Kelompok kelima
Memilih ilmu, Guru dan Teman
Adab merupakan bagian pendidikan
yang sangat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, baik
individu ataupun berhubungan dengan sosial masyarakat. Adab yang baik akan
memberikan pengaruh dalam kehidupan. Sehingga ada pepatah yang mengatakan “adab
lebih tinggi dari ilmu”. Oleh karena itu nilai yang terkandung dalam agama perlu
diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat
menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh Mengingat
begitu pentingnya adab dalam kehidupan, sampai hal terkecil pun mempunyai
aturan tersendiri (Zainuddin
Ali, 2011: 32-33).
Dalam mewujudkan
perubahan dan perkembangan kearah yang lebih baik, maka perlu adanya
penyesuaian dan realisasi dalam pembelajaran dan kehidupan, sehingga tujuan
pendidikan tersebut dapat menghasilkan kualitas yang baik. Penyesuaian tersebut
dapat dilakukan dengan kurikulum dan materi pembelajaran, proses pembelajaran
dan pembinaan, serta dengan kegiatan ekstra kurikuler yang ada di lingkungan tersebut
(H.M. Arifin, 2010:
135-136). Fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia
pendidikan saat ini, sebagai cermin tentang merosotnya adab siswa dalam pelaku
pendidikan, baik dari segi pimpinan pendidikan, guru dan peserta didik. Kondisi
tersebut akan berdampak terhadap kualitas pendidikan yang diharapkan. Salah
satu contohnya adalah adab atau etika yang sudah semakin jauh atau hampir
hilang dari setiap orang termasuk pada anak didik. Hal itu dapat dilihat dengan
banyaknya siswa atau mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santu dalam berbicara,
berprilaku dan berpakaian yang tidak sesuai dengan konsep ajaran Islam,
melanggar akhlak, peraturan sekolah kode etik ditingkat mahasiswa, itu semua
menunjukkan bahwa kerusakan moral, akhlak dan adab sudah sangat memperihatinkan
(Burhanuddin Salam,
2000: 3).
Maka hal terpenting
bagi guru adalah menanamkan adab pada anak/siswa. Sebab anak merupakan amanah
Allah yang harus dibina, dipelihara dan diurus secara seksama serta sempurna
agar kelak berguna bagi agama, bangsa dan Negara dan secara khusus dapat
menjadi pelipur lara orang tua, penenang hati ayah dan bunda serta sebagai
kebanggaan (Abdullah
Nasih Ulwan, 2002: VII).
Dari uraian diatas
sudah jelas bahwa pendidikan karakter itu penting agar siswa bisa memilih ilmu
yang tepat, guru yang baik dan teman yang baik akhlaknya, sehingga cita-cita
dan ilmu yang diraih tidak sia-sia dan mendapatkan ilmu nafi’ (bermanfaat bagi
dirinya dan lingkungannya).
Memilih Ilmu
Penuntut ilmu hendaklah
memilih yang terbagus dari setiap bidang ilmu-ilmu yang terbagus adalah ilmu
pengetahuan yang subtansi maupun illaborasinya jelas, tidak debatable dan tidak
konroversial. Hal ini penting dinyatakan karena di sini kita sedang berbicara
mengenai proses belajar atau Thuruqut Ta‘allum-, memilih ilmu apa yang
diperlukan dalam urusan agama di saat ini, kemudian apa yang diperlukan di
waktu nanti.
Dalam memilih ilmu (mentukan
pilihan bidang studi/jurusan) para
santri/siswa harus memilih ilmu/bidang studi yang paling baik atau paling cocok
dengan dirinya (Az-Zarnuji,tt:23).
Suatu bidang ilmu yang dikaji akan sangat menarik dan menantang bagi mereka
yang menyenanginya dan yang merasa cocok dengan bidang ilmu itu, sehingga
motivasi berprestasi akan mendorongnya untuk tekun belajar, serta kedisiplinan
yang tinggi dalam mengikuti seluruh proses belajar bahkan akan menjadi sumber
kekuatan di manapun dan kapanpun, sehingga dalam konteks ini proses belajar
tidak lagi mengenal tempat dan waktu.
Dalam kaitannya dengan
memilih ilmu, Az-Zarnuji menganjurkan supaya mempelajari ilmu tauhid terlebih dahulu,
kemudian ilmu-ilmu lama (karangan ulama salaf) dan menghindari ilmu-ilmu baru
(Az-Zarnuji,tt:24).
Memilih
Guru
Diungkapkan Az-Zarnûjî
bahwa: “Adapun dalam memilih guru, hendaknya memilih orang yang lebih alim
(pandai), lebih wara‟
dan lebih tua.” (Az-Zarnuji,tt:13).
Az-Zarnûjî juga mengutip pendapat Abu Hanifah mengenai sifat-sifat tertentu
yang harus dimiliki oleh guru, sebagai berikut:
Artinya:
“Saya dapati Hammad sudah tua, berwibawa, santun, dan penyabar.
Dan beliau berkata “Maka
aku menetap di samping Hammad bin Abi Sulaiman, dan akupun tumbuh dan berkembang” (AzZarnuji,tt:13).
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa “alim, wara‟
, dan lebih tua usianya dibanding muridnya, menurut Az-Zarnuji adalah syarat
yang harus dipenuhi ketika menjadi guru. Dalam arti yang lebih luas lagi, kata
tua dapat diartikan berarti orang yang banyak pengalamannya dalam segala hal maupun
dalam menghadapi anak didik., sehingga lebih tepat apabila guru adalah orang
yang lebih dewasa
Memilih Teman
Selain peran guru, peran lingkungan teman
relasi juga tak kalah besaranya dalam membentuk karakter berpikir, pandangan
hidup dan perilaku seorang pelajar.
Dalam kaitannya dengan hal ini menurut
Az-Zarnuji sebaiknya memilih teman yang rajin belajar, bersifat wara‘ dan
berwatak itiqamah (lurus) dan mudah paham (tanggap). Hindarilah orang yang
malas, penganggur, pembual, suka berbuat onar dan suka memfitnah (Az-Zarnuji,tt:31).
Daftar Pustaka
Jurnal Al-hikmah Vol.
14, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1412-5382. 182
183 Jurnal Al-hikmah
Vol. 14, No. 2, Oktober 2017ISSN 1412-5382.
197 Jurnal Al-hikmah
Vol. 14, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1412-5382.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar