Rabu, 11 November 2020

Pond Pest Modern dan Salaf

 

Pertemuan Kedua

Pesantren Modern dan Salaf

 

A.     Penadahuluan

Berbicara tentang pendidikan Islam, pesantren merupakan jenis institusi pendidikan Islam tertua dan telah lama berakar di dalam budaya masyarakat Indonesia. Pesantren erupakan pusat pengkajian dan pendalaman khazanah ilmu-ilmu keislaman dan sekaligus sebagai pusat gerakan dakwah penyebaran agama Islam di masyarakat. Pesantren juga dikenal sebagai penjaga ortodoksi Islam.

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik, tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena kultur, metode, dan jaringan yang diterapkan oleh lembaga agama tersebut.  Selain itu pondok pesantren juga sebagai sistem pendidikan yang asli (indegenious) di Indonesia.

B.     Tipologi Pesantren

Para ahli pendidikan, mengklasifikasi jenis pesantren ke dalam dua tipologi; yakni pesantren modern, yang sudah banyak mengadopsi sistem pendidikan sekolah modern Barat dan pesantren salaf, yang berorientasi pada pelestarian tradisi dengan sistem pendidikan tradisional.

Pertama, Pondok pesantren modern, merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nampak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa lokasi pesantren. Kedudukan para kyai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar dan sebagai pengajar langsung di kelas. Perbedaannya dengan sekolah dan madrasah terletak pada porsi pendidikan agama dan bahasa Arab lebih menonjol sebagai kurikulum lokal.

Kedua, pesantren Salaf. Menurut Zamakhsyari Dhofier, ada beberapa ciri pesantren salaf atau tradisional, terutama dalam hal sistem pengajaran dan materi yang diajarkan. Pengajaran kitabkitab Islam klasik atau sering disebut dengan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi‟iyah, merupakan pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren tradisional. Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan ke dalam delapan kelompok, yaitu nahwu (syntax) dan shorof (morfologi), fiqh, usul fiqh, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, dan cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah.

C.     Sistem Pendidikan di Pesantren

Kegiatan utama yang dilakukan dalam pesantren adalah pengajaran dan pendidikan Islam. Hal ini menuntut kualitas seorang kyai tidak sekedar sebagai seoarang ahli tentang pengetahuan keislaman yang mumpuni, tetapi juga sebagai seorang tokoh panutan untuk diteladani dan diikuti. Melalui kegiatan ajar-belajar, seorang kyai mengajarkan pengetahuan keislaman tradisional kepada para santrinya yang akan meneruskan proses penyebaran Islam tradisional.

Di dalam pesantren proses pendidikan dan pengajaran bisa berlangsung dalam dua bentuk: sistem klasikal dan berjenjang dan sistem tradisional, seperti sorogan, wetonan, dan bandongan. Menurut Mustofa Bisri di samping ciri lahiriah tersebut, masih ada cirri umum yang menandai karakteristik pesantren, yaitu kemandirian dan ketaatan santri kepada kyai yang sering diinisiasi sebagai pengkultusan. Meski mempunyai tipologi umum yang sama, pesantren juga sangat ditentukan karakternya oleh kyai yang memimpinnya. Sebagai pendiri dan “pemilik‟ pesantren (terutama pesantren salaf) dalam menentukan corak pesantrennya, pastilah tidak terlepas dari karakter dan kecenderungan pribadinya.

D.    Kesimpulan

Penerapan sistem belajar modern ini terutama nampak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum sekolah atau madrasah yang berlaku secara nasional. Santrinya ada yang menetap ada yang tersebar di sekitar desa lokasi pesantren. Sedangkan pesantren salaf terutama dalam hal sistem pengajaran dan materi yang diajarkan sangat tradisional seperti pengajaran kitabkitab Islam klasik atau sering disebut dengan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi‟iyah, merupakan pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren tradisional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar