Pertemuan Keempat
Memuliakan Ilmu dan Ahlinya
Adab merupakan bagian pendidikan
yang sangat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, baik
individu ataupun berhubungan dengan sosial masyarakat. Adab yang baik akan
memberikan pengaruh dalam kehidupan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan “adab
lebih tinggi dari ilmu”. Oleh karena itu nilai yang terkandung dalam agama perlu
diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat
menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh Mengingat
begitu pentingnya adab dalam kehidupan, sampai hal terkecil pun mempunyai
aturan tersendiri (Zainuddin
Ali, 2011: 32-33).
Dalam mewujudkan
perubahan dan perkembangan kearah yang lebih baik, maka perlu adanya
penyesuaian dan realisasi dalam pembelajaran dan kehidupan, sehingga tujuan
pendidikan tersebut dapat menghasilkan kualitas yang baik. Penyesuaian tersebut
dapat dilakukan dengan kurikulum dan materi pembelajaran, proses pembelajaran
dan pembinaan, serta dengan kegiatan ekstra kurikuler yang ada di lingkungan tersebut
(H.M. Arifin, 2010:
135-136). Fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia
pendidikan saat ini, sebagai cermin tentang merosotnya adab siswa dalam pelaku
pendidikan, baik dari segi pimpinan pendidikan, guru dan peserta didik. Kondisi
tersebut akan berdampak terhadap kualitas pendidikan yang diharapkan. Salah
satu contohnya adalah adab atau etika yang sudah semakin jauh atau hampir
hilang dari setiap orang termasuk pada anak didik. Hal itu dapat dilihat dengan
banyaknya siswa atau mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santu dalam berbicara,
berprilaku dan berpakaian yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam,
melanggar akhlak, peraturan sekolah kode etik ditingkat mahasiswa, itu semua
menunjukkan bahwa kerusakan moral, akhlak dan adab sudah sangat memperihatinkan
(Burhanuddin Salam,
2000: 3).
Maka hal terpenting
bagi guru adalah menanamkan adab pada anak/siswa. Sebab anak merupakan amanah
Allah yang harus dibina, dipelihara dan diurus secara seksama serta sempurna
agar kelak berguna bagi agama, bangsa dan Negara dan secara khusus dapat
menjadi pelipur lara orang tua, penenang hati ayah dan bunda serta sebagai
kebanggaan (Abdullah
Nasih Ulwan, 2002: VII).
Dari uraian diatas
sudah jelas bahwa pendidikan karakter itu penting agar siswa bisa memilih ilmu
yang tepat, guru yang baik dan teman yang baik akhlaknya, sehingga cita-cita
dan ilmu yang diraih tidak sia-sia dan mendapatkan ilmu nafi’ (bermanfaat bagi
dirinya dan lingkungannya).
Menghormati Ilmu, dan Ahlinya
Dalam melaksanakan
pendidikan Islam, peranan guru sangat penting sekali, artinya guru memiliki
tanggung jawab untuk menentukan arah pendidikan tersebut. Itulah sebabnya Islam
sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu.
Di antara menghormati
ilmu, menurut Az-Zarnuji adalah sebagai berikut: “Di antara menghormati ilmu
adalah memuliakan kitab, seorang pelajar (santri) sebaiknya tidak memegang
kitab kecuali dalam keadaan suci dari hadas…hal ini disebabkan ilmu adalah
cahay dan wudu juga cahaya. Dengan demikian cahaya ilmu tidak akan bertambah
kecuali dengan berwudu.” (Az-Zarnuji,tt:21).
Az-Zarnuji memberikan
kedudukan yang sangat tinggi terhadap guru. Dia harus dihormati dan dimuliakan.
Kedudukan guru bagi muridnya tak ubahnya seperti orang tua terhadap anaknya,
sebagaimana yang dikatakan oleh Al-jarnuzi:
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang mengajarkan padamu satu huruf yang kamu butuhkan dalam
urusan agamamu, maka ia merupakan ayahmu dalam kehidupan
agamamu.(Az-Zarnuji:tt36).
Az-Zarnuji memposisikan
ahli ilmu (orang yang memiliki ilmu) terutama ahli fiqih jauh tingkatannya lebi
tinggi dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah. Beliau mengutip syair
Muhammad bin Hasan bin Abdullah sebagai berikut:
Artinya:
“Sesungguhnya seorang ahli fiqih yang wara‟
(teguh) lebih berat bagi setan (untuk menggodanya) dibanding seribu ahli ibadah.”
Az-Zarnuji menjelaskan
tentang penghormatan terhadap guru dalam pasal tertentu, yaitu pasal ke empat tentang
mengagungkan ilmu dan ahli ilmu. Yaitu sebagai berikut: (a) Memberikan sesuatu
berupa hartanya atau apapun berupa sesuatu yang bermanfaat walaupun sedikit.
Hal tersebut dilakukan agar anaknya bisa menjadi orang yang alim, jika anaknya tidak
berhasil menjadi orang alim maka cucunya yang akan menjadi orang alim; (b)
Tidak berjalan kencang di depannya; (c) Tidak duduk di tempat duduk gurunya;
(d) Tidak memulai percakapan dengannya kecuali atas izinnya; (e) Tidak banyak
bicara di hadapan guru; (f) Tidak menanyakan sesuatu ketika guru sedang bosan;
(g) Menjaga waktu dan tidak mengetuk pintu atau kamarnya, tetapi harus menunggu
sampai beliau keluar; (h)Menjauhi amarahnya dan menjalankan perintah yang baik darinya.
Jika guru memerintahkan hal yang bertentangan dengan agama maka tidak boleh
patuh kepadanya; dan (i) Menghormati anak-anaknya dan orang-orang yang memiliki
hubungan kerabat dengannya (AzZarnuji: 37-40).
Menghormati guru adalah
keharusan yang tidak dapat ditawar. Tanpa menghormati guru proses pendidikan
berjalan tidak sesuai dengan koridornya. Proses pendidikan dianggap mengalami
kegagalan Walau demikian guru bukanlah Tuhan yang harus sangat diagung-agungkan.
Kemudian termasuk dalam menghormati ilmu yaitu menghormati teman. Al-jarnuzi
menjelaskan dalam kitabnya:
Artinya:
“Termasuk memuliakan ilmu adalah menghormati teman dan orang yang memberikan
pelajaran.
Pertalian dan ketegantungan
adalah sikap yang tercela kecuali dalam hal menuntut ilmu. Bahkan sebaiknya mengikat
pertalian dan ketergantungan dengan guru dan teman-teman belajar”. (AzZarnuji,tt:24).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar