Pertemuan Kelima
Al-Qur’an
: Sumber Kajian Islam Pertama
A. PENDAHULUAN
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ
تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً
Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian
jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.(Qs. Al-Nisa’: 59)
Menurut ayat tersebut setiap
mukmin (orang-orang yang beriman) wajib mengikuti perintah Allah, kehendak
Rasul dan penguasa atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri. Perintah Allah
terekam dalam Al-Qur’an, perintah Rasul terhimpun dalam Al-Hadits, dan perintah
penguasa (ulil amri) termaktub dalam kitab-kitab hasil karya orang yang
memenuhi syarat karena mempunyai "kapasitas keilmuan” untuk mengalirkan
ajaran Islam dari dua sumber utamanya itu yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan
ra’yu atau akal pikirannya yaitu berupa Ijtihad.
Sumber ajaran Islam
dirumuskan dengan jelas dalam percakapan Nabi Muhammad saw dengan sahabat
beliau Mu'az bin Jabal,
Ketika Rasulullah mengutus
Mu’adz bin Jabal menjadi gubernur di Yaman, beliau bertanya kepadanya, “Dengan
pedoman apa engkau akan memutus sesuatu urusan ?”
Jawab Mu’adz : dengan kitabullah
Tanya Rasul :
kalau tidak ada dalam Al Quran?
Jawab Mu’adz : dengan sunnah Rasulullah
Tanya Rasul :
kalau dalam sunnah juga tidak ada?
Jawab Mu’adz : saya berIjtihad dengan pikiran saya
Sabda Rasul :
Maha suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-Nya, dengan
satu sikap yang disetujui Rasul-Nya. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Jadi berdasarkan dua
landasan tersebut secara sistematis, sumber ajaran Islam ada tiga, yakni (1) Al-Qur’an,
(2) Al- Sunnah dan (3) Ijtihad.
B.
AL-QUR’AN
- Pengetian
dan Aspeknya.
Secara harfiyah, Quran artinya “bacaan” (qoroa,
yaqrou, quranan), sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 75:17-18.
إِنَّ
عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (١٧)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
(١٨)
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.(Qs. Al-Qiya>mah: 17-18)
Secara istilah dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah
kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw,
berisi ajaran tentang keimanan, peribadahan, dan budi pekerti.
Al-Qur’an merupakan salah satu Kita>b Allah,
yakni wahyu-wahyu yang diterima para Nabi/Rasul Allah. Al-Qur’an adalah
mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, bahkan terbesar pula dibandingkan mukjizat
para nabi sebelumnya.
Mukjizat para nabi terdahulu lebih bersifat inderawi,
yakni bisa diamati dan dilihat langsung oleh indera penglihatan atau lainnya,
untuk menampilkan rasa takjub terhadap kaumnya. Kepada Nabi Muhammad Saw, Allah
SWT memberikan mukjizat Al-Qur’an yang kekal abadi sepanjang zaman sehingga
dapat disaksikan oleh semua umat manusia dari semua zaman dan tempat sampai
akhir nanti.
Al-Qur’an membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dan
menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan sebelumnya.
وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ
اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لا رَيْبَ
فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat oleh
selain Allah. Akan tetapi ia membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan
menjelaskan hukum-hukum yang ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya dari
Tuhan semesta alam” (Q.S.
Yunus/10:37).
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ
بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu
Al-Qur’an itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab sebelumnya…” (Qs. Fat{ir/35:31).
Al-Qur’an tersusun dalam 114 surat dengan 6.236 ayat,
74.437 kalimat, dan 325.345 huruf. Al-Qur’an diturunkan Allah dalam dua
periode:
- Periode Makkah, yakni selama 12 tahun 13 hari. Ayat-ayatnya
disebut Ayat Makiyah. Ayat pertama turun adalah Q.S. Al-’Alaq:1-5, ketika
Nabi Muhammad berkhalwat di Gua Hira tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus
610 M yang dikenal sebagai “Malam Qadar” (Laylah al-Qadr).
Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut “Ayat-Ayat
Makiyah” dengan ciri khas: ayatnya pendek-pendek, ditujukan kepada umat manusia
(diawali kalimat “Ya Ayuha al-Nas”, Wahai Manusia), dan berisi
hal-hal yang berhubungan dengan tauh{i>d, keimanan, ancaman dan pahala,
serta sejarah bangsa-bangsa terdahulu.
- Periode Madinah, ayat-ayatnya disebut Ayat Mada>niyyah. Di
Madinah pula ayat terakhir turun, yakni Q.S. 5:3, ketika Nabi Saw tengah
menunaikan ibadah haji Wada di Arafah (9 Dzulhijjah 10 H/Maret 632 M).
Ayat-ayat yang turun di Madinah disebut “Ayat-Ayat
Madaniyyah”, dengan ciri khas: umumnya panjang-panjang, ditujukan kepada kaum
beriman (diawali dengan “Ya> Ayyuha alladhina amanu”, Wahai
Orang-Orang Beriman), dan berisi ajaran tentang hukum-hukum, kemasyarakatan,
kenegaraan, perang, hukum internasional, serta hukum antaragama dan lain-lain.
Al-Qur’an dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi
atau pembukuan yang dilakukan para sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat
Zayd bin Tha>bit pada masa Khali>fah Abu Bakar, lalu pada masa
Khali>fah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc penyusunan mush{af
Al-Qur’an yang diketuai Zayd. Karenanya, mush{af Al-Qur’an yang sekarang
disebut pula Mushaf Uthmany.
Al-Qur’an yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini
benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life)
manusia. Melalui Al-Qur’anlah Allah SWT menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti
tuntunan dan tuntutan Al-Qur’an berarti mengikuti kehendak-Nya.
Itulah sebabnya Allah sendiri yang menjamin keaslian
Al-Qur’an sejak pertama kali diturunkan. Makanya, hingga kini apa yang ada
dalam Al-Qur’an, itu pula yang diterima dan dicatat para sahabat Nabi Saw.
Hingga kini isinya masih dalam teks asli, tanpa sedikit pun perubahan, baik
dalam jumlah surat, ayat, bahkan huruf. Tidak tercampur di dalamnya ucapan Nabi
Muhammad Saw atau perkataan para sahabat,
إِنَّا نَحْنُ
نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an
dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q.S. al-H{ijr/15:9).
Salah satu indikasi keaslian Al-Qur’an adalah tidak
adanya “Al-Qur’an tandingan” karena manusia yang paling cerdas sekaligus paling
membenci Al-Qur’an pun tidak akan sanggup membuatnya. Allah SWT sendiri
menantangnya.
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٣)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ
الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (٢٤)
“Jika kamu masih ragu-ragu tentang
kebenaran apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), silakan kamu
membuat satu surat saja yang sama dengannya (Al-Qur’an). Panggilah saksi-saksi
(pemuka dan para ahli) kamu (untuk membantumu) selain Allah, sekiranya kamu
benar (bisa melakukan hal itu). Jika kamu tidak sanggup membuatnya dan
sekali-kali kamu tidak akan sanggup, takutilah api neraka yang kayu bakarnya
manusia dan bantu yang disediakan bagi orang-orang kafir (yang menentang
kebenaran Al-Qur’an)” (Q.S.
al-Baqarah/2:23-24).
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا
بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ
ظَهِيرًا (٨٨)
“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan
jin berkumpul untuk mengadakan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya tidak
mereka akan dapat membuatnya, biarpun sebagian mereka membantu sebagian yang
lain” (Q.S.
17:88).
Ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’ (bacalah!)
yang mengindikasikan kewajiban pertama manusia adalah membaca, baik dengan
pancaindera maupun mata hati.
Dari ayat pertama itu saja, Al-Qur’an sudah
menunjukkan bahwa ia rahmat dan bimbingan bagi manusia. Membaca adalah
jalan untuk memperoleh ilmu. Dengan ilmu itu manusia bisa mengenal baik dan
buruk menurut Allah SWT, mengenal dirinya, juga mengenal Tuhannya. Rahasia alam
akan tersingkap denan membaca, juga pembentukan kebudayaan termasuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk “menaklukkan” alam.
Allah SWT mewahyukan Al-Qur’an tidak lain agar menjadi
pedoman bagi hidup umat manusia. Dengan pedoman itu, manusia akan
menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga tercipta ketentraman,
keharmonisan, dan kebahagiaan hidup.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ
وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta dari
rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (Q.S. Fa>t{ir/35:29).
2.
Isi
kandungan Al-Qur’an
Isi Al-Qur’an meliputi segala hal, mulai soal keimanan
atau akidah, hukum, etika, kisah, informasi tentang alam ghaib, dan fenomena
alam.
1.
Al-Qur’an
mengajari manusia bersikap ilmiah atau berdasarkan ilmu.
وَلا تَقْفُ مَا
لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ
كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’/17: 36).
2.
Mendorong
manusia melakukan penelitian untuk menyibak tabir alam,
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا
تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit
dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang
memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".(Q.S. yunus/10:101)
3.
Menaklukkan
angkasa luar.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ
تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا
بِسُلْطَانٍ
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup
menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat
menembusnya kecuali dengan kekuatan.(QS. Al-Rah{man/55:33)
4.
Mengabarkan
prediksi ilmiah tentang rahim ibu
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الأنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ
أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ
رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia
jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang
berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah
Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia;
Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Q.S. Az-Zumar:6),
5.
Gaya berat
atau gravitasi
وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا
وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan
neraca (keadilan). (Q.S.
Ar-Rahman:7),
6.
Pemuaian
alam semesta atau expanding universe.
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا
بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan
Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa (QS. Al-dza>riya>t: 47)
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
(yaitu) pada hari Kami gulung langit
sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai
panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang
pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.(Qs. Al-Anbiya>’: 104)
وَالشَّمْسُ تَجْرِي
لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
dan matahari berjalan ditempat peredarannya.
Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.(Ya>si>n: 38).
7.
Tentang
ruang hampa di angkasa luar,
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ
لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا
يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا
يُؤْمِنُونَ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah
menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.
Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-An’am:125)
8.
Tentang
geologi, gerak rotasi, dan revolusi planet bumi
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ
مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا
تَفْعَلُونَ
dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia
tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah)
perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Naml:88).
- Komitment
terhadap Al-Qur’an
Ada empat sikap yang menunjukkan komitmen muslim terhadap Al-Qur’an.
Pertama, mengimani Al-Qur’an, yaitu meyakini bahwa
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Ia mengandung kebenaran yang mutlak dan merupakan
syariat terakhir yang menyempurnakan syariat-syariat yang diturunkan Allah sebelumnya. Mengimani Al-Qur’an mencakup pula keyakinan bahwa
kandungan Al-Qur’an bersifat universal yang dijadikan pedoman hidup yang
membawa manusia kepada kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia
dan akhirat. Sebaliknya, mengingkari Al-Qur’an akan menyeret manusia kepada
kehancuran hidup dan kesesatan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي
نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ
بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ
ضَلالا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari Kemudian,
Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.(QS. Al-Nisa>’: 136)
Kedua, mempelajari Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan manifestasi rahmat Allah.
Mempelajari berarti membuka pintu rahmat Allah. Sebaliknya ketidakpedulian
terhadap Al-Qur’an berarti menutup rahmat Allah yang mengakibatkan terputusnya
hidup dari berkah-Nya. Inilah yang dimaksud dengan "la'allakum turh{amu>n”
dalam ayat:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا
لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(Qs. Al-A’raf: 204).
Mempelajari Al-Qur’an adalah modal dasar mengarungi kehidupan dunia untuk
memperoleh keuntungan. Membaca dan memahaminya menambah kualitas keimanan dan
membentengi diri dari perbuatan buruk. Sikap tak ambil peduli
terhadap Al-Qur’an akan mengunci hati dari masuknya iman.
Ketiga, mengamalkan Al-Qur’an. Pengamalan Al-Qur’an adalah inti dari komitmen
setiap muslim karena segala yang dikandungnya bukan hanya ditujukan untuk
dipahami, melainkan membentuk mental dan sikap jiwa qurani. Al-Qur’an akan
sampai kepada puncak keagungannya manakala nilai-nilai yang dibawanya telah
berbuah dalam perbuatan nyata manusia. Manusia akan sampai pada puncak kualitas
hidupnya manakala segala aktivitas kehidupannya berlandaskan nilai-nilai
Al-Qur’an. Meyakini kebenaran dan keagungan Al-Qur’an serta memahami dan
mengamalkannya merupakan garansi bagi kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia
di dunia dan akhirat.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ
لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(٥١)
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah
dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.
"Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang
beruntung.(Qs. Al-Nu>r: 51)
Al-Qur’an diturunkan bukan untuk mempersempit gerak hidup manusia atau
memberi beban yang menyukarkannya. Nilai-nilai Al-Qur’an membimbing dan
mengarahkan manusia supaya bergerak selaras dengan fitrahnya. Syariat Al-Qur’an
itu mudah dan memudahkan. Namun demikian, mengamalkan Al-Qur’an memerlukan
perjuangan dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Perjuangan adalah dinamika
hidup yang diwarnai dengan hambatan, rintangan dan tantangan. Keberhasilan
perjuangan ditentukan oleh kualitas tantangan dan hambatannya. Semakin berat
hambatan dan tantangannya semakin berkualitas pula hasil perjuangannya. Kunci
sukses suatu perjuangan adalah kesungguhan dan kesabaran.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلا تُطِعْ
مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah
kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.(Qs. Al-Insa>n: 24).
Keempat, mendakwahkan Al-Qur’an, yaitu mensosialisasikan
nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an kepada orang lain dan, mulai
lingkungan keluarga hingga masyarakat pada umumnya.
Mendakwahkan Al-Qur’an kepada orang lain pada
dasarnya adalah membantu mereka untuk keluar dari kebodohan, kealpaan dan
kelalaian, serta menyelamatkan mereka dari bahaya kesesatan. Karena itu tugas
mendakwahkan Al-Qur’an merupakan refleksi dan rasa cinta dan kasih sayang
kepada sesama manusia.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ
خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuRuh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Qs. Ali Imran: 110).
Assalamualikum pak🙏
BalasHapusSaya Ferdi Arifin perwakilan dari kelompok 4 mau bertanya tentang contoh kandungan Al-Qur'an bersifat universal?
Sekian pertanyaan dari saya. Terimakasih
Wassalamualikum.wr.wb