Pertemuan Ketujuh
Tawakkal
Tawakal bagian dari perkara yang
sangat agung karena “tawakal merupakan perwujudan dari ketauhidan. Sikap
tawakal tidaklah didapat oleh seseorang dengan tiba-tiba, namun sikap tawakal
akan lahir dari hasil ketauhidan yang telah dipupuk bertahun-tahun lamanya”.
Kenyakinan utama yang mendasari
tawakal adalah “kenyakinan sepenuhnya akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT,
karena itulah tawakal merupakan bukti nyata dari tauhid. Pohon tauhid yang
tumbuh di dalam hati dan berangsur-angsur besar akhirnya membuahkan sikap
tawakal”.
Sikap yang benar mengenai tawakal
yaitu “seorang hamba harus mengambil atau mencari sebab tanpa melupakan bahwa
hati harus disandarkan kepada pembuat sebab, yaitu Allah SWT”. Allah SWT
berfirman dalam QS. An-Nisaa ayat 71;
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu,
dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!”.
Tanda seseorang yang benar-benar
bertawakal bisa di lihat dalam realita kehidupan sehari-hari yaitu dengan
“berserah diri kepada Allah SWT dan tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika
berusaha, namun orang tersebut tetap optimis dan terus bekerja keras, meskipun
tantangan hidupnya penuh dengan kepahitan.
Karena, orang yang bertawakal
mempercayai bahwa dibalik semua itu ada hikmahnya”. Para ulama menjelaskan
bahwa tawakal harus dibangun atas dua hal
pokok, “pertama, bersandarnya hati kepada Allah SWT dan kedua, mengupayakan
sebabnya”. Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah SWT dengan
sebenar-benarnya dan terus mengingat kebesaran Allah SWT, maka hati dan akalnya
serta seluruh kekuatan akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua
usaha tanpa berkeluh kesah dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat.
Tawakal tidak akan sempurna jika
tidak dengan kekuatan hati dan kekuatan kenyakinan secara bersama, karena
dengan keduanyalah hati akan mendapatkan ketenangan. “Orang yang berupaya menempuh
sebab saja dan tidak bersandar kepada Allah SWT, berarti cacat imannya. Adapun
orang yang bersandar kepada Allah SWT namun tidak berusaha menempuh sebab maka
cacat akalnya”.
Menurut M. Quraish Shihab
menyebutkan “tawakal berakar kata sama dengan wakil, bukan berarti
penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT, akan tetapi penyerahan tersebut
harus di dahului dengan usaha manusiawi”. Dalam hal ini mengandung arti setiap
muslim harus aktif dalam berusaha untuk memenuhi keperluan hidupnya. Orang yang
bertawakal dapat menyadari keterbatasan diri dan menyadari pula Kemahamutlakan
Allah SWT. Kesadaran tinggi akan keterbatasan diri akan membuat orang yang
bertawakal tidak akan pernah berkeluh kesah tentang kegagalan yang dialami,
sebab mereka menyakini dengan sepenuh hati dan pikiran bahwa dibalik itu semua
terdapat hikmahnya. Sebagaimana Firman Allah SWT pada surat At-Taubah ayat 51;
Artinya: “Katakanlah,‘sekali-kali akan menimpa kami selain apa
yang telah ditetapkan oleh Allahbagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya
kepadaAllah SWT orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
Pengertian
Kata tawakal berasal dari bahasa
Arab, yaitu “wakala yakilu waklan” yang artinya “menyerahkan, mewakilkan, dan wakil”. Terkait dengan arti menyerahkan terdapat kata
yang artinya “pasrah kepada Allah SWT dan menyerahkan kepada-Nya”. Selanjutnya
yang terkait dengan kata mewakilkan “wakkaltuhu fatawakkal lie” artinya “saya serahkan urusan kepadanya sehingga dia mewakili diri
saya”.
Sedangkan untuk kata “wakil “
yaitu pemilik urusan itu telah melimpahkan wewenang kepada wakil untuk
menyelesaikan urusannya dan ia disebut sebagai “maukulun ilaihi”.
Pengertian tawakal menurut istilah
adalah “menjadikan Allah SWTsebagai wakil dalam mengurusi suatu urusan,
dan mengandalkan Allah SWT dalam menyelesaikan segala urusan setelah berusaha
semampunya”. Di samping itu, ada juga yang memahami tawakal sebagai berserah
diri kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam secara bulat dan utuh. Kata-kata
secara bulat dan utuh inilah yang seringkali membuat orang salah
menafsirkannya. Oleh karena itu, “tawakal yang dimaksud bukan menyerahkan
sesuatu kepada Allah SWT tanpa melakukan usaha. Melainkan berusaha terlebih
dahulu kemudian menyerahkannya kepada Allah secara bulat dan utuh. Selanjutnya
terdapat juga beberapa pendapat para ulama tentang arti tawakal yaitu;
Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa tidak sah tawakal kecuali
jika disertai dengan melakukan sebab-sebab/usaha terlebih dahulu.
TM. Hasbi
Ash-Shiddiqy, tawakal
adalah penyerahan diri kepada Allah dan berpegang kuat kepada-Nya setelah
berusaha terlebih dahulu sejauh kemampuan manusiawi. Oleh karena itu, tawakal
diharuskan ketika
keadaan diluar kemampuan manusia untuk mengubahnya
Hamka menjelaskan bahwa tawakal yaitu menyerahkan
keputusan segala perkara, ikhtiar dan
usaha kepada Tuhan.
Hamzah
Ya’qub mengatakan
bahwa tawakal adalah mempercayai diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu
rencana, dengan bersandar kepada kekuatan-Nya pada suatu pekerjaan.
Dari sejumlah pengertian yang
dijelaskan oleh para ulama di atas dapat dipahami, bahwa tawakal adalah pasrah
diri terhadap kehendak Allah SWT atas apa yang telah dilakukan dengan usaha
manusiawi terlebih dahulu. Kemudian menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT
dengan melengkapi syaratsyaratnya.
Macam-macam
tawakkal
Tawakal
merupakan suatu sikap terpuji yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Di
mana kehidupan orang-orang bertawakal akan sejahtera di dunia dan di akhirat
dengan memiliki sikap tersebut. Dalam ajaran Islam sikap tawakal terbagi dalam
tiga macam yaitu;
Pertama: Tawakal
pada pekerjaan yang mempunyai sebab dan ‘illat. Kedua: Tawakal dalam
urusan yang tidak ber’illat. Ketiga: Tawakal dalam meraih apa
yang dicintai oleh Allah SWT berupa iman.
“Tawakal
yang mempunyai sebab dan ‘illat” adalah mengharuskan manusia berusaha
terlebih dahulu sebatas kemampuan yang dimilikinya, kemudian bertawakal kepada
Allah SWT. Ajaran Islam menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, tetapi pada
saat yang sama dituntut juga untuk berserah diri kepada Allah SWT.
Selanjutnya
bentuk “tawakal dalam urusan yang tidak ber’illat dan tidak bersebab”.
Misalnya, “kematian yang menimpa anak secara tiba-tiba atau harta benda yang
terbakar tiba-tiba. Di saat seperti ini manusia tidak boleh lemah dan berputus-asa,
tetapi bersabarlah.
Sedangkan
yang dimaksud bentuk “tawakal dalam meraih apa yang dicintai oleh Allah SWT
berupa iman” adalah seseorang yang berusaha dengan sebab-sebab tertentu, tanpa
hatinya tergantung kepada sebab tersebut. Serta dia menyakini bahwa itu semua
hanyalah sebab semata, dan Allah SWT yang menakdirkan dan menentukan hasil dari
usahanya. Maka tawakal semacam inilah yang diperbolehkan dalam agama Islam.
Tingkatan-tingkatan tawakkal
Tawakal
memiliki tingkatan-tingkatan menurut kadar keimanan, tekad orang yang
bertawakal tersebut. Syaikh al-Harawi menyebutkan tingkatan tawakal dilihat
dari aspek manusia yang melewatinya sebagai berikut:
Pertama, tawakal disertai dengan perintah dan
melakukan sebab-sebab dengan niat karena takut menyibukkan diri dengan sebab
dan dengan niat hendak memberi manfaat pada makhluk dan meninggalkan dakwaan
yang bukan terhadap diri sendiri.
Kedua, tawakal dengan menggugurkan tuntutan dan
memejamkan mata dari sebab, sebagai usaha untuk berkonsentrasi memelihara
kewajiban.
Ketiga, tawakal disertai dengan pengetahuan untuk
bersih dari penyakit (gangguan) tawakal. Tawakal ini dengan mengetahui bahwa
kekuasaan Allah SWT terhadap segala sesuatu adalah kekuasaan keperkasaan yang
tiada sekutu dengannya.
Buah dari Tawakkal
Tawakal
merupakan suatu sikap yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman. Dari sikap
ini akan membuahkan hasil yang sangat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan
orang-orang yang beriman, diantara buah tawakal tersebut adalah:
Pertama, Terwujudnya
Iman Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara
tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal
merupakan perkara sangat agung yang tidak dimiliki kecuali oleh orangorang
beriman. Tawakal bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan
kebahagiaan didunia dan akhirat. Berdasarkan kebeiringan antara iman dan
tawakal, maka tidak diragukan lagi bahwa di antara buah tawakal yang paling agung
adalah realisasi iman seorang hamba.
Kedua, Merasa
Cukup dalam Kehidupan Ibnu Qayyim mengatakan bahwa Allah SWT memberikan sesuatu
itu tergantung pada orang yang bertawakal kepada-Nya, memberi kecukupan kepada orang
yang berlindung kepada-Nya, memberi rasa aman kepada orang yang takut kepadanya,
memberikan perlindungan kepada orang yang meminta pertolongan. Oleh karena itu,
barang siapa berlindung meminta pertolongan dan bertawakal kepada-Nya, maka
Allah SWT akan melindungi dan menjaga serta memelihara dirinya. Hal ini
merupakan balasan yang paling agung, di mana Allah SWT telah berjanji untuk
memberikan balasan sendiri kepada orang yang bertawakal.
Ketiga, Lahirnya
Kekuatan Hati, Keberanian, Keteguhan, dan Perlawanan Terhadap Musuh. Di antara
buah tawakal yang paling agung lainnya adalah bahwa Allah SWT memberikan
kekuatan hati, keteguhan, keberanian, dan perlawanan terhadap musuh sekuat
apapun musuh tersebut. orang yang bertawakal tidak akan dibelenggu
ketergantungan kepada makhluk yang lemah, dan orang tersebut mencukupkan diri
dengan Allah yang Maha Berkuasa karena kenyakinannya terhadap Allah SWT. Maka
akan timbul keberanian yang luar biasa.
Keempat, Lahirnya
Sikap Sabar dan Ketahanan
Apabila tawakal mendatangkan sifat sabar, maka sesungguhnya sabar merupakan
sebab terbesar bagi tercapainya setiap kesempurnaan. Oleh karena itu, makhluk
yang paling sempurna adalah yang paling sabar dan ia merupakan maqam (kedudukan)
iman yang paling besar.76 Jika kesabaran disandingkan dengan kepercayaan, maka
akan melahirkan imamah (bersifat kepemimpinan) dalam agama.
Kelima, Menahan
Diri dari Penguasaan Syaitan
Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan bahwa syaitan itu tidak memiliki kekuasaan
apapun terhadap orang yang merealisasikan iman dan bertawakal kepada-Nya.
Karena orang yang bertawakal kepada Allah SWT, akan diberi pelindungan cukup
dari tipu muslihat musuh. Tokoh terdepannya adalah syaitan yang terkutuk, serta
diberi kecukupan dalam segala urusan agama maupun dunianya.
Tawakkal dalam mencari
ilmu
Dalam belajar, peserta
didik harus tawakkal kepada Allah SWT dan tidak tergoda oleh urusan rezeki.
Peserta didik hendaknya tidak digelisahkan oleh urusan duniawi, karena
kegelisahan tidak bisa mengelakkan musibah, bahkan membahayakan hati, akal,
badan dan merusak perbuatan-perbuatan yang baik. Oleh karena itu, hendaknya
peserta didik berusaha untuk mengurangi urusan duniawi.
Peserta didik (thalabu al-‘ilm) hendaknya bersabar
dalam perjalanannya mempelajari ilmu. Perlu disadari bahwa perjalanan
mempelajari ilmu itu tidak akan terlepas dari kesulitan, sebab mempelajari ilmu
merupakan suatu perbuatan yang menurut kebanyakan ulama lebih utama dari pada
berperang membela agama Allah. Siapa yang bersabar menghadapi kesulitan dalam
mempelajari ilmu, maka ia akan merasakan lezatnya ilmu melebihi segala
kelezatan yang ada di dunia.
Kesimpulan
M. Quraish Shihab mengatakan bahwa
terdapat empat poin terpenting dalam memahami konsep tawakal yaitu: (a),
kenyakinan akan ke-esaan Allah SWT yang tidak bisa disamakan dengan makhluk,
(b), menyadari keterbatasan diri sebagai hamba Allah SWT, (c), berusaha
melakukan sesuatu sejauh batas kemampuan. Dan (d), berserah diri kepada Allah SWT.
Disamping itu, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti
penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT, akan tetapi penyerahan tersebut
harus didahului dengan usaha manusiawi. Artinya seorang menuntut ilmu tidak
ujuk-ujuk pintar namun harus berusaha (ikhtiyar)
yang kuat dan belajar dengan giat sehingga apa yang dicita-citakan tercapai. Oleh
karena itu, jika seorang penuntut ilmu yang menjadikan Allah SWT sebagai wakil,
maka orang tersebut harus terlebih dahulu melakukan sesuatu yang berada dalam
batas kemampuannya.
Daftar
Pustaka
Al-Qur’annulkarim dan Terjemahannya Departemen Agama Republik
Indonesia.
Abdullah bin Umar ad-Dumaiji. 2005. Hidup Tentram dengan
Tawakal, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.
Abu Isa Abdullah. 2011. Mutiara Faidah Kitab Tauhid, cet.4,
Jakarta: Pustaka Muslim.
Abdul Halim Mahmud. 2003. Lentera Hat, Jakarta: Putra
Grafika.
Achmad Sunarto. 1995 Imam Al-Ghazali Berbicara Tentang
Tawakkal, Semarang: Surya Angkasa.
Ahmad Munir. 2008.
Tafsir Tarbawi; Mengungkapkan Pesan Al-Qur’an tentang pendidikan, cet.1,
Yogyakarta:Teras.
Abdullah bin Umar ad-Dumaiji. 2005. Hidup Tentram dengan
Tawakal, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.
Abdullah Zakiy Al-Kaaf. 2001. Membentuk Akhlak: Mempersiapkan
Generasi Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Abdullah Bin Umar Dumaji, dkk. 2000. Rahasia Tawakal Sebab dan
Musabab, Jakarta: Pustaka Azzam.
Abu Muhammad waskito. 2007. Hidup itu Mudah, Jakarta: Khalifa.
Abdul Rozaq. 2008. Konsep Tawakal Menurut Imam Al-Ghazali,
Walisongo: Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN.
Ahmad Mustafa Al-Maragi. 1993. Tafsir Al-Maragi, Semarang:
Karya Toha Putra Semarang.
Ansory Al-Mansor. 2001. Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah
SWT:Taqarub Ilallah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Abudin Nata. 2005. Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di
Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar