Senin, 12 Oktober 2020

TM Ke-4 Konsep Ibadah Dalam Islam (PAI)

 

Pertemuan Keempat

 

 

A.     Pengertian Ibadah

 

Secara umum ibadah memiliki arti segala sesuatu yang dilakukan manusia atas dasar patuh terhadap pencipta-Nya sebagai jalan untuk mendekatka diri kepada Nya. Ibadah menurut bahasa (etimologis) adalah diambil dari kata ta’abbud yang berarti menundukkan dan mematuhi dikatakan thariqun mu’abbad yaitu : jalan yang ditundukkan yang sering dilalui orang. Ibadah dalam bahasa Arab berasal dari kata abda’ yang berarti menghamba. Jadi, meyakini bahwasanya dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki keberdayaan apa- apa sehingga ibadah adalah bentuk taat dan hormat kepada Tuhan Nya.

Sementara secara terminologis, Hasbi- Al Shiddieqy dalam kuliah ibadahnya, mengungkapkan :

1.      Menurut ulama’ Tauhid ibadah adalah: “pengesaan Allah dan pengagunganNya dengan segala kepatuhan dan kerendahan diri kepada- Nya.”

2.      Menurut ulama’ Akhlak, ibadah adalah: “Pengamalan segala kepatuhan kepada Allah secara badaniah, dengan menegakkan syariah- Nya.”

3.      Menurut ulama’ Tasawuf, ibadah adalah: “Perbuatan mukalaf yang berlawanan dengan hawa nafsunya untuk mengagungkan Tuhan- Nya.”

4.      Sedangkan menurut ulama’ Fikih, ibadah adalah: “Segala kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai rida Allah, dengan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.”

5.      Menurut jumhur ulama’: “Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang disukai Allah dan yang diridlai- Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang- terangan maupun diam- diam.”

Dengan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ibadah disamping merupakan sikap diri yang pada mulanya hanya ada dalam hati juga diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan, sekaligus cermin ketaatan kepada Allah.

 

 

B.     Tujuan Penciptaan Manusia

 

Dalam Al-Qur’an di informasikan betapa semua makhluk yang diciptakan manusa tidak ada yang sia-sia, begitu juga halnya dengan manusia. Penciptaan  manusia mempunyai tujuan tertentu, yaitu:

1.      Untuk menyaksikan keberadaan Allah ( mengenal Allah) Manusia diciptakan adalah untuk mengenal Allah. Sebagaimana yang digambarkan dalam Alquran ketika manusia berada dalam alam ruh Allah mengambil kesaksian kepada manusia atas keberadaan dan keesaan-Nya.

Artinya: dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anakanak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(Q.S. al-‘A’raf:172).23

 

Dalam konteks ini syahadah atau kesaksian merupakan bukti pengenalan dan kesadaran diri manusia akan keberadaan Tuhannya. Maka dalam upaya pengenalan ini, Allah menganugrahkan nikmat pendengaran, pengelihatan dan hati bagi manusia untuk dapat melihat dan memperhatikan segala ciptaan Allah. Dengan kemampuan inilah manusia dapat mengenali Tuhannya.

2.      Untuk beribadah kepada Allah (‘abd Allah) Sejak zaman dahulu manusia telah mempercayai akan adanya suatu zat yang lebih berkuasa atas dirinya ketimbang dirinya sendiri. Namun manusia tidak mengetahui hakikat dari zat berkuasa. Maka manusia pada masa tersebut mengadakan upara ritual terhadap kayu besar, gunung, matahari dan roh nenek moyang. Maka kesemua ini merupakan bukti bahwa manusia memiliki potensi untuk beragama.

Alquran menjawab ketidak tahuan manusia tentang zad yang lebih berkuasa tersebut. Sebagaiman yang terdapat dalam Firman Allah: Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya  mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S.al-Dzariyat:56).

Al Rasyidin mengelompokkan makna liya’budun kedalam dua  pengertian, yaitu:

1.      Secara sempit : Makna secara sempit adalah mengacu pada pada tugas mansuia secara individua lsebagai hamba Allah Swt. Maka tugas ini dilakukan dengan cara kontiniu serta dengan penuh keikhlasan. Bisa dilihat bagaimana Allah menggunakan kalimat dalam setiap perintah ibadah yang pada umumnya dengan bentuk fi’il mudhari’ atau fi’il amar yang secara gramatikal bahasa arab lazimnya menunjukkan masa sekarang dan masa yang akan datang.

Hakikat dari kehambaan adalah ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan. Maka manusia yang taat, tunduk dan patuh kepada perintah Allah yang diaktualisasikan dengan ibadah dalam kehidupan adalah ‘abd Allah. Akan tetapi niat untuk melakukan ibadah menurut Imam al-ghazali sering dihalangi oleh empat hal yaitu, dunia, manusia, setan dan hawa nafsu. Maka seorang yang akan beribadah harus mampu mengatasi keempat hal ini. Manusia harus tajarrud ‘anid-dunya (membulatkan tekad untuk tidak tergoyah kan dengan godaan dunia), menjaga diri dan waspada terhadap godaan setan, manusia dan hawa nafsu.

2.      Secara luas : Makna ibadah sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas manusia selama ia hidup di alam semesta ini adalah ibadah, manakala aktivitas memang dilakukan dan ditujukan semata-mata hanya dan untuk sencari ridha Allah. Swt. Hadits Rasulullah:

Artinya: Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niatniatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya,maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu) Muttaq ‘alaih).

 

C.     Tugas Penciptaan Manusia

 

Dalam presfektif filsafat pendidikan Islam tugas manusia dalam penciptaanya di muka bumi ini adalah sebagai khalifah. Sesuai Firma Allah:

Artinya: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:  Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(Q.S. al-Baqarah:30).

 

Terkait kata khalifah dalam ayat tersebut Ahmad Mustafa Al-Maraghi (menafsirkan makna yang lain yaitu pengganti Allah atau peminpin dagi manusia yang lain). Sedangkan Al-Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi memaparkan makana khalifah adalah suatu kaum yang sebagiaanya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan dari generasi kegenerasi. Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa kata khalifah dalam ayat diatas mempunyai dua makna yaitu:

a.       Pengganti Allah melaksanakan titahnya di muka bumi

b.      Peminpin yang di amanahkan untuk memakmurkan dan  mendayagunakan alam semesta demi kepentingan manusia itu sendiri.

 

 

D.    Macam-Macam Ibadah

 

1.      Macam-macam Ibadah

Menurut Ahmad Thib Raya dan Siti Musdiah Mulia dalam bukunya  menyelami seluk beluk ibadah dalam Islam, secara garis besar ibadah dapat dibagi menjadi dua macam:

a.       Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdhah (ibadah yang ketentuannya pasti) yakni, ibadah yang ketentuan dan pelaksanaan nya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT. seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

b.      Ibadah ‘ammah (umum), yakni semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Seperti minum, makan, dan bekerja mencari nafkah.

Pengaturan hubungan manusia dengan Allah telah diatur dengan secukupnya, sehingga tidak mungkin berubah sepanjang masa. Hubungan manusia dengan Allah merupakan ibadah yang langsung dan sering disebut dengan ‘Ibadah Mahdhah penggunaan istilah bidang ‘Ibadah Mahdhah dan bidang ‘Ibadah Ghairu Mahdhah atau bidang ‘Ibadah dan bidang Muamalah, tidaklah dimaksudkan untuk memisahkan kedua bidang tersebut, tetapi hanya membedakan yang diperlukan dalam sistematika pembahasan ilmu.

 

2.      Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah merupakan perkara yang sakral. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyariatkan kecuali berdasarkan al- Qur’an dan sunnah. Semua bentuk ibadah harus memiliki dasar apabila ingin melaksanakannya karena apa yang tidak disyariatkan berarti bid’ah, sebagaimana yang telah diketahui bahwa setiap bid’ah adalah sesat sehingga mana mungkin kita melaksanakan ibadah apabila tidak ada pedomannya? Sudah jelas, ibadah tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan dari Allah maupun Rasul Nya.

Menurut Syaikh Dr.shalih bin Fauzan bin Abdulah, “ amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan taat”. Agar bisa diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar terkecuali dengan ada syarat:

a.       Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil

b.      Sesuai dengan tuntunan Rasul.

Selain itu dalam buku lain masih terdapat beberapa syarat yang harus di miliki oleh seorang abduh dijelaskan pula supaya ibadah kita diterima Allah maka kita harus memiliki sifat berikut.

1)      Ikhlas, artinya hendaklah ibadah yang kita kerjakan itu bukan mengharap pemberian dari Allah, tetapi semata- mata karena perintah dan ridha- Nya. Juga bukan karena mengharapkan surga bukan pula takut kepada neraka karena surga dan neraka itu tdak dapat menyenangkan atau menyiksa tanpa seizin Allah.

2)      Meninggalkan riya’, artinya beribadah bukan karena malu kepada manusia atau supaya dilihat orang lain

3)      Bermuraqabah, artinya yakin bahwa Tuhan itu selalu melihat dan ada disamping kita sehingga kita bersikap sopan kepada- Nya

4)      Jangan keluar dari waktu nya, artinya mengerjakan ibadah dalam waktu tertentu, sedapat mungkin dikerjakan di awal waktu.

 

E.     Prinsip Dasar Ibadah

 

Adapun prinsip melaksanakan Ibadah sebagai berikut:

1.      Niat lillahi ta’ala (Al-Fatihah/1:5)

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam.  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

 

2.      Ikhlas (Al-Bayinah/98:5)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

 

3.      Tidak menggunakan perantara (washilah) (Al-Baqarah/2: 186)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

 

4.       Dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah

 

5.      Seimbang antara dunia akherat (Al-Qashash/28:77)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

 

6.       Tidak berlebih-lebihan (Al-A’raf/7:31)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

 

7.      Mudah (bukan meremehkan) dan Meringankan Bukan Mempersulit (Al-Baqarah/2:286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”

 

F.     Daftar Pustaka

Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 173.

Al Rasyidin,Falsafah, hlm. 24.

Ramayulis, Filsafat, hlm. 58.

Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 523.

JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No. 2, Juli-Desember 2016 ISSN : 0854 – 2627

Al-Rasyidin,Falsafah, hlm. 25.

Kamaluddin,Filsafat, hlm. 165.

Imam Al-Ghazali,Ihya ‘Ulumuddin,Terj.Zakaria Adham(Jakarta: Darul Ulum Perss,1992), hlm. 8.

Al Rasyidin,Falsafah., hlm. 25JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No. 2, Juli-Desember 2016 ISSN : 0854 – 2627-355.

Sholih Al-‘Usman,SarahArba’in Nawawi (Beirut: Dar Al-Sariya Lilnasyar 1424H), hlm.9.

Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 6.

Ahmad Mustafa Al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi,Juz.I(Berut: Darul Fikri,1421 H), hlm. 47.

Al-Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,Tafsir Ibnu kasir,Juz.I(Berut: Darul Fikri,1401 H), hlm.

JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No. 2, Juli-Desember 2016 ISSN : 0854 – 2627-3564

Ibnu Mas’ud dan Zaenal Abidin S, Fiqh Madzhab Syafi’i, ( Bandung: cv Pustaka Setia, 2007), hal 19.

Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk Beluk Ibadah Dalam Islam…,

Shalih bin Fauzan bin Abdulah, at Tauhid Li ash- Shaff al- Awwal al- ‘Ali ( Kitab Tauhid), terj. Agus Hasan Bashori, Lc, ( Jakarta: Darul Haq, 2013), hal 81

7 komentar:

  1. Assalamualaikum Pak
    Saya Adinda Diyah Gayatri perwakilan dari kelompok 3 mau bertanya.
    Apa yang dimaksud dengan Ibadah Mahdhah dan seperti apa contohnya ?
    Cukup sekian pertanyaan dari saya .Terima kasih
    Wassalamu'alaikum 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdhah (ibadah yang ketentuannya pasti) yakni, ibadah yang ketentuan dan pelaksanaan nya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT. seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

      Hapus
  2. Assalamualaikum pak
    Saya Faiz Baharuddin perwakilan dari kelompok 1 mau bertanya tadi ada penjelas bahwa Allah telah menciptakan umat Manusia di dunia untuk mengenal Allah tetapi kenapa tidak semua mengenal Allah ?
    Cukup sekian pertanyaan dari saya.
    Wassalamu'alaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya itu Allah kan menciptakan umat di dunia ini untuk mengenal Allah kenapa Allah tidak menciptakan umat beragama Islam semua ??

      Hapus
    2. Betul mas Faiz, utk mengenal Allah manusia sudah dianugerahi kenikmatan pendengaran, penglihatan dan hati utk mengenal Allah, dan manusia juga dianugerahi akal pikiran agar bisa memilih mana yg benar dan mana yg salah, jadi hanya bagi orang yg bersyahadat atau masuk Islam yg mengenal keberadaan Allah swt.

      Hapus
  3. Assalamualikum pak🙏
    Saya Ferdi Arifin perwakilan dari kelompok 4 mau bertanya tentang yang dijelaskan pada prinsip dasar ibadah diatas yaitu Tidak berlebih-lebihan (Al-a'raf/7:31), pertanyaan saya apakah boleh jika kita mempunyai niat untuk menambah berat badan dan ada salah satu cara supaya berat badan naik yaitu dengan cara mengkonsumsi makanan dengan porsi yang sangat banyak, bagaimana menurut bapak?
    Sekian pertanyaan dari saya. Terimakasih
    Wassalamualikum.wr.wb

    BalasHapus