Minggu, 29 November 2020

TAWAKKAL

 

Pertemuan Ketujuh

Tawakkal

  Pendahuluan

Tawakal bagian dari perkara yang sangat agung karena “tawakal merupakan perwujudan dari ketauhidan. Sikap tawakal tidaklah didapat oleh seseorang dengan tiba-tiba, namun sikap tawakal akan lahir dari hasil ketauhidan yang telah dipupuk bertahun-tahun lamanya”.

Kenyakinan utama yang mendasari tawakal adalah “kenyakinan sepenuhnya akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, karena itulah tawakal merupakan bukti nyata dari tauhid. Pohon tauhid yang tumbuh di dalam hati dan berangsur-angsur besar akhirnya membuahkan sikap tawakal”.

Sikap yang benar mengenai tawakal yaitu “seorang hamba harus mengambil atau mencari sebab tanpa melupakan bahwa hati harus disandarkan kepada pembuat sebab, yaitu Allah SWT”. Allah SWT berfirman dalam  QS. An-Nisaa ayat 71;

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!”.

 

Tanda seseorang yang benar-benar bertawakal bisa di lihat dalam realita kehidupan sehari-hari yaitu dengan “berserah diri kepada Allah SWT dan tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha, namun orang tersebut tetap optimis dan terus bekerja keras, meskipun tantangan hidupnya penuh dengan kepahitan.

Karena, orang yang bertawakal mempercayai bahwa dibalik semua itu ada hikmahnya”. Para ulama menjelaskan bahwa tawakal harus dibangun atas dua hal
pokok, “pertama, bersandarnya hati kepada Allah SWT dan kedua, mengupayakan sebabnya”. Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya dan terus mengingat kebesaran Allah SWT, maka hati dan akalnya serta seluruh kekuatan akan semakin kuat mendorongnya untuk melakukan semua usaha tanpa berkeluh kesah dalam menghadapi tantangan dan ujian yang berat.

Tawakal tidak akan sempurna jika tidak dengan kekuatan hati dan kekuatan kenyakinan secara bersama, karena dengan keduanyalah hati akan mendapatkan ketenangan. “Orang yang berupaya menempuh sebab saja dan tidak bersandar kepada Allah SWT, berarti cacat imannya. Adapun orang yang bersandar kepada Allah SWT namun tidak berusaha menempuh sebab maka cacat akalnya”.

Menurut M. Quraish Shihab menyebutkan “tawakal berakar kata sama dengan wakil, bukan berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT, akan tetapi penyerahan tersebut harus di dahului dengan usaha manusiawi”. Dalam hal ini mengandung arti setiap muslim harus aktif dalam berusaha untuk memenuhi keperluan hidupnya. Orang yang bertawakal dapat menyadari keterbatasan diri dan menyadari pula Kemahamutlakan Allah SWT. Kesadaran tinggi akan keterbatasan diri akan membuat orang yang bertawakal tidak akan pernah berkeluh kesah tentang kegagalan yang dialami, sebab mereka menyakini dengan sepenuh hati dan pikiran bahwa dibalik itu semua terdapat hikmahnya. Sebagaimana Firman Allah SWT pada surat At-Taubah ayat 51;

Artinya: “Katakanlah,‘sekali-kali akan menimpa kami selain apa yang telah ditetapkan oleh Allahbagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepadaAllah SWT orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

 

Pengertian

Kata tawakal berasal dari bahasa Arab, yaitu “wakala yakilu waklan” yang artinya “menyerahkan, mewakilkan, dan wakil”.  Terkait dengan arti menyerahkan terdapat kata yang artinya “pasrah kepada Allah SWT dan menyerahkan kepada-Nya”. Selanjutnya yang terkait dengan kata mewakilkan “wakkaltuhu fatawakkal lie” artinya “saya serahkan urusan kepadanya sehingga dia mewakili diri saya”.

Sedangkan untuk kata “wakil “ yaitu pemilik urusan itu telah melimpahkan wewenang kepada wakil untuk menyelesaikan urusannya dan ia disebut sebagai “maukulun ilaihi”.

Pengertian tawakal menurut istilah adalah “menjadikan Allah SWTsebagai wakil dalam mengurusi suatu urusan, dan mengandalkan Allah SWT dalam menyelesaikan segala urusan setelah berusaha semampunya”. Di samping itu, ada juga yang memahami tawakal sebagai berserah diri kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam secara bulat dan utuh. Kata-kata secara bulat dan utuh inilah yang seringkali membuat orang salah menafsirkannya. Oleh karena itu, “tawakal yang dimaksud bukan menyerahkan sesuatu kepada Allah SWT tanpa melakukan usaha. Melainkan berusaha terlebih dahulu kemudian menyerahkannya kepada Allah secara bulat dan utuh. Selanjutnya terdapat juga beberapa pendapat para ulama tentang arti tawakal yaitu;

Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa tidak sah tawakal kecuali jika disertai dengan melakukan sebab-sebab/usaha terlebih dahulu.

TM. Hasbi Ash-Shiddiqy, tawakal adalah penyerahan diri kepada Allah dan berpegang kuat kepada-Nya setelah berusaha terlebih dahulu sejauh kemampuan manusiawi. Oleh karena itu, tawakal diharuskan ketika
keadaan diluar kemampuan manusia untuk mengubahnya

Hamka menjelaskan bahwa tawakal yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Tuhan.

Hamzah Ya’qub mengatakan bahwa tawakal adalah mempercayai diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu rencana, dengan bersandar kepada kekuatan-Nya pada suatu pekerjaan.

Dari sejumlah pengertian yang dijelaskan oleh para ulama di atas dapat dipahami, bahwa tawakal adalah pasrah diri terhadap kehendak Allah SWT atas apa yang telah dilakukan dengan usaha manusiawi terlebih dahulu. Kemudian menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT dengan melengkapi syaratsyaratnya.

 

 

 

Macam-macam tawakkal

Tawakal merupakan suatu sikap terpuji yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Di mana kehidupan orang-orang bertawakal akan sejahtera di dunia dan di akhirat dengan memiliki sikap tersebut. Dalam ajaran Islam sikap tawakal terbagi dalam tiga macam yaitu;

Pertama: Tawakal pada pekerjaan yang mempunyai sebab dan ‘illat. Kedua: Tawakal dalam urusan yang tidak ber’illat. Ketiga: Tawakal dalam meraih apa yang dicintai oleh Allah SWT berupa iman.

“Tawakal yang mempunyai sebab dan ‘illat” adalah mengharuskan manusia berusaha terlebih dahulu sebatas kemampuan yang dimilikinya, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Ajaran Islam menganjurkan pemeluknya untuk berusaha, tetapi pada saat yang sama dituntut juga untuk berserah diri kepada Allah SWT.

Selanjutnya bentuk “tawakal dalam urusan yang tidak ber’illat dan tidak bersebab”. Misalnya, “kematian yang menimpa anak secara tiba-tiba atau harta benda yang terbakar tiba-tiba. Di saat seperti ini manusia tidak boleh lemah dan berputus-asa, tetapi bersabarlah.

Sedangkan yang dimaksud bentuk “tawakal dalam meraih apa yang dicintai oleh Allah SWT berupa iman” adalah seseorang yang berusaha dengan sebab-sebab tertentu, tanpa hatinya tergantung kepada sebab tersebut. Serta dia menyakini bahwa itu semua hanyalah sebab semata, dan Allah SWT yang menakdirkan dan menentukan hasil dari usahanya. Maka tawakal semacam inilah yang diperbolehkan dalam agama Islam.

Tingkatan-tingkatan tawakkal

Tawakal memiliki tingkatan-tingkatan menurut kadar keimanan, tekad orang yang bertawakal tersebut. Syaikh al-Harawi menyebutkan tingkatan tawakal dilihat dari aspek manusia yang melewatinya sebagai berikut:

Pertama, tawakal disertai dengan perintah dan melakukan sebab-sebab dengan niat karena takut menyibukkan diri dengan sebab dan dengan niat hendak memberi manfaat pada makhluk dan meninggalkan dakwaan yang bukan terhadap diri sendiri.

Kedua, tawakal dengan menggugurkan tuntutan dan memejamkan mata dari sebab, sebagai usaha untuk berkonsentrasi memelihara kewajiban.

Ketiga, tawakal disertai dengan pengetahuan untuk bersih dari penyakit (gangguan) tawakal. Tawakal ini dengan mengetahui bahwa kekuasaan Allah SWT terhadap segala sesuatu adalah kekuasaan keperkasaan yang tiada sekutu dengannya.

 

Buah dari Tawakkal

Tawakal merupakan suatu sikap yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman. Dari sikap ini akan membuahkan hasil yang sangat bermanfaat dan berguna bagi kehidupan orang-orang yang beriman, diantara buah tawakal tersebut adalah:

Pertama, Terwujudnya Iman Seringkali dijumpai dalam firman-Nya, Allah Ta’ala menyandingkan antara tawakal dengan orang-orang yang beriman. Hal ini menandakan bahwa tawakal merupakan perkara sangat agung yang tidak dimiliki kecuali oleh orangorang beriman. Tawakal bagian dari ibadah hati yang akan membawa pelakunya ke jalan kebahagiaan didunia dan akhirat. Berdasarkan kebeiringan antara iman dan tawakal, maka tidak diragukan lagi bahwa di antara buah tawakal yang paling agung adalah realisasi iman seorang hamba.

Kedua, Merasa Cukup dalam Kehidupan Ibnu Qayyim mengatakan bahwa Allah SWT memberikan sesuatu itu tergantung pada orang yang bertawakal kepada-Nya, memberi kecukupan kepada orang yang berlindung kepada-Nya, memberi rasa aman kepada orang yang takut kepadanya, memberikan perlindungan kepada orang yang meminta pertolongan. Oleh karena itu, barang siapa berlindung meminta pertolongan dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah SWT akan melindungi dan menjaga serta memelihara dirinya. Hal ini merupakan balasan yang paling agung, di mana Allah SWT telah berjanji untuk memberikan balasan sendiri kepada orang yang bertawakal.

Ketiga, Lahirnya Kekuatan Hati, Keberanian, Keteguhan, dan Perlawanan Terhadap Musuh. Di antara buah tawakal yang paling agung lainnya adalah bahwa Allah SWT memberikan kekuatan hati, keteguhan, keberanian, dan perlawanan terhadap musuh sekuat apapun musuh tersebut. orang yang bertawakal tidak akan dibelenggu ketergantungan kepada makhluk yang lemah, dan orang tersebut mencukupkan diri dengan Allah yang Maha Berkuasa karena kenyakinannya terhadap Allah SWT. Maka akan timbul keberanian yang luar biasa.

Keempat, Lahirnya Sikap Sabar dan Ketahanan
Apabila tawakal mendatangkan sifat sabar, maka sesungguhnya sabar merupakan sebab terbesar bagi tercapainya setiap kesempurnaan. Oleh karena itu, makhluk yang paling sempurna adalah yang paling sabar dan ia merupakan maqam (kedudukan) iman yang paling besar.76 Jika kesabaran disandingkan dengan kepercayaan, maka akan melahirkan imamah (bersifat kepemimpinan) dalam agama.

Kelima, Menahan Diri dari Penguasaan Syaitan
Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan bahwa syaitan itu tidak memiliki kekuasaan apapun terhadap orang yang merealisasikan iman dan bertawakal kepada-Nya. Karena orang yang bertawakal kepada Allah SWT, akan diberi pelindungan cukup dari tipu muslihat musuh. Tokoh terdepannya adalah syaitan yang terkutuk, serta diberi kecukupan dalam segala urusan agama maupun dunianya.

 

Tawakkal dalam mencari ilmu

Dalam belajar, peserta didik harus tawakkal kepada Allah SWT dan tidak tergoda oleh urusan rezeki. Peserta didik hendaknya tidak digelisahkan oleh urusan duniawi, karena kegelisahan tidak bisa mengelakkan musibah, bahkan membahayakan hati, akal, badan dan merusak perbuatan-perbuatan yang baik. Oleh karena itu, hendaknya peserta didik berusaha untuk mengurangi urusan duniawi.

Peserta didik (thalabu al-‘ilm) hendaknya bersabar dalam perjalanannya mempelajari ilmu. Perlu disadari bahwa perjalanan mempelajari ilmu itu tidak akan terlepas dari kesulitan, sebab mempelajari ilmu merupakan suatu perbuatan yang menurut kebanyakan ulama lebih utama dari pada berperang membela agama Allah. Siapa yang bersabar menghadapi kesulitan dalam mempelajari ilmu, maka ia akan merasakan lezatnya ilmu melebihi segala kelezatan yang ada di dunia.

 

Kesimpulan

M. Quraish Shihab mengatakan bahwa terdapat empat poin terpenting dalam memahami konsep tawakal yaitu: (a), kenyakinan akan ke-esaan Allah SWT yang tidak bisa disamakan dengan makhluk, (b), menyadari keterbatasan diri sebagai hamba Allah SWT, (c), berusaha melakukan sesuatu sejauh batas kemampuan. Dan (d), berserah diri kepada Allah SWT. Disamping itu, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti penyerahan secara mutlak kepada Allah SWT, akan tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Artinya seorang menuntut ilmu tidak ujuk-ujuk pintar namun harus berusaha (ikhtiyar) yang kuat dan belajar dengan giat sehingga apa yang dicita-citakan tercapai. Oleh karena itu, jika seorang penuntut ilmu yang menjadikan Allah SWT sebagai wakil, maka orang tersebut harus terlebih dahulu melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’annulkarim dan Terjemahannya Departemen Agama Republik Indonesia.

Abdullah bin Umar ad-Dumaiji. 2005. Hidup Tentram dengan Tawakal, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.

Abu Isa Abdullah. 2011. Mutiara Faidah Kitab Tauhid, cet.4, Jakarta: Pustaka Muslim.

Abdul Halim Mahmud. 2003. Lentera Hat, Jakarta: Putra Grafika.

Achmad Sunarto. 1995 Imam Al-Ghazali Berbicara Tentang Tawakkal, Semarang: Surya Angkasa.
Ahmad Munir. 2008.

Tafsir Tarbawi; Mengungkapkan Pesan Al-Qur’an tentang pendidikan, cet.1, Yogyakarta:Teras.

Abdullah bin Umar ad-Dumaiji. 2005. Hidup Tentram dengan Tawakal, Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.

Abdullah Zakiy Al-Kaaf. 2001. Membentuk Akhlak: Mempersiapkan Generasi Islam, Bandung: Pustaka Setia.

Abdullah Bin Umar Dumaji, dkk. 2000. Rahasia Tawakal Sebab dan Musabab, Jakarta: Pustaka Azzam.
Abu Muhammad waskito. 2007. Hidup itu Mudah, Jakarta: Khalifa.

Abdul Rozaq. 2008. Konsep Tawakal Menurut Imam Al-Ghazali, Walisongo: Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN.

Ahmad Mustafa Al-Maragi. 1993. Tafsir Al-Maragi, Semarang: Karya Toha Putra Semarang.

Ansory Al-Mansor. 2001. Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT:Taqarub Ilallah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Abudin Nata. 2005. Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar