Selasa, 10 November 2020

Memilih Ilmu, Guru dan Teman

 

Kelompok kelima

Memilih ilmu, Guru dan Teman

 Pendahuluan

Adab merupakan bagian pendidikan yang sangat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, baik individu ataupun berhubungan dengan sosial masyarakat. Adab yang baik akan memberikan pengaruh dalam kehidupan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan “adab lebih tinggi dari ilmu”. Oleh karena itu nilai yang terkandung dalam agama perlu diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh Mengingat begitu pentingnya adab dalam kehidupan, sampai hal terkecil pun mempunyai aturan tersendiri (Zainuddin Ali, 2011: 32-33).

Dalam mewujudkan perubahan dan perkembangan kearah yang lebih baik, maka perlu adanya penyesuaian dan realisasi dalam pembelajaran dan kehidupan, sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat menghasilkan kualitas yang baik. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan kurikulum dan materi pembelajaran, proses pembelajaran dan pembinaan, serta dengan kegiatan ekstra kurikuler yang ada di lingkungan tersebut (H.M. Arifin, 2010: 135-136). Fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, sebagai cermin tentang merosotnya adab siswa dalam pelaku pendidikan, baik dari segi pimpinan pendidikan, guru dan peserta didik. Kondisi tersebut akan berdampak terhadap kualitas pendidikan yang diharapkan. Salah satu contohnya adalah adab atau etika yang sudah semakin jauh atau hampir hilang dari setiap orang termasuk pada anak didik. Hal itu dapat dilihat dengan banyaknya siswa atau mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santu dalam berbicara, berprilaku dan berpakaian yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam, melanggar akhlak, peraturan sekolah kode etik ditingkat mahasiswa, itu semua menunjukkan bahwa kerusakan moral, akhlak dan adab sudah sangat memperihatinkan (Burhanuddin Salam, 2000: 3).

Maka hal terpenting bagi guru adalah menanamkan adab pada anak/siswa. Sebab anak merupakan amanah Allah yang harus dibina, dipelihara dan diurus secara seksama serta sempurna agar kelak berguna bagi agama, bangsa dan Negara dan secara khusus dapat menjadi pelipur lara orang tua, penenang hati ayah dan bunda serta sebagai kebanggaan (Abdullah Nasih Ulwan, 2002: VII).

Dari uraian diatas sudah jelas bahwa pendidikan karakter itu penting agar siswa bisa memilih ilmu yang tepat, guru yang baik dan teman yang baik akhlaknya, sehingga cita-cita dan ilmu yang diraih tidak sia-sia dan mendapatkan ilmu nafi’ (bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya).

 

Memilih Ilmu

Penuntut ilmu hendaklah memilih yang terbagus dari setiap bidang ilmu-ilmu yang terbagus adalah ilmu pengetahuan yang subtansi maupun illaborasinya jelas, tidak debatable dan tidak konroversial. Hal ini penting dinyatakan karena di sini kita sedang berbicara mengenai proses belajar atau Thuruqut Ta‘allum-, memilih ilmu apa yang diperlukan dalam urusan agama di saat ini, kemudian apa yang diperlukan di waktu nanti.

Dalam memilih ilmu (mentukan pilihan bidang  studi/jurusan) para santri/siswa harus memilih ilmu/bidang studi yang paling baik atau paling cocok dengan dirinya (Az-Zarnuji,tt:23). Suatu bidang ilmu yang dikaji akan sangat menarik dan menantang bagi mereka yang menyenanginya dan yang merasa cocok dengan bidang ilmu itu, sehingga motivasi berprestasi akan mendorongnya untuk tekun belajar, serta kedisiplinan yang tinggi dalam mengikuti seluruh proses belajar bahkan akan menjadi sumber kekuatan di manapun dan kapanpun, sehingga dalam konteks ini proses belajar tidak lagi mengenal tempat dan waktu.

Dalam kaitannya dengan memilih ilmu, Az-Zarnuji menganjurkan supaya mempelajari ilmu tauhid terlebih dahulu, kemudian ilmu-ilmu lama (karangan ulama salaf) dan menghindari ilmu-ilmu baru (Az-Zarnuji,tt:24).

 

Memilih Guru

Diungkapkan Az-Zarnûjî bahwa: “Adapun dalam memilih guru, hendaknya memilih orang yang lebih alim (pandai), lebih wara‟ dan lebih tua.” (Az-Zarnuji,tt:13). Az-Zarnûjî juga mengutip pendapat Abu Hanifah mengenai sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki oleh guru, sebagai berikut:

Artinya: “Saya dapati Hammad sudah tua, berwibawa, santun, dan penyabar.

Dan beliau berkata “Maka aku menetap di samping Hammad bin Abi Sulaiman, dan akupun tumbuh dan  berkembang” (AzZarnuji,tt:13). Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa “alim, wara‟ , dan lebih tua usianya dibanding muridnya, menurut Az-Zarnuji adalah syarat yang harus dipenuhi ketika menjadi guru. Dalam arti yang lebih luas lagi, kata tua dapat diartikan berarti orang yang banyak pengalamannya dalam segala hal maupun dalam menghadapi anak didik., sehingga lebih tepat apabila guru adalah orang yang lebih dewasa

 

Memilih Teman

Selain peran guru, peran lingkungan teman relasi juga tak kalah besaranya dalam membentuk karakter berpikir, pandangan hidup dan perilaku seorang pelajar.

Dalam kaitannya dengan hal ini menurut Az-Zarnuji sebaiknya memilih teman yang rajin belajar, bersifat wara‘ dan berwatak itiqamah (lurus) dan mudah paham (tanggap). Hindarilah orang yang malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah (Az-Zarnuji,tt:31).

 

Daftar Pustaka

Jurnal Al-hikmah Vol. 14, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1412-5382. 182

183 Jurnal Al-hikmah Vol. 14, No. 2, Oktober 2017ISSN 1412-5382.

197 Jurnal Al-hikmah Vol. 14, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1412-5382.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar