Pertemuan Keempat
A.
Pengertian Ibadah
Secara umum ibadah memiliki arti segala
sesuatu yang dilakukan manusia atas dasar patuh terhadap pencipta-Nya sebagai
jalan untuk mendekatka diri kepada Nya. Ibadah menurut bahasa (etimologis) adalah diambil dari kata ta’abbud yang berarti menundukkan dan
mematuhi dikatakan thariqun mu’abbad yaitu : jalan yang ditundukkan yang sering
dilalui orang. Ibadah dalam bahasa Arab berasal dari kata abda’ yang berarti menghamba. Jadi, meyakini bahwasanya dirinya
hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki keberdayaan apa- apa sehingga ibadah
adalah bentuk taat dan hormat kepada Tuhan Nya.
Sementara secara terminologis, Hasbi-
Al Shiddieqy dalam kuliah ibadahnya, mengungkapkan :
1.
Menurut
ulama’ Tauhid ibadah adalah: “pengesaan
Allah dan pengagunganNya dengan segala kepatuhan dan kerendahan diri kepada-
Nya.”
2.
Menurut
ulama’ Akhlak, ibadah adalah: “Pengamalan
segala kepatuhan kepada Allah secara badaniah, dengan menegakkan syariah- Nya.”
3. Menurut ulama’ Tasawuf, ibadah adalah: “Perbuatan mukalaf yang berlawanan dengan
hawa nafsunya untuk mengagungkan Tuhan- Nya.”
4.
Sedangkan
menurut ulama’ Fikih, ibadah adalah: “Segala
kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai rida Allah, dengan mengharapkan
pahala-Nya di akhirat.”
5.
Menurut
jumhur ulama’: “Ibadah adalah nama yang
mencakup segala sesuatu yang disukai Allah dan yang diridlai- Nya, baik berupa
perkataan maupun perbuatan, baik terang- terangan maupun diam- diam.”
Dengan pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa ibadah disamping merupakan sikap diri yang pada mulanya hanya
ada dalam hati juga diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan, sekaligus
cermin ketaatan kepada Allah.
B.
Tujuan Penciptaan Manusia
Dalam Al-Qur’an di informasikan betapa
semua makhluk yang diciptakan manusa tidak ada yang sia-sia, begitu juga halnya
dengan manusia. Penciptaan manusia mempunyai
tujuan tertentu, yaitu:
1.
Untuk
menyaksikan keberadaan Allah ( mengenal Allah) Manusia diciptakan adalah untuk
mengenal Allah. Sebagaimana yang digambarkan dalam Alquran ketika manusia
berada dalam alam ruh Allah mengambil kesaksian kepada manusia atas keberadaan
dan keesaan-Nya.
Artinya: dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anakanak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi".
(kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)",(Q.S. al-‘A’raf:172).23
Dalam konteks ini syahadah atau kesaksian merupakan bukti pengenalan
dan kesadaran diri manusia akan keberadaan Tuhannya. Maka dalam upaya
pengenalan ini, Allah menganugrahkan nikmat pendengaran, pengelihatan dan hati
bagi manusia untuk dapat melihat dan memperhatikan segala ciptaan Allah. Dengan
kemampuan inilah manusia dapat mengenali Tuhannya.
2.
Untuk
beribadah kepada Allah (‘abd Allah) Sejak zaman dahulu manusia telah
mempercayai akan adanya suatu zat yang lebih berkuasa atas dirinya ketimbang
dirinya sendiri. Namun manusia tidak mengetahui hakikat dari zat berkuasa. Maka
manusia pada masa tersebut mengadakan upara ritual terhadap kayu besar, gunung,
matahari dan roh nenek moyang. Maka kesemua ini merupakan bukti bahwa manusia memiliki
potensi untuk beragama.
Alquran menjawab ketidak tahuan manusia tentang zad yang
lebih berkuasa tersebut. Sebagaiman yang terdapat dalam Firman Allah: Artinya: dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Q.S.al-Dzariyat:56).
Al Rasyidin mengelompokkan makna liya’budun kedalam dua pengertian, yaitu:
1. Secara sempit : Makna secara sempit
adalah mengacu pada pada tugas mansuia secara individua lsebagai hamba Allah
Swt. Maka tugas ini dilakukan dengan cara kontiniu serta dengan penuh
keikhlasan. Bisa dilihat bagaimana Allah menggunakan kalimat dalam setiap
perintah ibadah yang pada umumnya dengan bentuk fi’il mudhari’ atau fi’il amar
yang secara gramatikal bahasa arab lazimnya menunjukkan masa sekarang dan masa
yang akan datang.
Hakikat dari kehambaan adalah ketaatan,
kepatuhan, dan ketundukan. Maka manusia yang taat, tunduk dan patuh kepada
perintah Allah yang diaktualisasikan dengan ibadah dalam kehidupan adalah ‘abd
Allah. Akan tetapi niat untuk melakukan ibadah menurut Imam al-ghazali sering
dihalangi oleh empat hal yaitu, dunia, manusia, setan dan hawa nafsu. Maka
seorang yang akan beribadah harus mampu mengatasi keempat hal ini. Manusia
harus tajarrud ‘anid-dunya (membulatkan tekad untuk tidak tergoyah kan dengan godaan
dunia), menjaga diri dan waspada terhadap godaan setan, manusia dan hawa nafsu.
2.
Secara luas
: Makna ibadah sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya.
Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas manusia selama ia hidup di alam
semesta ini adalah ibadah, manakala aktivitas memang dilakukan dan ditujukan
semata-mata hanya dan untuk sencari ridha Allah. Swt. Hadits Rasulullah:
Artinya: Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai
niatniatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya.
Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya,maka hijrahnya
itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk
harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak
dikahwininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya
itu) Muttaq ‘alaih).
C.
Tugas Penciptaan Manusia
Dalam presfektif filsafat pendidikan
Islam tugas manusia dalam penciptaanya di muka bumi ini adalah sebagai
khalifah. Sesuai Firma Allah:
Artinya: ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."(Q.S. al-Baqarah:30).
Terkait kata khalifah dalam ayat
tersebut Ahmad Mustafa Al-Maraghi (menafsirkan makna yang lain yaitu pengganti
Allah atau peminpin dagi manusia yang lain). Sedangkan Al-Imam Ibnu Kasir
Ad-Dimasyqi memaparkan makana khalifah adalah suatu kaum yang sebagiaanya
menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan dari
generasi kegenerasi. Dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa kata khalifah
dalam ayat diatas mempunyai dua makna yaitu:
a. Pengganti Allah melaksanakan titahnya
di muka bumi
b. Peminpin yang di amanahkan untuk
memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta
demi kepentingan manusia itu sendiri.
D.
Macam-Macam Ibadah
1. Macam-macam Ibadah
Menurut Ahmad Thib Raya dan Siti Musdiah Mulia dalam bukunya menyelami seluk beluk ibadah dalam Islam,
secara garis besar ibadah dapat dibagi menjadi dua macam:
a.
Ibadah khassah
(khusus) atau ibadah mahdhah (ibadah yang ketentuannya pasti) yakni, ibadah
yang ketentuan dan pelaksanaan nya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan
sari ibadah kepada Allah SWT. seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
b.
Ibadah
‘ammah (umum), yakni semua perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan
dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Seperti minum, makan,
dan bekerja mencari nafkah.
Pengaturan hubungan manusia dengan Allah telah diatur dengan
secukupnya, sehingga tidak mungkin berubah sepanjang masa. Hubungan manusia
dengan Allah merupakan ibadah yang langsung dan sering disebut dengan ‘Ibadah
Mahdhah penggunaan istilah bidang ‘Ibadah Mahdhah dan bidang ‘Ibadah Ghairu
Mahdhah atau bidang ‘Ibadah dan bidang Muamalah, tidaklah dimaksudkan untuk
memisahkan kedua bidang tersebut, tetapi hanya membedakan yang diperlukan dalam
sistematika pembahasan ilmu.
2. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah merupakan perkara yang sakral.
Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang disyariatkan kecuali berdasarkan
al- Qur’an dan sunnah. Semua bentuk ibadah harus memiliki dasar apabila ingin
melaksanakannya karena apa yang tidak disyariatkan berarti bid’ah, sebagaimana
yang telah diketahui bahwa setiap bid’ah adalah sesat sehingga mana mungkin
kita melaksanakan ibadah apabila tidak ada pedomannya? Sudah jelas, ibadah
tersebut akan ditolak karena tidak sesuai dengan tuntunan dari Allah maupun
Rasul Nya.
Menurut Syaikh Dr.shalih bin Fauzan bin
Abdulah, “ amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya,
sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan taat”. Agar bisa diterima, ibadah
disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar terkecuali dengan ada
syarat:
a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari
syirik besar dan kecil
b. Sesuai dengan tuntunan Rasul.
Selain itu dalam
buku lain masih terdapat beberapa syarat yang harus di miliki oleh seorang
abduh dijelaskan pula supaya ibadah kita diterima Allah maka kita harus memiliki
sifat berikut.
1) Ikhlas, artinya hendaklah ibadah yang kita kerjakan itu
bukan mengharap pemberian dari Allah, tetapi semata- mata karena perintah dan
ridha- Nya. Juga bukan karena mengharapkan surga bukan pula takut kepada neraka
karena surga dan neraka itu tdak dapat menyenangkan atau menyiksa tanpa seizin
Allah.
2) Meninggalkan riya’, artinya beribadah bukan karena malu
kepada manusia atau supaya dilihat orang lain
3) Bermuraqabah, artinya yakin bahwa Tuhan itu selalu melihat
dan ada disamping kita sehingga kita bersikap sopan kepada- Nya
4) Jangan keluar dari waktu nya, artinya mengerjakan ibadah
dalam waktu tertentu, sedapat mungkin dikerjakan di awal waktu.
E.
Prinsip Dasar Ibadah
Adapun
prinsip melaksanakan Ibadah sebagai berikut:
1.
Niat
lillahi ta’ala (Al-Fatihah/1:5)
Artinya: Dengan menyebut
nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji[2] bagi Allah,
Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang. Yang menguasai di hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang Kami
sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
2.
Ikhlas
(Al-Bayinah/98:5)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
3.
Tidak
menggunakan perantara (washilah) (Al-Baqarah/2: 186)
Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku
adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
4.
Dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan
sunnah
5.
Seimbang
antara dunia akherat (Al-Qashash/28:77)
Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
6.
Tidak berlebih-lebihan (Al-A’raf/7:31)
Hai anak Adam,
pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid[534], Makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
7.
Mudah
(bukan meremehkan) dan Meringankan Bukan Mempersulit (Al-Baqarah/2:286)
Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala
(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami
jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan
kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak
sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah
kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”
F.
Daftar Pustaka
Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 173.
Al Rasyidin,Falsafah, hlm. 24.
Ramayulis, Filsafat, hlm. 58.
Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 523.
JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No. 2, Juli-Desember 2016 ISSN :
0854 – 2627
Al-Rasyidin,Falsafah, hlm. 25.
Kamaluddin,Filsafat, hlm. 165.
Imam Al-Ghazali,Ihya ‘Ulumuddin,Terj.Zakaria Adham(Jakarta:
Darul Ulum Perss,1992), hlm. 8.
Al Rasyidin,Falsafah., hlm. 25JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No.
2, Juli-Desember 2016 ISSN : 0854 – 2627-355.
Sholih Al-‘Usman,SarahArba’in Nawawi (Beirut: Dar Al-Sariya
Lilnasyar 1424H), hlm.9.
Departemen Agama RI,al-Qur’an, hlm. 6.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi,Tafsir al-Maraghi,Juz.I(Berut:
Darul Fikri,1421 H), hlm. 47.
Al-Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi,Tafsir Ibnu kasir,Juz.I(Berut:
Darul Fikri,1401 H), hlm.
JURNAL TARBIYAH, Vol. 23, No. 2, Juli-Desember 2016 ISSN :
0854 – 2627-3564
Ibnu Mas’ud dan Zaenal Abidin S, Fiqh Madzhab Syafi’i, (
Bandung: cv Pustaka Setia, 2007), hal 19.
Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk Beluk
Ibadah Dalam Islam…,
Shalih bin Fauzan bin Abdulah, at Tauhid Li ash- Shaff al-
Awwal al- ‘Ali ( Kitab Tauhid), terj. Agus Hasan Bashori, Lc, ( Jakarta: Darul
Haq, 2013), hal 81
Assalamualaikum Pak
BalasHapusSaya Adinda Diyah Gayatri perwakilan dari kelompok 3 mau bertanya.
Apa yang dimaksud dengan Ibadah Mahdhah dan seperti apa contohnya ?
Cukup sekian pertanyaan dari saya .Terima kasih
Wassalamu'alaikum 🙏
Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdhah (ibadah yang ketentuannya pasti) yakni, ibadah yang ketentuan dan pelaksanaan nya telah ditetapkan oleh nash dan merupakan sari ibadah kepada Allah SWT. seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
HapusAssalamualaikum pak
BalasHapusSaya Faiz Baharuddin perwakilan dari kelompok 1 mau bertanya tadi ada penjelas bahwa Allah telah menciptakan umat Manusia di dunia untuk mengenal Allah tetapi kenapa tidak semua mengenal Allah ?
Cukup sekian pertanyaan dari saya.
Wassalamu'alaikum
Maksudnya itu Allah kan menciptakan umat di dunia ini untuk mengenal Allah kenapa Allah tidak menciptakan umat beragama Islam semua ??
HapusBetul mas Faiz, utk mengenal Allah manusia sudah dianugerahi kenikmatan pendengaran, penglihatan dan hati utk mengenal Allah, dan manusia juga dianugerahi akal pikiran agar bisa memilih mana yg benar dan mana yg salah, jadi hanya bagi orang yg bersyahadat atau masuk Islam yg mengenal keberadaan Allah swt.
HapusAssalamualikum pak🙏
BalasHapusSaya Ferdi Arifin perwakilan dari kelompok 4 mau bertanya tentang yang dijelaskan pada prinsip dasar ibadah diatas yaitu Tidak berlebih-lebihan (Al-a'raf/7:31), pertanyaan saya apakah boleh jika kita mempunyai niat untuk menambah berat badan dan ada salah satu cara supaya berat badan naik yaitu dengan cara mengkonsumsi makanan dengan porsi yang sangat banyak, bagaimana menurut bapak?
Sekian pertanyaan dari saya. Terimakasih
Wassalamualikum.wr.wb
Masyaallah
BalasHapus