RUANG LINGKUP AJARAN
ISLAM YANG PERTAMA
AQIDAH
Aqidah secara bahasa berarti ikatan. Setelah
terbentuk menjadi kata, aqidah berarti perjanjian yang teguh, terpatri dan
tertanam kuat di dasar hati yang paling dalam. Allah Swt. telah menerangkan
kepada manusia lewat ayatnya yang mulia, bahwa manusia sejatinya telah
mengikrarkan janji suci ketika berada di dalam rahim ibunya. Ikrar yang
menyatakan bahwa Allah adalah satusatunya sembahan yang berhak disembah. Ikrar
inilah yang menjadi dasar aqidah manusia yang mengaku beriman kepada Allah Swt.
Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu? "Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." QS.
Al-A’raf [7]: 172
Aqidah berhubungan erat dengan keimanan. Iman
secara umum dipahami sebagai sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan pada
lisan, dan dilaksanakan dengan perbuatan. Islam membagi enam pilar utama
keimanan yang disebut sebagai Rukun Iman, yang mencakup:
1. Iman Kepada Allah
Esensi dari Iman kepada Allah adalah keyakinan
dalam diri dan mengakui tentang keesaan Allah (Tauhid). Tauhid berarti
keyakinan akan kebenaran keesaan Allah, dan tidak mempersekutukannya dengan
sesuatu apapun. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Katakanlah:
"Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung
kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4
2. Iman Kepada
Malaikat-Malaikat Allah
Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang
diciptakan dari Nur atau cahaya. Malaikat termasuk ke dalam makhluk ghaib yang
tidak bisa dirasakan oleh panca indera manusia, namun malaikat tetap
melaksanakan segala perintah Allah dan bukanlah makhluk yang pernah mengingkar
atau membangkang dari perintah Allah.
Artinya: “(Ingatlah),
ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
"Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu
Malaikat yang datang berturut-turut.” QS. Al-Anfal [8]: 9
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
Allah
Selain meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Esa,
juga wajib meyakini kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah. Kitabkitab
yang kemudian dijadikan oleh Rasul dan pengikutnya. Sejumlah kitab yang wajib
diimani adalah Zabur kepada Nabi Daud as., Taurat kepada Nabi Musa as., Injil
kepada Nabi Isa as., dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. Allah telah
berfirman di dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Dan apa yang
telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al-kitab (Al Quran) itulah yang benar,
dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar
Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hambaNya.” QS.
Al-Faathir (35): 31
4. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
Rukun Iman yang selanjutnya adalah keimanan
kepada RasulRasul Allah. Rasul memiliki pengertian manusia-manusia yang dipilih
oleh Allah dan diutus untuk menyampaikan wahyu Allah kepada dirinya sendiri dan
kepada umatnya. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:
Artinya: “Dan
Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang
tidak Kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu
mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah
Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu rugilah
orang-orang yang berpegang kepada yang batil” QS.
Al-Mu’min [40]: 78
Adapun Rasul-Rasul yang wajib diimani adalah
sebanyak 25 orang, yaitu: Nabi Adam as., Nabi Idris as., Nabi Nuh as., Nabi Hud
as., Nabi Sholeh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Luth as., Nabi Ismail as., Nabi
Ishaq as., Nabi Yakub as., Nabi Yusuf as., Nabi Ayyub as., Nabi Syuaib as.,
Nabi Musa as., Nabi Harun as., Nabi Zulkifli as., Nabi Daud as., Nabi Sulaiman
as., Nabi Ilyas as., Nabi Ilyasa as., Nabi Yunus as., Nabi Zakaria as., Nabi
Yahya as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad Saw.
5. Iman Kepada Hari Kiamat
Hari kiamat juga dikenal dengan nama yaumul
akhir atau hari akhir, yaumul ba‟ats atau hari kebangkitan, yaumul hisab atau
hari perhitungan, dan yaumul jaza‟ atau hari pembalasan. Hari kiamat adalah hari
dimana manusia akan menerima semua pembalasannya ketika hidup dulu. Keyakinan
dan kepercayaan terhadap hari kiamat sebagai babak akhir dari sejarah kehidupan
manusia, memberikan suatu pelajaran yang penting bahwa semua manusia pasti akan
mati dan mengalami kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan segala amal
perbuatannya di dunia. Allah telah berfirman di dalam AlQur’an:
Artinya: “Sesungguhnya
hari kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap
diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” QS.
Thaha [20]: 15
6. Iman Kepada Qadha dan
Qadar
Qadar adalah menentukan batas sebuah rancangan,
seperti besar dan luas, serta usia alam semesta, terjadinya siang dan malam,
anatomi dan fisiologi makhluk hidup, dan lain sebagainya. Qadha adalah penentu
atau yang menetapkan rancangan tersebut. Secara sederhananya, qadha adalah
segala ketentuan Allah atau Sunnatullah yang telah ditetapkan tanpa diketahui
oleh siapapun, sedangkan qadar adalah segala ketentuan Allah yang telah
terbukti dengan diketahui sudah terjadi. Allah telah berfirman di dalam
Al-Qur’an:
Artinya: “Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)- Nya. Sesungguhnya
Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiaptiap sesuatu. QS.
At-Thalaq [65]: 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar