PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
merupakan salah satu mahluk yang diciptakan oleh Allah dengan beberapa
kelebihan husunya kefitraan manusia yang memiliki karakter dasar sebagai mahluk
yang cendrung berbuat baik, memiliki kasih sayang dan bertingkah laku yang baik
dalam Islam biasa dikenal dengan sebutan manusia yang memiliki akhlak
karimah atau budipekerti yang mulia. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi
Muhammad SAW, diutus oleh Allah kemuka bumi hanya untuk menyempurnakan akhlak
ummatnya. Pesan tentang prilaku baik itu sangat agung dalam Al-Quran sehingga Fazlur
Rahman mengatakan: “Al-Quran ibarat puncak dari gunung es yang terapung,
Sembilan persepuluh darinya terendam dibawah air sejarah dan hanya sepersepuluh
darinya yang tampak dipermukaan air.[1]
Sungguh
tidak aka nada yang mampu untuk menggali dan memahami secara mendalam konsep
akhlak dalam Al-Quran, secara komprehenship kecuali mereka yang tenggelam di
dalamnya.
Begitu
dalam kandungan ayat-ayat suci Al-Quran sehingga untuk memehaminya dibutuhkan
sebuah teori yang bukan hanya dapat memahami isi kandungan Al-Quran secara
integral, akan tetapi juga mampu menghasilkan penafsiran-penafsiran yang dapat
menyelesaikan problem-problem kekinian. Dalam pandanmgan umat Islam Al-Quran merupakan
teks yang diwahyukan oleh Allah swt. Kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman
dan petunjuk bagi umat manusia.[2]
Salah
satu ayat yang mengetengahkan pentingnya pendidikan akhlak adalah QS. Ali Imran
: 159-160. Menurut Quraish Syihab, ayat ini tentang pentinnya sikap lemah
lembut dan tidak bersikap keras terhadap sesame, pesan akhlak yang begitu kuat
dalam ayat ini.
Ajaran musyawarah untuk
menentukan keputusan bersama dan bertanggung jawab atas keputusan yang sudah
dibuat dengan lapang dada terekam secara jelas. Dengan adanya latar belakang
diatas maka penulis mengambil judul pembahasan urgensi pendidikan akhlak
dalam QS. Ali Imran 159-160.
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari
uraian dan permasalahan tersebut diatas, makalah ini difokuskan dalam tiga
permasalahan yang dapat diasumsikan sebagai problem dalam pendidikan islam dan
dirumuskan sebagai berikut:
1.
Apa pengertian pendidikan akhlak ?
2.
Nilai-nilai ahklak apa yang terkandung dalam Q.S. Ali
Imran 159-160 ?
3.
Bagaimana konsep pendidikan ahlak dalam perspektif Q.S.
Ali Imran 159-160 ?
4.
Apa implekasinya dalam pendidikan Islam di sekolah ?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan husus dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian pendidikan akhlak
2.
Untuk mengetahui nilai-nilai ahklak apa yang terkandung
dalam Q.S. Ali Imran 159-160
3.
Untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan ahlak dalam
perspektif Q.S. Ali Imran 159-160
4.
Untuk mengetahui apa implekasinya dalam pendidikan Islam
di sekolah
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Akhlak
Dalam pengertian ini penulis membagi
dua pengertian pertama pengertian tentang pendidikan kedua
pengertian tentang akhlak
Pendidikan berasal dari kata didik yang
diberi awalan pe dan akhiran kan, mengandung arti perbuatan (hal,
cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani,
yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003[3]
tentang sistem pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa
"Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara".
M. Arifin dalam bukunya[4]
Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner mengatakan bahwa: "Pendidikan adalah latihan mental,
moral, dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi, maka
pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa
tanggungjawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang
berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia".
Menurut Athiyah al-Abrasyi seperti dikutip Ramayulis,
"Pendidikan (Islam) adalah adalah mempersiapkan manusia supaya hidup
dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna
budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam
pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan atau tulisan".[5]
Kata Akhlak berasal dari bahasa Arab,
jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai,
tingkah laku dan tabiat. Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan
yang diulang-ulang sehingga menjadi biasa. Perkataan ahklak sering disebut
kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia, moral, ethnic dalam
bahasa Inggris, dan ethos, ethios dalam bahasa Yunani. Kata tersebut
mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti
kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti
pencipta, demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Adapun definisi akhlak menurut istilah
adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena
kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Senada dengan hal ini Ibnu Maskawaih
mengatakan bahwa akhlak adalah:
حَالُ النَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا
اِلٰى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
Sikap jiwa seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan
(terlebih dahulu)”.
Menurut Imam Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin[6],
mengatakan akhlak:
اَلْخُلُقُ
عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ
بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلٰى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah dengan tidak
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Selanjutnya Abuddin Nata dalam bukunya Pendidikan Dalam
Persfektif Hadits mengatakan bahwa ada lima ciri yang terdapat dalam
perbuatan akhlak. Pertama perbuatan akhlak tersebut sudah menjadi
kepribadian yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Kedua perbuatan
akhlak merupakan perbuatan yang dilakukan dengan acceptable dan tanpa
pemikiran (unthouhgt). Ketiga, perbuatan akhlak merupakan
perbuatan tanpa paksaan. Keempat, perbuatan dilakukan dengan sebenarnya
tanpa ada unsur sandiwara. Kelima, perbuatan
dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.[7]
Dari pengertian kedua hal diatas dapat
disimpulkan bahwa Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral
dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh
anak masa analisa hingga menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap
mengarungi lautan kehidupan.[8]
Jika ilmu akhlak atau pendidikan akhlak
tersebut diperhatikan dengan seksama akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan
ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian
menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau
perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak juga dapat disebut sebagai ilmu yang berisi
pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai
atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong
kepada perbuatan baik atau buruk.
B.
Nilai-Nilai Ahklak Yang Terkandung Dalam Q.S. Ali Imran
159-160
Allah berfirman dalam surat ali imran ayat 159-160
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّ غَليِظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا
مِنْ حَوْلِكَ , فَا عْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فىِ الْأمْرِ
, فَإذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلىَ اللهِ , اِنَّ اللهَ يُحِبُّ المتُوَكِّلِيْنَ.
اِنْ يَنْصُركُمُ
اللهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَاِنْ يَخْذِ لْكُمْ فَمَنْ ذَالَّذِى يَنْصُركُمْ مِنْ
بَعْدِهِ, وَعَلىَ اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ المؤْمِنُوْنَ.
Artinya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentunya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan musyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu membulatkan tekad, maka
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepadaNya.
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah
orang yang mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak member
pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari
Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakkal.[9]
Dari
ayat diatas, dengan terlihat sekilat asbabul nuzulnya adalah pasca
terjadinya perang uhud, dimana kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi beliau
(Nabi Muhammad SAW) tetap bersikap lemah
lembut[10]
dan tidak marah terhadap yang melanggar (strategi) itu bahkan memaafkannya, dan
memohonkan utuk mereka ampunan dari Allah swt. Sikap kasih sayang (memaafkan)
dengan mengedepankan akhlakul karimah menjadi suatu hal yang sangat penting
dalam segala proses regulasi ketika terjadi kemerosotan dan ketidak normalan perilaku
manusia, lebih lebih prilaku siswa pada saat ini yang memperihatinkan.
C.
Konsep pendidikan Ahlak Dalam Perspektif Q.S. Ali Imran
159-160
Pendidikan
akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai,
tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak masa analisa
hingga menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan
kehidupan.
Jika ingin membuat konsep-konsep pendidikan yang mengacu
pada ajaran Islam maka penting untuk melihat landasan Islam itu sendiri. Oleh
karena itu metodologi pendidikan akhlak yang ada pun harus diambil dari
landasan Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini
sesuai dengan hadits Rasulullah yang mengatakan, “Sesungguhnya telah aku
tinggalkan kepadamu dua perkara yang bila kamu berpegang teguh kepadanya pasti
tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnahku” (HR.
Bukhari). Keduanya menjadi basis atau dasar dalam pendidikan Islam tersebut.
Al-quran dapat dikatakan sebagai kitab pendidikan dan
pengajaran, sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil Al-Jamali menyatakan
sebagai berikut :
Pada
hakekatnya Al-Quran adalah merupakan pembendaharaan besar untuk kebudayaan
manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya adalah merupakan kitab
pendidikan kemasyarakatan, Moril (akhlak) dan Spritual (kerohanian).[11]
Selanjutnya dapat pula dipahami bahwa manusia yang
dilahirkan secara fitrah/suci memiliki dimensi kasih sayang dan perasaan lemah
lembut terhadap siapapun, oleh karenanya pendidikan yang hingga saat ini
menjadi garda depan pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil) menjadi sebuah
keharusan untuk mengintegrasikan intelektualitas dan akhlakul karimah yang ada,
sebagaimana yang disampaikan oleh guru besar pendidikan agama islam Ahmad
Tafsir, menyakini selama dari atas belum memberikan keteladanan (uswah) kepada
bawahannya (siswa) sulit untuk mengharapkan perbaikan akhlak peserta didik
melalui pendekatan keteladanan[12]
Akhlak yang baik adalah keteladanan sebagaimana
keteladanan Nabi Muhammad saw, yang tertera dalam kitab suci Al-Quran Surat
Al-Ahzab : 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْأٰخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا (٢١)
Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)[13]
Sifat lemah lembut dan kasih sayang merupakan akhlak karimah, yang dimiliki
manusia sejak lahir dan dibentuk melalui proses pendidikan yang baik, sebaik
baiknya manusia adalah yang yang paling mulya akhlaknya karena akhlak yang
mulya merupakan ciri keimanan sesorang yang sempurna, Sebagimana
hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
(رواه أحمد)
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang
yang paling baik budi pekertinya. (HR. Ahmad).
Ini artinya akhlak memiliki peranan dan porsi atau domain
yang sangat vital dalam proses pendidikan yang ada saat ini, artinya sebagai
penegasan bahwa akhlak tidak dapat dikesampingkan dalam proses pendidikan yang
ada saat ini, karena banyak pendidikan yang mengedepankan aspek kognitif saja
sehingga menyimpang dari tujuan pendidikan dimana pendidikan berupaya untuk membentuk
anak didik menjadi manusia seutuhnya.
D.
Implikasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Pendidikan Islam Di
Sekolah
Pendidikan
Islam merupakan pendidikan yang integral dan berkesinambungan serta mencakup
semua aspek kepribadian manusia. Aspek-aspek yang diperhatikan oleh pendidikan
Islam adalah: jasad, akal, akidah, emosi, estetika dan sosial. Karena itu,
pendidikan Islam harus diarahkan untuk pengembangan aspek-aspek tersebut kepada
hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, pendidikan
Islam ingin membentuk manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas
kekhalifahannya serta memerkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan yang
dimaksud tetap bersumber dan bermuara pada Allah.[14]
Pendidikan
Islam berbeda dengan pendidikan Barat sekuler, terutama pendidikan Islam tidak
hanya didasarkan oleh hasil pemikiran manusia dalam mencapai kemaslahatan umum
dan humanism universal namun dasar pokok pemikiran Islam adalah al-Quran
dan Hadis.[15]
Menurut
al-Qabisi, tujuan pendidikan Islam itu adalah upaya menyiapkan peserta didik
agar menjadi muslim yang dapat menyesuaikan hidupnya sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam. Dengan tujuan ini diharapkan peserta didik juga mampu
memiliki pengetahuan dan mampu mengamalkan ajaran Islam, karena hidup di dunia
ini tidak lain adalah jembatan menuju hidup di akhirat. Ibnu
Taimiyah
memandang bahwa tujuan pendidikan Islam itu salah satunya adalah pembinaan pribadi
muslim yang mampu berpikir, merasa dan berbuat sebagaimana diperintahkan oleh
ajaran Islam, terutama dalam menanamkan akhlak Islam, seperti bersikap benar
dalam segala aspek kehidupan.[16]
Pendidikan
akhlak merupakan sub/bagian pokok dari materi pendidikan agama, karena
sesungguhnya agama adalah akhlak, sehingga kehadiran nabi Muhammad ke muka bumi
pun dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia yang ketika itu sudah mencapai
titik nadir. Anak perempuan dibunuh hidup-hidup, fanatisme kesukuan mendarah
daging, terhadap kebenaran banyak yang melawan, serta terlalu banyak tindak
kemungkaran lain yang mereka lakukan.[17]
Fairuzzabdi
berkata, “ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barangsiapa memiliki
akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas empat
landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian dan
keadilan”.[18]
Karena agama adalah akhlak, maka tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa
apa yang baik menurut akhlak adalah yang baik pula menurut agama. Karena besar
peran pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian anak manusia maka semua
filosof muslim sepakat bahwa pendidikan akhlak merupakan jiwa atau esensi
pendidikan Islam, karena tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mendidik
jiwa dan akhlak.[19]
Dalam kaitannya
dengan pendidikan akhlak tersebut, para pakar pendidikan Islam mengatakan bahwa
tujuan pendidikan dan pengajaran bukanlah sekedar mentransfer berbagai macam
ilmu pengetahuan kedalam otak anak didik terhadap apa-apa yang belum mereka
ketahui, akan tetapi lebih dari itu ada tujuan yang lebih utama yaitu mendidik
akhlak mereka.[20]
Apa yang telah
dilakukan Lukman al-Hakim dalam memberikan dasar bagi pendidikan anaknya
sangatlah tepat karena hanya keimanan yang benarlah yang akan sanggup
membuahkan akhlak karimah didalam diri seseorang, sehingga anak yang tumbuh
di atas pondasi keimanan yang kuat dia akan memiliki kemampuan untuk menerima
dan melakukan setiap yang baik menurut kriteria agama dan menjauhi serta
meninggalkan semua yang mengandung nilai-nilai kejahatan yang dilarang agama. [21]
Di antara
tujuan pendidikan akhlak adalah menyampaikan dan mengarahkan kepada peserta
didik, mana yang baik dan mana yang buruk, serta apa-apa yang pantas untuk
dilakukan dan apa-apa yang seharusnya ditinggalkan dalam kehidupan individu dan
masyarakat, sehingga masalah yang pertama kali mendapatkan perhatian para
filosuf dan ahli hukum adalah membangkitkan umat manusia untuk mengajak kepada
akhlak mulia karena pada dasarnya akhlak merupakan pondasi dari setiap bangunan
kelompok masyarakat (manusia).[22]
Di lingkungan
sekolah kebutuhan akan pendidikan akhlak telah diakomodasi secara sangat
terbatas dengan cara mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam Pendidikan
Agama Islam. Sebagai realisasinya, materi Pendidikan Agama Islam yang diajarkan
di sekolah-sekolah mencantumkan sub pembahasan tentang nilai-nilai budi
pekerti, dan berupaya menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dengan
penyampaian kisah teladan dan pembiasaan.[23]
Dengan demikian
Nampak di sini bahwa pendidika akhlak dalam system pendidikan kita belum
mendapat porsi yang memadai, sedangkan pembentukan manusia yang baik (good people) hanya bisa terwujud
dengan menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan (akhlak karimah)
kepada peserta didik yang disertai upaya-upaya praktis terhadap nilai-nilai
yang telah di internalisasikan tersebut, dan melalui pendidikan akhlak yang
memadai itulah generasi muda akan dibimbing untuk secara sukarela mengikatkan
diri kepada norma-norma atau nilai-nilai yang diyakininya sebagai sesuatu yang
“baik”.[24]
Pada dasarnya
ada dua aspek kegiatan yang menjadi inti dari pendidikan akhlak.
1.
Membimbing hati
nurani peserta didik agar berkembang lebih positif secara bertahap dan
berkesinambungan. Hasil yang diharapkan adalah terjadinya perubahan kepribadian
peserta didik dari yang semula egosentris[25]
menjadi altruis.[26]
2.
Memupuk,
mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai serta sifat-sifat positif ke dalam
pribadi peserta didik, dan bersama dengan upaya pemupukan nilai-nilai positif
ini, pendidikan akhlak berupaya mengikis dan menjauhkan peserta didik dari
sifat-sifat dan nilai buruk.
Dengan
demikian, titik tekan pendidikan akhlak adalah untuk mengembangkan
potensi-potensi kreatif yang positif dari peserta didik agar menjadi manusia
yang baik. Baik menurut pandangan manusia dan terlebih menurut pandangan Allah.
Persoalan manusia “baik” merupakan persoalan nilai karena ia menyangkut
penghayatan dan pemaknaan yang lebih bersifat afektif ketimbang kognitif,
karena “nilai” inilah yang akan membentuk tingkah laku dan pada akhirnya
karakter manusia.
Dalam Islam akhlak
karimah merupakan inti dari ajarannya, karena pada dasarnya manusia taqwa
yang akan menduduki jabatan paling mulia di sisi Allah. Manusia taqwa adalah manusia yang beriman dan beramal
shaleh. Dan akhlak karimah itu salah satu misi penting ke-Rasulan
Muhammad saw. Adalah membangun dan menyempurkan akhlak umat manusia.[27]
Rahmat Djatnika
dalam bukunya Sistem Etika Islam (Akhlak mulia) menyatakan bahwa akhlak
dalam kehidupan manusia menduduki tempat penting sekali, baik sebagai anggota
masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangun, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya
suatu bang sa dan masyarakat tergantung pada akhlaknya. Apabila akhlaknya baik,
maka baik pula lahir batinnya dan sebaliknya jika jelek akhlaknya maka jelek
pula lahir batinnya.[28] Akhlak
merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.
Tanpa akhlak, manusia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai makhluk yang
mulia.[29]
Keluarga,
sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan. Tapi keluargalah yang
memberikan pertama kali. Karena seorang anak masuk Islam sejak awal kehidupannya
dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan. Dan kedua orang tua
merupakan figure yang paling berpengaruh pada anak.[30]
Pendek kata,
anak belajar dari keluarganya suatu pola kehidupan sesuai dengan kelahirannya
di suatu tempat, waktu, dan negeri tertentu. Keluarga secara alami mentransfer
kepada anak kebudayaan lapisan sosialnya. Melalui keluarga, anak mengetahui
pola-pola umum yang berlaku di dalam kebudayaannya, seperti bentuk-bentuk
komunikasi berupa isyarat, kosa kata, dan bahasa serta cara-cara memenuhi
kebutuhan, perhatian, berbagai orientasi sosoial seperti saling menolong,
kompetisi, toleransi, fanatisme dan lain-lain yang termasuk dalam nilai dan
norma masyarakat.[31]
BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan akhlak
merupakan sub/bagian pokok dari materi pendidikan agama, karena sesungguhnya
agama adalah akhlak, sehingga kehadiran nabi Muhammad ke muka bumi pun dalam
rangka menyempurnakan akhlak manusia Karena agama adalah akhlak, maka tidak
berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa apa yang baik menurut akhlak adalah
yang baik pula menurut agama. Karena besar peran pendidikan akhlak dalam
pembentukan kepribadian anak manusia maka semua filosof muslim sepakat bahwa
pendidikan akhlak merupakan jiwa atau esensi pendidikan Islam, karena tujuan
tertinggi dari pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.
Setelah dilakukan pembahasan dan
penelaahan dalam penulisan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1.
Nilai nilai
yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran : 159-160 , meliputi nilai-nilai
kemulian yang diberikan oleh Allah swt,. Dalam rahmatnya berupa sifat lemah
lembut yang secara ikhlas terjalin dalam kehidupan manusia yang saling
menghormati, sehingga terjalin rasa kasih sayang diantara hambaNya.
2.
Konsep
pendidikan akhlak dalam perspektif Al-Quran mengedialkan sebuah paradigma yang
dapat menatap kedepan, oleh karena itu Al-Quran lebih spesifik dalam Q.S Ali
Imran : 159-160 menegaskan secara implisit bahwa pendidikan akhlak
memiliki peranan yang sangat penting dalam menwujudkan manusia seutuhnya
dibutuhkan strategi pendidikan islam yang terarah, artinya pendidikan yang ada
itu telah terkonsep yang memiliki ukuran yang komverhensip dari hilir sampai
muaranya, yakni adanya sistem, proses atau fase-fase belajar, hingga hasil
belajar dapat dipertanggungjawabkan.
3.
Implikasi dari
semua proses pendidikan akhlak dalam Q.S. Ali imran : 159-160 yang ada
pada pendidikan Islam di sekolah, secara tegas merupakan proses pencapaian insan
kamil dimana dapat dilalui dengan beberapa tahapan, pertama,
bagaimana aktualitas akhlak dalam pembelajaran pendidikan Islam, Kedua,
bagaimana pendidikan akhlak itu dapat mengatasi krisis akhlak yang ada, ketiga
, bagaimana pula komunikasi guru kepada peserta didik dalam proses mentransfer
keilmuan yang tetap menjaga sopan santun atau akhlakul karimah, keempat,
pendidikan agama dan akhlak dalam mewarnai pendidikan nasional, kemudian
sejauhmana efektifitas pembelajaran agama Islam di sekolah yang ada, kesemuanya
dengan satu tujuan untuk menwujudkan manusia insan kamil atau manusia
seutuhnya.
Demikian makalah ini kami buat,
dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu,kritik dan saran yang konstruktif senantiasa kami harapkan demi perbaikan
makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, Rosihon. 2001. Samudera Alquran. Cet. Ke 1(Bandung:
Pustaka Setia)
Republik Indonesia, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, (Jakarta: Kloang Klede Putra Timur, 2003).
Arifin, M.
2009. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner, Cet. IV, (Jakarta: Bumi Aksara)
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam
Ghazali, Imam. 1987. Ihya
Ulumuddin, Jilid. III, (Darur Riyan).
Nata, Abuddin dan Fauzan, 2005. Pendidikan Dalam Perspektif Hadits,
Cet. II, (Jakarta: UIN Jakarta Press,).
SM, Ismail. 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM,
Cet. I, (Semarang: RaSAIL).
Departemen
Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran Terjemahnya (Madinah: Mujamma’ dan
Khadim al-Kharamain asy-Syarifain al-Malik li Thiba’ al-Mushab asy-Syarif 1412
H.).
Quraisy Shihab, Tafsir Misbah, menurutnya Allah swt. Tidak
hanya pendidik manusia tetapi pendidik seluruh alam, Quraisy Shihab, (Jakarta;
Lentera Hati, 2007).
Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta;
kalam mulia).
Ahmad Tafsir, “Pendidikan Agama Islam Salah Paradikma”
(media Indonesia, 2004).
Junus, Mahmud. Tarjamah
Al-Qur’an Al-Karim, Cet. IX, (Bandung: Al-Ma’arif, 1990).
[2] Q.S. Al-Baqaroh (2): 185 yang artinya: “…, bulan yang didalamnya
diturunkan (permulaan) al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”
[3] Republik
Indonesia, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, (Jakarta: Kloang Klede Putra Timur, 2003), 1.
[4] Arifin, M. 2009. Ilmu Pendidikan
Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet.
IV, (Jakarta: Bumi Aksara), hlm. 7.
[7] Nata, Abuddin dan Fauzan, 2005. Pendidikan Dalam Perspektif Hadits,
Cet. II, (Jakarta: UIN Jakarta Press,), hlm. 274.
[8] SM, Ismail. 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam
Berbasis PAIKEM, Cet. I, (Semarang: RaSAIL), hlm. 41.
[9] Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran Terjemahnya
(Madinah: Mujamma’ dan Khadim al-Kharamain asy-Syarifain al-Malik li Thiba’
al-Mushab asy-Syarif 1412 H.), hlm. 103-104
[10]
Quraisy Shihab, Tafsir Misbah, menurutnya Allah swt. Tidak hanya
pendidik manusia tetapi pendidik seluruh alam, Quraisy Shihab, (Jakarta;
Lentera Hati, 2007), hlm. 32
[11]
Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta; kalam
mulia) hlm. 216
[12]
Ahmad Tafsir, “Pendidikan Agama Islam Salah Paradikma” (media Indonesia,
2004) hlm. 3
[15] Rodiah, dkk, Studi Al-Qur’an,… hlm. 282
[17] Juwairiyah, Dasar-dasar Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an,.
hlm. 96.
[18]
Rosihon Anwar, Akhlak Tasawwuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.
11-12.
[19] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa
Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1989), hlm. 373
[20] Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyah al-Islamiyah,
1963, hlm. 95
[21] Juwairiyah, Dasar-dasar Pendidikan Anakdalam Al-Qur’an,..
hlm. 97
[22]
Juwairiyah, Dasar-dasar…hlm16
[23]
Ibid., hlm. 15
[24]
Juwairiyah., Loc.Cit
[25] Egosentris,
yaitu menjadikan diri sendiri sebagai pusat pemikiran; menilai segala sesuatu
dari sudut diri sendiri.
[26] Altruis, yaitu orang yang banyak mengutamakan kepentinagan
orang lain (tidak mementingkan diri sendiri).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar