Rabu, 21 Oktober 2020

TM Ke-5 al-Qur'an Sumber Kajian Islam Pertama

 Pertemuan Kelima

Al-Qur’an : Sumber Kajian Islam Pertama

 

 

 

 

A.     PENDAHULUAN

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Qs. Al-Nisa’: 59)

 

Menurut ayat tersebut setiap mukmin (orang-orang yang beriman) wajib mengikuti perintah Allah, kehendak Rasul dan penguasa atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri. Perintah Allah terekam dalam Al-Qur’an, perintah Rasul terhimpun dalam Al-Hadits, dan perintah penguasa (ulil amri) termaktub dalam kitab-kitab hasil karya orang yang memenuhi syarat karena mempunyai "kapasitas keilmuan” untuk mengalirkan ajaran Islam dari dua sumber utamanya itu yakni Al-Qur’an dan Al-­Hadits dengan ra’yu atau akal pikirannya yaitu berupa Ijtihad.

Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas dalam percakapan Nabi Muhammad saw dengan sahabat beliau Mu'az bin Jabal,

Ketika Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal menjadi gubernur di Yaman, beliau bertanya kepadanya, “Dengan pedoman apa engkau akan memutus sesuatu urusan ?”

Jawab Mu’adz              : dengan kitabullah

Tanya Rasul                 : kalau tidak ada dalam Al Quran?

Jawab Mu’adz              : dengan sunnah Rasulullah

Tanya Rasul                 : kalau dalam sunnah juga tidak ada?

Jawab Mu’adz              : saya berIjtihad dengan pikiran saya

Sabda Rasul                 : Maha suci Allah yang telah memberikan bimbingan kepada utusan Rasul-Nya, dengan satu sikap yang disetujui Rasul-Nya. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Jadi berdasarkan dua landasan tersebut secara sistematis, sumber ajaran Islam ada tiga, yakni (1) Al-Qur’an, (2) Al- Sunnah dan (3) Ijtihad.

 

B.     AL-QUR’AN

  1. Pengetian dan Aspeknya.

Secara harfiyah, Quran artinya “bacaan” (qoroa, yaqrou, quranan), sebagaimana firman Allah dalam Q.S. 75:17-18.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (١٧)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨)

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.(Qs. Al-Qiya>mah: 17-18)

 

Secara istilah dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an adalah kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, berisi ajaran tentang keimanan, peribadahan, dan budi pekerti.

Al-Qur’an merupakan salah satu Kita>b Allah, yakni wahyu-wahyu yang diterima para Nabi/Rasul Allah. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, bahkan terbesar pula dibandingkan mukjizat para nabi sebelumnya.

Mukjizat para nabi terdahulu lebih bersifat inderawi, yakni bisa diamati dan dilihat langsung oleh indera penglihatan atau lainnya, untuk menampilkan rasa takjub terhadap kaumnya. Kepada Nabi Muhammad Saw, Allah SWT memberikan mukjizat Al-Qur’an yang kekal abadi sepanjang zaman sehingga dapat disaksikan oleh semua umat manusia dari semua zaman dan tempat sampai akhir nanti.

Al-Qur’an membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan sebelumnya.

وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah. Akan tetapi ia membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam” (Q.S. Yunus/10:37).

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

 

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Qur’an itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab sebelumnya…” (Qs. Fat{ir/35:31).

 

Al-Qur’an tersusun dalam 114 surat dengan 6.236 ayat, 74.437 kalimat, dan 325.345 huruf. Al-Qur’an diturunkan Allah dalam dua periode:

  1. Periode Makkah, yakni selama 12 tahun 13 hari. Ayat-ayatnya disebut Ayat Makiyah. Ayat pertama turun adalah Q.S. Al-’Alaq:1-5, ketika Nabi Muhammad berkhalwat di Gua Hira tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M yang dikenal sebagai “Malam Qadar” (Laylah al-Qadr).

Ayat-ayat yang turun di Makkah disebut “Ayat-Ayat Makiyah” dengan ciri khas: ayatnya pendek-pendek, ditujukan kepada umat manusia (diawali kalimat “Ya Ayuha al-Nas”, Wahai Manusia), dan berisi hal-hal yang berhubungan dengan tauh{i>d, keimanan, ancaman dan pahala, serta sejarah bangsa-bangsa terdahulu.

  1. Periode Madinah, ayat-ayatnya disebut Ayat Mada>niyyah. Di Madinah pula ayat terakhir turun, yakni Q.S. 5:3, ketika Nabi Saw tengah menunaikan ibadah haji Wada di Arafah (9 Dzulhijjah 10 H/Maret 632 M).

Ayat-ayat yang turun di Madinah disebut “Ayat-Ayat Madaniyyah”, dengan ciri khas: umumnya panjang-panjang, ditujukan kepada kaum beriman (diawali dengan “Ya> Ayyuha alladhina amanu”, Wahai Orang-Orang Beriman), dan berisi ajaran tentang hukum-hukum, kemasyarakatan, kenegaraan, perang, hukum internasional, serta hukum antaragama dan lain-lain.

Al-Qur’an dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang dilakukan para sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zayd bin Tha>bit pada masa Khali>fah Abu Bakar, lalu pada masa Khali>fah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc penyusunan mush{af Al-Qur’an yang diketuai Zayd. Karenanya, mush{af Al-Qur’an yang sekarang disebut pula Mushaf Uthmany.

Al-Qur’an yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life) manusia. Melalui Al-Qur’anlah Allah SWT menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti tuntunan dan tuntutan Al-Qur’an berarti mengikuti kehendak-Nya.

Itulah sebabnya Allah sendiri yang menjamin keaslian Al-Qur’an sejak pertama kali diturunkan. Makanya, hingga kini apa yang ada dalam Al-Qur’an, itu pula yang diterima dan dicatat para sahabat Nabi Saw. Hingga kini isinya masih dalam teks asli, tanpa sedikit pun perubahan, baik dalam jumlah surat, ayat, bahkan huruf. Tidak tercampur di dalamnya ucapan Nabi Muhammad Saw atau perkataan para sahabat,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q.S. al-H{ijr/15:9).

Salah satu indikasi keaslian Al-Qur’an adalah tidak adanya “Al-Qur’an tandingan” karena manusia yang paling cerdas sekaligus paling membenci Al-Qur’an pun tidak akan sanggup membuatnya. Allah SWT sendiri menantangnya.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٣)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (٢٤)

“Jika kamu masih ragu-ragu tentang kebenaran apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), silakan kamu membuat satu surat saja yang sama dengannya (Al-Qur’an). Panggilah saksi-saksi (pemuka dan para ahli) kamu (untuk membantumu) selain Allah, sekiranya kamu benar (bisa melakukan hal itu). Jika kamu tidak sanggup membuatnya dan sekali-kali kamu tidak akan sanggup, takutilah api neraka yang kayu bakarnya manusia dan bantu yang disediakan bagi orang-orang kafir (yang menentang kebenaran Al-Qur’an)” (Q.S. al-Baqarah/2:23-24).

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (٨٨)

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengadakan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya, biarpun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (Q.S. 17:88).

 

Ayat pertama yang diturunkan adalah Iqra’ (bacalah!) yang mengindikasikan kewajiban pertama manusia adalah membaca, baik dengan pancaindera maupun mata hati.

Dari ayat pertama itu saja, Al-Qur’an sudah menunjukkan bahwa ia rahmat dan bimbingan bagi manusia. Membaca adalah jalan untuk memperoleh ilmu. Dengan ilmu itu manusia bisa mengenal baik dan buruk menurut Allah SWT, mengenal dirinya, juga mengenal Tuhannya. Rahasia alam akan tersingkap denan membaca, juga pembentukan kebudayaan termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk “menaklukkan” alam.

Allah SWT mewahyukan Al-Qur’an tidak lain agar menjadi pedoman bagi hidup umat manusia. Dengan pedoman itu,  manusia akan menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga tercipta ketentraman, keharmonisan, dan kebahagiaan hidup.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan. Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (Q.S. Fa>t{ir/35:29).

 

 

 

2.      Isi kandungan Al-Qur’an

Isi Al-Qur’an meliputi segala hal, mulai soal keimanan atau akidah, hukum, etika, kisah, informasi tentang alam ghaib, dan fenomena alam.

1.      Al-Qur’an mengajari manusia bersikap ilmiah atau berdasarkan ilmu.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’/17: 36).

2.      Mendorong manusia melakukan penelitian untuk menyibak tabir alam,

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".(Q.S. yunus/10:101)

3.      Menaklukkan angkasa luar.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ

Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.(QS. Al-Rah{man/55:33)

4.      Mengabarkan prediksi ilmiah tentang rahim ibu

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الأنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Q.S. Az-Zumar:6),

5.      Gaya berat atau gravitasi

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ

dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). (Q.S. Ar-Rahman:7),

6.      Pemuaian alam semesta atau expanding universe.

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa (QS. Al-dza>riya>t: 47)

 

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

(yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.(Qs. Al-Anbiya>’: 104)

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.(Ya>si>n: 38).

 

 

7.      Tentang ruang hampa di angkasa luar,

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al-An’am:125)

8.      Tentang geologi, gerak rotasi, dan revolusi planet bumi

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. An-Naml:88).

 

  1. Komitment terhadap Al-Qur’an

Ada empat sikap yang menunjukkan komitmen muslim ter­hadap Al-Qur’an.

Pertama, mengimani Al-Qur’an, yaitu meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Ia mengandung kebenaran yang mutlak dan merupakan syariat ter­akhir yang menyempurnakan syariat-syariat yang diturunkan Allah sebelumnya. Mengimani Al-Qur’an mencakup pula keyakinan bahwa kandungan Al-Qur’an bersifat universal yang dijadikan pedoman hidup yang membawa manusia kepada kedamaian, ke­bahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Sebaliknya, mengingkari Al-Qur’an akan menyeret manusia kepada kehancuran hidup dan kesesatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.(QS. Al-Nisa>’: 136)

Kedua, mempelajari Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan manifestasi rahmat Allah. Mempelajari berarti membuka pintu rahmat Allah. Sebaliknya ketidakpedulian terhadap Al-Qur’an berarti menutup rahmat Allah yang mengakibatkan terputusnya hidup dari berkah-Nya. Inilah yang dimaksud dengan "la'allakum turh{a­mu>n” dalam ayat:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(Qs. Al-A’raf: 204).

Mempelajari Al-Qur’an adalah modal dasar mengarungi kehidupan dunia untuk memperoleh keuntungan. Membaca dan me­mahaminya menambah kualitas keimanan dan membentengi diri dari perbuatan buruk. Sikap tak ambil peduli terhadap Al-Qur’an akan mengunci hati dari masuknya iman.

Ketiga, mengamalkan Al-Qur’an. Pengamalan Al-Qur’an adalah inti dari komitmen setiap muslim karena segala yang dikandung­nya bukan hanya ditujukan untuk dipahami, melainkan mem­bentuk mental dan sikap jiwa qurani. Al-Qur’an akan sampai kepada puncak keagungannya manakala nilai-nilai yang dibawanya telah berbuah dalam perbuatan nyata manusia. Manusia akan sampai pada puncak kualitas hidupnya manakala segala aktivitas kehidupannya berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Meyakini kebenaran dan keagungan Al-Qur’an serta memahami dan mengamalkannya merupakan garansi bagi kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥١)

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.(Qs. Al-Nu>r: 51)

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk mempersempit gerak hidup manusia atau memberi beban yang menyukarkannya. Nilai-nilai Al-Qur’an membimbing dan mengarahkan manusia supaya bergerak selaras dengan fitrahnya. Syariat Al-Qur’an itu mudah dan me­mudahkan. Namun demikian, mengamalkan Al-Qur’an memerlukan perjuangan dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Perjuang­an adalah dinamika hidup yang diwarnai dengan hambatan, rintangan dan tantangan. Keberhasilan perjuangan ditentukan oleh kualitas tantangan dan hambatannya. Semakin berat hambatan dan tantangannya semakin berkualitas pula hasil perjuangannya. Kunci sukses suatu perjuangan adalah kesungguhan dan kesabaran.

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.(Qs. Al-Insa>n: 24).

Keempat, mendakwahkan Al-Qur’an, yaitu mensosialisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an kepada orang lain dan, mulai lingkungan keluarga hingga masyarakat pada umumnya.

Mendakwahkan Al-Qur’an kepada orang lain pada dasarnya adalah membantu mereka untuk keluar dari kebodohan, kealpaan dan kelalaian, serta menyelamatkan mereka dari bahaya kesesatan. Karena itu tugas mendakwahkan Al-Qur’an merupakan refleksi dan rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuRuh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(Qs. Ali Imran: 110).

 

 

1 komentar:

  1. Assalamualikum pak🙏
    Saya Ferdi Arifin perwakilan dari kelompok 4 mau bertanya tentang contoh kandungan Al-Qur'an bersifat universal?
    Sekian pertanyaan dari saya. Terimakasih
    Wassalamualikum.wr.wb

    BalasHapus