Jumat, 20 November 2020

Pertemuan Kedelapan

 

RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM YANG PERTAMA

AQIDAH

 

Aqidah secara bahasa berarti ikatan. Setelah terbentuk menjadi kata, aqidah berarti perjanjian yang teguh, terpatri dan tertanam kuat di dasar hati yang paling dalam. Allah Swt. telah menerangkan kepada manusia lewat ayatnya yang mulia, bahwa manusia sejatinya telah mengikrarkan janji suci ketika berada di dalam rahim ibunya. Ikrar yang menyatakan bahwa Allah adalah satusatunya sembahan yang berhak disembah. Ikrar inilah yang menjadi dasar aqidah manusia yang mengaku beriman kepada Allah Swt. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu? "Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." QS. Al-A’raf [7]: 172

 

Aqidah berhubungan erat dengan keimanan. Iman secara umum dipahami sebagai sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan pada lisan, dan dilaksanakan dengan perbuatan. Islam membagi enam pilar utama keimanan yang disebut sebagai Rukun Iman, yang mencakup:

 

1.      Iman Kepada Allah

Esensi dari Iman kepada Allah adalah keyakinan dalam diri dan mengakui tentang keesaan Allah (Tauhid). Tauhid berarti keyakinan akan kebenaran keesaan Allah, dan tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4

 

2.      Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah

Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari Nur atau cahaya. Malaikat termasuk ke dalam makhluk ghaib yang tidak bisa dirasakan oleh panca indera manusia, namun malaikat tetap melaksanakan segala perintah Allah dan bukanlah makhluk yang pernah mengingkar atau membangkang dari perintah Allah.

Artinya: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” QS. Al-Anfal [8]: 9

 

3.      Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Selain meyakini Allah sebagai Tuhan Yang Esa, juga wajib meyakini kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah. Kitabkitab yang kemudian dijadikan oleh Rasul dan pengikutnya. Sejumlah kitab yang wajib diimani adalah Zabur kepada Nabi Daud as., Taurat kepada Nabi Musa as., Injil kepada Nabi Isa as., dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al-kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hambaNya.” QS. Al-Faathir (35): 31

 

4.       Iman Kepada Rasul-Rasul Allah

Rukun Iman yang selanjutnya adalah keimanan kepada RasulRasul Allah. Rasul memiliki pengertian manusia-manusia yang dipilih oleh Allah dan diutus untuk menyampaikan wahyu Allah kepada dirinya sendiri dan kepada umatnya. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil” QS. Al-Mu’min [40]: 78

Adapun Rasul-Rasul yang wajib diimani adalah sebanyak 25 orang, yaitu: Nabi Adam as., Nabi Idris as., Nabi Nuh as., Nabi Hud as., Nabi Sholeh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Luth as., Nabi Ismail as., Nabi Ishaq as., Nabi Yakub as., Nabi Yusuf as., Nabi Ayyub as., Nabi Syuaib as., Nabi Musa as., Nabi Harun as., Nabi Zulkifli as., Nabi Daud as., Nabi Sulaiman as., Nabi Ilyas as., Nabi Ilyasa as., Nabi Yunus as., Nabi Zakaria as., Nabi Yahya as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad Saw.

 

5.      Iman Kepada Hari Kiamat

Hari kiamat juga dikenal dengan nama yaumul akhir atau hari akhir, yaumul ba‟ats atau hari kebangkitan, yaumul hisab atau hari perhitungan, dan yaumul jaza‟ atau hari pembalasan. Hari kiamat adalah hari dimana manusia akan menerima semua pembalasannya ketika hidup dulu. Keyakinan dan kepercayaan terhadap hari kiamat sebagai babak akhir dari sejarah kehidupan manusia, memberikan suatu pelajaran yang penting bahwa semua manusia pasti akan mati dan mengalami kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia. Allah telah berfirman di dalam AlQur’an:

Artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” QS. Thaha [20]: 15

 

6.      Iman Kepada Qadha dan Qadar

Qadar adalah menentukan batas sebuah rancangan, seperti besar dan luas, serta usia alam semesta, terjadinya siang dan malam, anatomi dan fisiologi makhluk hidup, dan lain sebagainya. Qadha adalah penentu atau yang menetapkan rancangan tersebut. Secara sederhananya, qadha adalah segala ketentuan Allah atau Sunnatullah yang telah ditetapkan tanpa diketahui oleh siapapun, sedangkan qadar adalah segala ketentuan Allah yang telah terbukti dengan diketahui sudah terjadi. Allah telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)- Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiaptiap sesuatu. QS. At-Thalaq [65]: 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar