Jumat, 09 April 2021

Objek kajian Islam ketiga (Akhlak)

 

Pertemuan Ke-5

 Pendahuluan

Akhlaq merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang berisi ajaran tentang tata perilaku atau sopan santun. Atau dengan kata lain akhlaq dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur perilaku manusia. Dalam pembahasan akhlaq diatur mana perilaku yang tergolong baik dan perilaku buruk. Akhhlak maupun syari‘ah pada dasarnya membahas perilaku manusia, yang berbeda di antara keduanya adalah obyek materi. Syari‘ah melihat perbuatan manusia dari segi hukum, yaitu wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan akhlaq melihat perbuatan manusia dari segi nilai atau etika, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Akhlaq merupakan bagian yang sangat penting dalam ajaran Islam, karena perilaku manusia merupakan obyek utama ajaran Islam. Bahkan maksud diturunkannya agama adalah untuk mem­bimbing sikap dan perilaku manusia agar sesuai dengan fitrahnya. Agama menyuruh manusia agar meninggalkan kebiasaan buruk, dan menggantikannya dengan sikap dan perilaku yang baik. Agama menuntun manusia agar memelihara dan mengembangkan kecenderungan mental yang bersih dan jiwa yang suci. Karena itulah Rasul bersabda:

 

"Tiadalah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq dan perilaku manusia."

Alhasil, akhlaq merupakan sistem etika Islam. Sebagai sistem, akhlaq memiliki spektrum yang luas, mulai sikap terhadap dirinya, orang lain, dan makhluk lainnya, serta terhadap Tuhannya.

 

 

Pengertian

Secara Etimologi, Akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari Khuluq yang memiliki arti perilaku, watak atau tabiat. Ada tiga dimensi akhlak (hubungan baik antara Khaliq dengan Makhluq (Hablumminallah), antara Makhluq dengan Makhluq  Hablumminannas). Antara makhluq dengan lingkungan (hablumminalbi’ah).

Menurut Imam Al-Ghazali yang terkenal dengan sebutan Hujjatul Islam, “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu”.   

 

Urgensi Akhlak

Perilaku manusia selalu bersesuaian dengan nilai dan sifat yang telah tetap dan melekat di dalam qalbunya. Al-Ghazali berkata: “Semua sifat yang terdapat di dalam qalbu, pasti pengaruhnya akan terlihat dalam perilaku, sehingga manusia tidak akan berperilaku kecuali pasti telah sesuai dengan apa yang ada di dalam qalbunya.” Sesungguhnya sikap manusia untuk berbuat atau tidak berbuat, selalu dia timbang dengan menggunakan akhlak sebagai ukurannya, jadi benar dan tidaknya sikap tersebut tergantung pada nilai akhlak yang ada pada qalbunya.

Sebagai sebab diturunkannya risalah. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Bukhari) Sebagai definisi dari agama. Rasulullah Saw ditanya, ‘apakah agama itu? Rasul menjawab: “Agama adalah akhlak yang baik”(HR. Ahmad). Mengantarkan pada iman yang sempurna. Rasulullah Saw bersabda: “Seorang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.”(HR. Ahmad) Penyebab masuk surga. Rasulullah Saw ditanya; ‘apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga? Rasulullah Saw menjawab: “Akhlak yang baik.” Rasulullah Saw ditanya, ‘apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka? Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR Tirmidzi). Allah Swt mensifati Rasulullah Saw dengan “Husnul Khuluk”(an-Nisaa’: 67). Ketika ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, beliau menjawab: “akhlak beliau Saw adalah Al-Qur’an.”

 

Etika pergaulan dalam islam

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Istilah pergaulan berarti kegiatan manusia untuk membaur bersama manusia lainnya dan berinteraksi satu sama lain. Dalam islam pergaulan diatur sedemikian mungkin sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti halnya konflik dan lain sebagainya. Seoerti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan berasal dari berbagai suku dan Allah menghendaki manusia untuk saling mengenal satu sama lain sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat: 13).

 

Dalam agama islam ada beberapa aspek atau hal menyangkut pergaulan yang harus diketahui diantaranya adalah dengan siapa kita bergaul dan bagaimana cara bergaul dengan orang lain. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan berikut ini mengenai pergaulan dalam islam .

1.      Pergaulan dengan sebaya

Teman sebaya atau karib adalah orang-orang atau teman yang usianya tidak terpaut jauh dengan kita baik sama maupun lebih muda. Adapun dalam bergaul dengan teman sebaya kita harus senantiasa berbuat baik dan mengutamakan akhlak yang mulia (baca cara meningkatkan akhlak terpuji). Hal-hal yang perlu diperhatika dalam pergaulan dengan teman sebaya antara lain

  • Mengucapkan salam setiap bertemu dengan teman sebaya dan sesama muslim. Jika perlu kita bisa berjabat tangan tentunya jika orang tersebut berjenis kelamin sama ataupun mahram kita.
  • Mengucapkan salam hukumnya sunnah bagi umat islam dan menjawab salam hukumnya wajib.
    Senantiasa menyambung tali silaturahmi dengan saling berkunjung dan berkumpul untuk hal-hal yang baik maupun belajar bersama (baca 
    keutamaan menyambung tali silaturahmi). Hal ini akan semakin memperkuat ukhuwah islamiyah diantara para pemuda pada umumnya (baca pengertian ukhuwah islamiyah, ihsaniyah dan wathoniyah)
  • Saling mengerti serta memahami kebaikan dan kekurangan masing-masing dan menghindari segala macam jenis perselisihan
  • Teman sebaya hendaknya saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan menolong teman sebaya yang sedang dalam kesusahan tentunya sangat dicintai Allah SWT misalnya dengan cara bersedekah (baca keutamaan bersedekah)
  • Mengasihi dan memberi perhatian satu sama lain terutama jika ada teman yang sedang kesusahan atau ditimpa suatu masalah, kita sebagai teman wajib mendukung dan bila perlu memberi pertolongan
  • Senantiasa menjaga teman dari pengaruh buruk atau gangguan orang lain
  • Memberikan nasihat kebaikan satu sama lain
  • Mendamaikan teman jika ada yang berselisih
  • Mendoakan teman agar mereka senantiasa berada dalam kebaikan
  • Menjenguknya jika ia sakit, datang jika diberi undangan serta mengantarkannya ke makam jika ia meninggal sesuai dengan hadits berikut ini

 

 

 

2.      Pergaulan dengan orang yang lebih tua

Adapun islam senantiasa mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan orang yang lebih tua dari kita, menghormati dan menghargainya. Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam bergaul dengan orang yang lebih tua adalah

  • Menghormati mereka dengan sepenuh hati dan senantiasa mengikuti nasihat mereka dalam kebaikan
  • Mencontoh tingkah laku mereka yang baik dan menjadikannya pelajaran
  • Memberi salam setiap kali bertemu dan senantiasa bertutur kata dengan lemah lembut dan menjaga sopan santun
  • Tidak berkata kasar pada mereka dan menjaga perasaannya walaupun ia berkata tidak baik, janganlah kita membalasnya dengan perkataan yang tidak baik juga untuk menghidari konflik terutama konflik dalam keluarga
  • Senantiasa mendoakan terutama jika mereka adalah orangtua atau saudara kita

3.      Pergaulan dengan lawan jenis

Hal yang perlu diperhatikan dan tak kalah penting dalam pergaulan islam adalah tata cara bergaul dengan lawan jenis. Islam sendiri mengatur pola hubungan antara pria dan wanita serta memisahkan keduanya sesuai dengan syariat yang berlaku. Adapun hal-hal yang perlu kita ketahui dan pegang dengan teguh mencakup hal-hal berikut ini :

  • Menghindari berkhalwat atau berdua-duaan seperti halnya dalam pacaran (baca pacaran dalam islam) apalagi jika sampai memiliki hubungan pacaran beda agama. Dikhawatirkan jika berkhalwat tersebut dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti zina dan lain sebagainya.

“Jauhilah berkhalwat dengan perempuan. Demi (Allah) yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah berkhalwat seorang laki-laki dengan seorang perempuan kecuali syetan akan masuk di antara keduanya.” (HR. al- Thabarani).

  • Tidak memandang lawan jenis dengan syahwat atau pandangan nafsu. Hindari memandang lawan jenis kecuali jika benar-benar diperlukan
  • Hindari berjabat tangan dengan lawan jenis kecuali mahram (baca pengertian mahram dan muhrim dalam islam) maupun jabat tangan antara suami dan istri
  • Menutup aurat jika bertemu dengan lawan jenis sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut

“Tidak dibolehkan seorang laki-laki melihat aurat (kemaluan) seorang laki-laki lain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidakboleh seorang laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu selimut baju, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berselimut dengan sesama perempuan dalam satu baju.” (HR. Muslim).

Hendaknya menghindari perbuatan yang menjurus pada zina (baca zina dalam islam) seperti bersentuhan, berpelukan, berpegangan tangan, berciuman apalagi sampai melakukan zina dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil diluar nikah (baca hukum hamil diluar nikah dan hukum menikah saat hamil) sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al isra ayat 32 yang berbunyi

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Demikianlah penjelasan pergaulan dalam islam berisi tentang etika dan sistem pergaulan yang diatur dalam islam. Dalam bergaul dengan sesama manusia hendaknya kita selalu memperhatikan hal-hal tersebut. Adapun orangtua wajib mengetahui cara mendidik anak  dengan pendidikan dalam islam yang sesuai dan orangtua wajib mendidik anak dalam islam sejak dini agar ia dapat bergaul dengan baik dikemudian hari.

 

Keterkaitan Antara Aqidah, Syari‘Ah, Dan Akhlaq

Aqidah, syari‘ah dan akhlaq pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran Islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibeda­kan tetapi tidak bisa dipisahkan.

Aqidah sebagai sistem kepercayaan yang bermuatan elemen elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syari‘ah sebagai sistem nilai berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlaq sebagai sistem etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai agama. Oleh karena itu ketiga komponen tersebut se­yogyanya terintegrasi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketigai komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon, akar­nya adalah aqidah, sementara batang, dahan dan daunnya adalah, syari‘ah, sedangkan buahnya adalah akhlaq.

Muslim yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syari‘ah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlaq yang terpuji pada dirinya. Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh aqidah atau keimanan, maka orang itu termasuk ke dalam kategori kafir. Seseorang yang mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syari‘ah, maka orang itu disebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syari‘ah tetapi dengan landasan aqidah yang tidak lurus disebut munafik.

Aqidah, syari‘ah, dan akhlaq dalam Al-Qur’an disebut Iman dan amal saleh. Iman menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syari‘ah dan akhlaq.

Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah. Sedangkan perbuatan baik yang didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syari‘ah disebut amal saleh. Karena itu di dalam Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata Iman, antara lain dalam Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang berIman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaImana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.(Qs. Al-Nur: 55)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar