. Jangan malas atau banyak tidur , usahakan bangun ditengah malam utk belajar dan bermunajat kepada Allah SWT. 2. Jangan banyak makan sehingga akan timbul kemalasan dan ketidakseriusan karena akibat kekenyangan 3. Sabar dalam segala hal apalagi dalam urusan belajar dan meraih cita-cita, karena kesuksesan itu butuh kesabaran dan waktu yg lama. Semoga apa yg dipresentasikan hari ini bermanfaat dan penuh berkah utk kita semua Amien.

 

Jumat, 09 April 2021

Objek kajian Islam ketiga (Akhlak)

 

Pertemuan Ke-5

 Pendahuluan

Akhlaq merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran tentang tata perilaku atau sopan santun. Atau dengan kata lain akhlaq dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur perilaku manusia. Dalam pembahasan akhlaq diatur mana perilaku yang tergolong baik dan perilaku buruk. Akhhlak maupun syari‘ah pada dasarnya membahas perilaku manusia, yang berbeda di antara keduanya adalah obyek materi. Syari‘ah melihat perbuatan manusia dari segi hukum, yaitu wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan akhlaq melihat perbuatan manusia dari segi nilai atau etika, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Akhlaq merupakan bagian yang sangat penting dalam ajaran Islam, karena perilaku manusia merupakan obyek utama ajaran Islam. Bahkan maksud diturunkannya agama adalah untuk mem­bimbing sikap dan perilaku manusia agar sesuai dengan fitrahnya. Agama menyuruh manusia agar meninggalkan kebiasaan buruk, dan menggantikannya dengan sikap dan perilaku yang baik. Agama menuntun manusia agar memelihara dan mengembangkan kecenderungan mental yang bersih dan jiwa yang suci. Karena itulah Rasul bersabda:

 

"Tiadalah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq dan perilaku manusia."

Alhasil, akhlaq merupakan sistem etika Islam. Sebagai sistem, akhlaq memiliki spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk lainnya, serta terhadap Tuhannya.

 

 

Pengertian

Secara Etimologi, Akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari Khuluq yang memiliki arti perilaku, watak atau tabiat. Ada tiga dimensi akhlak (hubungan baik antara Khaliq dengan Makhluq (Hablumminallah), antara Makhluq dengan Makhluq  Hablumminannas). Antara makhluq dengan lingkungan (hablumminalbi’ah).

Menurut Imam Al-Ghazali yang terkenal dengan sebutan Hujjatul Islam, “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu”.   

 

Urgensi Akhlak

Perilaku manusia selalu bersesuaian dengan nilai dan sifat yang telah tetap dan melekat di dalam qalbunya. Al-Ghazali berkata: “Semua sifat yang terdapat di dalam qalbu, pasti pengaruhnya akan terlihat dalam perilaku, sehingga manusia tidak akan berperilaku kecuali pasti telah sesuai dengan apa yang ada di dalam qalbunya.” Sesungguhnya sikap manusia untuk berbuat atau tidak berbuat, selalu dia timbang dengan menggunakan akhlak sebagai ukurannya, jadi benar dan tidaknya sikap tersebut tergantung pada nilai akhlak yang ada pada qalbunya.

Sebagai sebab diturunkannya risalah. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Bukhari) Sebagai definisi dari agama. Rasulullah Saw ditanya, ‘apakah agama itu? Rasul menjawab: “Agama adalah akhlak yang baik”(HR. Ahmad). Mengantarkan pada iman yang sempurna. Rasulullah Saw bersabda: “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.”(HR. Ahmad) Penyebab masuk surga. Rasulullah Saw ditanya; ‘apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga? Rasulullah Saw menjawab: “Akhlak yang baik.” Rasulullah Saw ditanya, ‘apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka? Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR Tirmidzi). Allah Swt mensifati Rasulullah Saw dengan “Husnul Khuluk”(an-Nisaa’: 67). Ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, beliau menjawab: “akhlak beliau Saw adalah Al-Qur’an.”

 

Etika pergaulan dalam islam

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Istilah pergaulan berarti kegiatan manusia untuk membaur bersama manusia lainnya dan berinteraksi satu sama lain. Dalam islam pergaulan diatur sedemikian mungkin sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti halnya konflik dan lain sebagainya. Seoerti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan berasal dari berbagai suku dan Allah menghendaki manusia untuk saling mengenal satu sama lain sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat: 13).

 

Dalam agama islam ada beberapa aspek atau hal menyangkut pergaulan yang harus diketahui diantaranya adalah dengan siapa kita bergaul dan bagaimana cara bergaul dengan orang lain. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini mengenai pergaulan dalam islam .

1.      Pergaulan dengan sebaya

Teman sebaya atau karib adalah orang-orang atau teman yang usianya tidak terpaut jauh dengan kita baik sama maupun lebih muda. Adapun dalam bergaul dengan teman sebaya kita harus senantiasa berbuat baik dan mengutamakan akhlak yang mulia (baca cara meningkatkan akhlak terpuji). Hal-hal yang perlu diperhatika dalam pergaulan dengan teman sebaya antara lain

  • Mengucapkan salam setiap bertemu dengan teman sebaya dan sesama muslim. Jika perlu kita bisa berjabat tangan tentunya jika orang tersebut berjenis kelamin sama ataupun mahram kita.
  • Mengucapkan salam hukumnya sunnah bagi umat islam dan menjawab salam hukumnya wajib.
    Senantiasa menyambung tali silaturahmi dengan saling berkunjung dan berkumpul untuk hal-hal yang baik maupun belajar bersama (baca 
    keutamaan menyambung tali silaturahmi). Hal ini akan semakin memperkuat ukhuwah islamiyah diantara para pemuda pada umumnya (baca pengertian ukhuwah islamiyah, ihsaniyah dan wathoniyah)
  • Saling mengerti serta memahami kebaikan dan kekurangan masing-masing dan menghindari segala macam jenis perselisihan
  • Teman sebaya hendaknya saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan menolong teman sebaya yang sedang dalam kesusahan tentunya sangat dicintai Allah SWT misalnya dengan cara bersedekah (baca keutamaan bersedekah)
  • Mengasihi dan memberi perhatian satu sama lain terutama jika ada teman yang sedang kesusahan atau ditimpa suatu masalah, kita sebagai teman wajib mendukung dan bila perlu memberi pertolongan
  • Senantiasa menjaga teman dari pengaruh buruk atau gangguan orang lain
  • Memberikan nasihat kebaikan satu sama lain
  • Mendamaikan teman jika ada yang berselisih
  • Mendoakan teman agar mereka senantiasa berada dalam kebaikan
  • Menjenguknya jika ia sakit, datang jika diberi undangan serta mengantarkannya ke makam jika ia meninggal sesuai dengan hadits berikut ini

 

 

 

2.      Pergaulan dengan orang yang lebih tua

Adapun islam senantiasa mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan orang yang lebih tua dari kita, menghormati dan menghargainya. Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam bergaul dengan orang yang lebih tua adalah

  • Menghormati mereka dengan sepenuh hati dan senantiasa mengikuti nasihat mereka dalam kebaikan
  • Mencontoh tingkah laku mereka yang baik dan menjadikannya pelajaran
  • Memberi salam setiap kali bertemu dan senantiasa bertutur kata dengan lemah lembut dan menjaga sopan santun
  • Tidak berkata kasar pada mereka dan menjaga perasaannya walaupun ia berkata tidak baik, janganlah kita membalasnya dengan perkataan yang tidak baik juga untuk menghidari konflik terutama konflik dalam keluarga
  • Senantiasa mendoakan terutama jika mereka adalah orangtua atau saudara kita

3.      Pergaulan dengan lawan jenis

Hal yang perlu diperhatikan dan tak kalah penting dalam pergaulan islam adalah tata cara bergaul dengan lawan jenis. Islam sendiri mengatur pola hubungan antara pria dan wanita serta memisahkan keduanya sesuai dengan syariat yang berlaku. Adapun hal-hal yang perlu kita ketahui dan pegang dengan teguh mencakup hal-hal berikut ini :

  • Menghindari berkhalwat atau berdua-duaan seperti halnya dalam pacaran (baca pacaran dalam islam) apalagi jika sampai memiliki hubungan pacaran beda agama. Dikhawatirkan jika berkhalwat tersebut dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti zina dan lain sebagainya.

“Jauhilah berkhalwat dengan perempuan. Demi (Allah) yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah berkhalwat seorang laki-laki dengan seorang perempuan kecuali syetan akan masuk di antara keduanya.” (HR. al- Thabarani).

  • Tidak memandang lawan jenis dengan syahwat atau pandangan nafsu. Hindari memandang lawan jenis kecuali jika benar-benar diperlukan
  • Hindari berjabat tangan dengan lawan jenis kecuali mahram (baca pengertian mahram dan muhrim dalam islam) maupun jabat tangan antara suami dan istri
  • Menutup aurat jika bertemu dengan lawan jenis sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut

“Tidak dibolehkan seorang laki-laki melihat aurat (kemaluan) seorang laki-laki lain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidakboleh seorang laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu selimut baju, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berselimut dengan sesama perempuan dalam satu baju.” (HR. Muslim).

Hendaknya menghindari perbuatan yang menjurus pada zina (baca zina dalam islam) seperti bersentuhan, berpelukan, berpegangan tangan, berciuman apalagi sampai melakukan zina dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil diluar nikah (baca hukum hamil diluar nikah dan hukum menikah saat hamil) sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al isra ayat 32 yang berbunyi

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Demikianlah penjelasan pergaulan dalam islam berisi tentang etika dan sistem pergaulan yang diatur dalam islam. Dalam bergaul dengan sesama manusia hendaknya kita selalu memperhatikan hal-hal tersebut. Adapun orangtua wajib mengetahui cara mendidik anak  dengan pendidikan dalam islam yang sesuai dan orangtua wajib mendidik anak dalam islam sejak dini agar ia dapat bergaul dengan baik dikemudian hari.

 

Keterkaitan Antara Aqidah, Syari‘Ah, Dan Akhlaq

Aqidah, syari‘ah dan akhlaq pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran Islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibeda­kan tetapi tidak bisa dipisahkan.

Aqidah sebagai sistem kepercayaan yang bermuatan elemen elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syari‘ah sebagai sistem nilai berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlaq sebagai sistem etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai agama. Oleh karena itu ketiga komponen tersebut se­yogyanya terintegrasi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketigai komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon, akar­nya adalah aqidah, sementara batang, dahan dan daunnya adalah, syari‘ah, sedangkan buahnya adalah akhlaq.

Muslim yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syari‘ah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlaq yang terpuji pada dirinya. Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh aqidah atau keimanan, maka orang itu termasuk ke dalam kategori kafir. Seseorang yang mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syari‘ah, maka orang itu disebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syari‘ah tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus disebut munafik.

Aqidah, syari‘ah, dan akhlaq dalam Al-Qur’an disebut Iman dan amal saleh. Iman menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syari‘ah dan akhlaq.

Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah. Sedangkan perbuatan baik yang didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syari‘ah disebut amal saleh. Karena itu di dalam Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata Iman, antara lain dalam Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang berIman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaImana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.(Qs. Al-Nur: 55)