PENDAHULUAN
Sudah dikemukakan di atas bahwa
berdasarkan sumber ajarannya agama
dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yakni agama wahyu (agama samawi) dan agama budaya (agama ‘ardli). Di antara agama wahyu yang ada,
Islamlah yang masih dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, terutama dengan
mendasarkan sumber-sumber ajarannya pada al-Quran dan Sunnah. Kedua sumber ini
masih tetap terjaga keautentikannya meskipun untuk Sunnah terbagi menjadi
bermacammacam jenis.
Kedua sumber ini memberikan konsep
ajaran yang mendasar, khususnya masalah teologis, sehingga tidak menimbulkan
perbedaan di kalangan umat Islam. Dua agama wahyu lainnya, yakni Yahudi dan
Nasrani (Kristen), sudah tidak lagi memenuhi kreteria agama wahyu yang asli.
Kitab suci yang dipegangi oleh kedua agama ini sudah tidak asli sebagaimana
yang dibawa oleh para Nabi pembawanya. Tidak ada yang berani menjamin bahwa
kitab suci dari kedua agama wahyu ini tetap autentik. Sebagai akibatnya, ajaran
kedua agama wahyu itu juga banyak yang menyimpang dari konsep aslinya. Sebagai
wahyu terakhir, al-Quran memberikan penjelasan mengenai keberadaan wahyu-wahyu sebelumnya,
termasuk Taurat dan Injil, yang sekarang ini banyak mengalami perubahan.
Kajian tentang agama Islam ini
diharapkan akan dapat memberi wawasan yang cukup kepada mahasiswa, sehingga
dapat memiliki kompetensi untuk menganalisis konsep dasar tentang agama Islam.
Secara rinci diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan arti kata Islam baik secara
etimologis maupun terminologis, mendeskripsikan dasar-dasarnya dalam al-Quran,
dan dapat menganalisis karakteristik Islam.
PENGERTIAN ISLAM
Agama Islam dalam istilah Arab disebut Dinul
Islam. Kata Dinul Islam tersusun
dari dua kata yakni Din dan
Islam Arti kata din
baik secara etimologis maupun terminologis sudah dijelaskan
di depan. Sedangkan kata ‘Islam’ secara
etimologis berasal dari akar kata kerja ‘salima’ yang
berarti selamat, damai, dan sejahtera, lalu muncul kata ‘salam’
dan ‘salamah’.
Dari ‘salima’ muncul kata ‘aslama’
yang artinya menyelamatkan, mendamaikan, dan mensejahterakan.
Kata aslama’
juga berarti menyerah, tunduk, atau patuh. Dari kata ‘salima’
juga muncul beberapa kata turunan yang lain, di antaranya
adalah kata ‘salam’ dan ‘salamah’
artinya keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan penghormatan,
‘taslim’ artinya penyerahan,
penerimaan, dan pengakuan, ‘silm’ artinya
yang berdamai, damai, ‘salam’ artinya
kedamaian, ketenteraman, dan hormat, ‘sullam’ artinya
tangga, ‘istislam’ artinya
ketundukan, penyerahan diri, serta ‘muslim’ dan
‘muslimah’ artinya orang yang
beragama Islam laki-laki atau perempuan (Munawwir, 1997: 654-656).
Makna penyerahan terlihat dan terbukti
pada alam semesta. Secara langsung maupun tidak langsung alam semesta adalah islam,
dalam arti kata alam semesta menyerahkan diri kepada Sunnatullah
atau ‘hukum alam’, seperti matahari terbit dari timur dan
terbenam di barat yang Berlaku sepanjang
zaman karena dia menyerah (islam)
kepada sunatullah yang
telah ditetapkan oleh Allah Swt. Ditegaskan dalam al-Quran Surat Ali ‘Imran
(3): 83:
Artinya: “Maka
apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah
(mereka) menyerah diri, segala apa yang (ada) di langit dan di bumi, baik
dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allahlah mereka kembali (mati).” (QS.
Ali ‘Imran [3]: 83).
Dengan demikian Islam mengandung
pengertian serangkaian peraturan yang didasarkan pada wahyu yang diturunkan
oleh Allah Swt. kepada para nabi/rasul untuk ditaati dalam rangka memelihara
keselamatan, kesejahteraan, dan perdamaian
bagi umat manusia yang termaktub dalam kitab suci. Islam merupakan satu-satunya
agama yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada manusia
melalui para nabi/rasul-Nya mulai dari
Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. Inti ajaran Islam yang dibawa oleh
para nabi ini adalah satu, yaitu tauhid, yakni mengesakan Allah atau menuhankan
Allah yang Esa. Tidak ada satu pun di antara para nabi Allah yang mengajarkan
prinsip ketuhanan yang bertentangan dengan tauhid.
DASAR-DASAR ISLAM
Untuk mengetahui dasar-dasar Islam
secara singkat dapat dikemukakan disini beberapa ayat al-Quran yang dapat
memberikan gambaran makna dan
pemahaman tentang Islam. Jika kita
mengkaji al-Quran, dapat ditemukan bahwa kata Islam disebut sebanyak 8 kali dalam al-Quran.
Dari 8 ayat ini sebenarnya ada empat dasar yang dapat menjelaskan pemahaman
kita tentang Islam, yaitu:
Pertama:
Islam adalah agama yang benar di sisi Allah. Maksudnya adalah bahwa Islam
merupakan satu-satunya agama yang diakui kebenarannya oleh Allah. Allah hanya
menurunkan satu agama kepada umat manusia sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga
Nabi Muhammad saw., karena itulah maka Allah hanya mengakui Islam sebagai agama
yang benar. Semua agama yang diajarkan oleh nabi-nabi sebelum Muhammad juga
disebut Islam. Ketika Allah menurunkan Islam kepada Nabi Muhammad saw,
agama-agama Islam sebelumnya sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada, ajarannya
sudah mulai berubah dari prinsip utamanya, tauhid. Karena itulah, sejak
diutusnya Nabi
Muhammad saw. Allah hanya mengakui satu
agama Islam, yakni Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Hal
ini ditegaskan dalam alQuran sebagai berikut:
Artinya: “Sesungguhnya
agama (yang diridoi) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS.
Ali ‘Imran [3]: 19).
Kedua: Agama
selain Islam tidak akan diterima di sisi Allah Maksudnya adalah bahwa Allah
tidak akan menerima seseorang yang memeluk agama selain Islam, seperti Kristen,
Hindu, Buddha, dan lain-lainnya. Semua
yang dilakukan oleh penganut agama selain Islam dalam rangka pengamalan
agamanya akan sia-sia, karena tidak akan diperhitungkan oleh Allah sebagai amal
baiknya. Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya:
Artinya: “Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.
Ali Imran [3]: 85).
Ketiga:
Islam adalah agama yang sempurna Maksudnya adalah bahwa Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah agama
yang paling sempurna, karena ajarannya meliputi semua ajaran yang pernah
diturunkan oleh Allah kepada para nabi sebelum Muhammad.
Ajaran agama Islam juga meliputi
berbagai aspek kehidupan manusia, mulai aspek ibadah dan muamalah hingga
aspek-aspek lainnya. Kesempurnaan Islam ini ditegaskan dalam al-Quran:
Artinya: “Pada
hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Kuridoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.
al- aidah [5]: 3).
Keempat: Islam
adalah agama hidayah Allah Maksudanya adalah bahwa orang yang memeluk atau
menganur agama Islam bukan semata-mata atas kehendaknya sendiri, melainkan atas
petunjuk atau hidayah dari Allah Swt. Sebaliknya, orang yang tidak dapat
memeluk Islam
juga bukan karena semata-mata pengaruh
orang lain, tetapi karena Allah memang sengaja menyesatkan orang tersebut.
Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Barang
siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang
dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi
sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa
kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. al-An’am [6]:
125). Di samping empat ayat di atas, kata Islam
juga disebutkan dalam empat ayat al-Quran lainnya, yakni
QS. al-Taubah (9): 74, QS. al-Zumar (39): 22, QS.
al-Hujurat(49): 17, dan QS. al-Shaf
(61): 7. Dari empat ayat ini dapat diketahui bahwa hidayah Islam itu merupakan
karunia dan nikmat dari Allah Swt. Kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM
Berdasarkan ayat-ayat al-Quran,
khususnya QS. al-Nisa’ (4): 59 dan salah satu hadis Nabi Muhammad saw. yang
terkenal dengan hadis Muadz, karena hadis ini terkait dengan apa yang akan
dilakukan oleh shahabat Muadz bin Jabal, dapat dipahami bahwa sumber ajaran
Islam ada tiga macam, yaitu al-Quran, Sunnah, dan ijtihad.
Al-Quran sebagai sumber pertama
kebenarannya mutlak, meskipun pemahaman terhadapnya menjadi relatif. Al-Quran
tidak diragukan keautentikannya. Petunjuk al-Quran ada yang menunjukkan
kepastian (qath’iy) ada yang masih
meragukan (zhanniy). Sunnah atau hadis
sebagai sumber kedua tidak sama dengan al-Quran. Secara wurud
(sampainya kepada kita) hadis tidak semuanya autentik
seperti alQuran. Hadis ada ang shahih
(benar/autentik), ada yang hasan (baik/semi autentik), dan ada yang dlaif
(lemah/tidak autentik). Fungsi hadis yang pokok adalah sebagai penjelas dari
al-Quran. Ijtihad sebagai sumber ketiga memberikan uraian yang lebih rinci di samping
penjelasan al-Quran dan hadis. Ijtihad diperlukan untuk menjawab permasalahan
yang muncul karena perkembangan zaman dan pemikiran umat manusia. Dengan
ijtihad inilah Islam akan selalu relevan dengan perkembangan
yang terjadi hingga kapan pun.
KERANGKA DASAR AJARAN ISLAM
Berdasarkan sumber ajaran Islam baik
al-Quran maupun hadis Nabi Muhammad saw. serta ditunjang oleh ijtihad para
ulama, kerangka dasar ajaran Islam ada tiga macam, yaitu aqidah,
syariah, dan akhlak. Kerangka
dasar ajaran Islam seiring dan sejalan erat dengan tujuan pendidikan slam. Mengenai kerangka dasar Islam yang lebih
luas akan diuraikan pada bab berikutnya.
Karakteristik Islam
Islam sebagai agama yang paling sempurna memiliki
karakteristik yang tidak dimiliki oleh agama manapun yang dianut oleh manusia.
Karakteristik inilah yang menjadikan Islam benar-benar agama yang lengkap dan
sempurna. Di antara karakteristik Islam berdasarkan beberapa ayat al-Quran
adalah:
1.
Agama Islam sesuai
dengan fitrah manusia. Artinya, agama Islam
1)
mengandung petunjuk yang
sesuai dengan sifat dasar manusia, baik dari aspek keyakinan, perasaan, maupun
pemikiran,
2)
sesuai dengan kebutuhan
hidup manusia,
3)
memberikan manfaat
tanpa menimbulkan komplikasi, dan
4) menempatkan
manusia dalam posisi yang benar. Hal ini ditegaskan dalam alQuran surat al-Rum
(30): 30:
Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.
al-Rum [30]: 30).
2.
Ajaran Islam sempurna
(QS. al-Maidah [5]; 3).
Artinya, materi ajaran
Islam berisi petunjuk-petunjuk tentang seluruh aspek kehidupan manusia.
Petunjuk itu ada yang disebutkan secara eksplisit oleh al-Quran dan hadis, dan
ada yang disebutkan secara implisit. Tidak ada satu pun masalah yang tidak
diatur
dalam Islam melalui sumber utamanya,
al-Quran (QS. al-An’am [6]: 38).
3. Kebenaran
ajaran Islam adalah mutlak. Kebenaran ajaran ini karena bersumber dari al-Quran
(dari Allah) dan sunnah/hadis (dari Nabi Muhammadsaw.). Kebenaran ini dapat
pula dipahami melalui bukti-bukti material maupun bukti-bukti nyata yang ada di
dunia (QS. al-Baqarah [2]:
2).
4. Mengajarkan
keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun alQuran menekankan bahwa
tujuan utama hidup manusia di dunia ini untuk beribadah kepada Allah, namun
al-Quran juga mengajarkan bahwa urusan dunia harus diperhatikan, mengingat
kehidupan dunia ikut menentukan keberhasilan manusia di akhirat kelak (QS. al-Qashash [28]: 77).
5.
Ajaran Islam fleksibel
dan ringan. Artinya, ajaran Islam tidak akan membebani manusia untuk
melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Islam mempertimbangkan kondisi asing-masing individu dalam menjalankan
aturannya dan tidak memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu di luar batas
kemampuannya (QS. al-Baqarah [2]: 286).
6.
Ajaran Islam berlaku
secara universal, yakni berlaku untuk semua umat manusia di dunia ini dan
berlaku hingga akhir masa (QS. al-Ahzab [33]: 40).
7.
Ajaran Islam sesuai
dengan akal fikiran manusia dan memotivasi manusia untuk menggunakan akal
fikirannya (QS. al-Mujadilah [58]: 11).8. Inti ajaran Islam adalah tauhid dan
seluruh ajarannya dalam rangka mendukung ketauhidan tersebut (QS. al-Baqarah
[2]: 163; QS. al-Ikhlash [112]: 1-4).
8.
Ajaran Islam adalah rahmatan
lil’alamin, yakni memberikan kasih sayang terhadap
seluruh umat manusia di dunia ini (QS. al-Fath [48]: 4). Misi utama kehadiran
Nabi Muhammad adalah dalam rangka itu (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).
Sementara itu, Muhammad Yusuf Musa (1988: 14-42)
menguraikan sembilan karakteristik Islam yang tidak akan ditemukan pada
agama-agama lain di muka bumi ini. Sembilan karakteristik itu adalah:
1.
Islam mengajarkan
kesatuan agama. Artinya, seluruh ajaran agama Islam yang diturunkan oleh Allah
kepada para nabi/rasul-Nya menyatu ke dalam ajaran Islam yang dibawa Nabi
Muhammad saw.
2.
Islam mengajarkan
kesatuan politik. Artinya, Islam mempersilahkan penganutnya untuk membentuk
kelompok atau organisasi dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Namun
demikian, yang harus menjadi tujuan utama dari kelompok-kelompok itu adalah
untuk menegakkan agama Islam.
3.
Islam mengajarkan
kesatuan sosial. Artinya, Islam tidak membedakan latar belakang sosial yang ada
di tengah-tengah masyarakat, baik keturunan, ras, gender, warna kulit, maupun
hal lain. Yang membedakan manusia di hadapan Allah Swt. hanyalah ketakwaannya
(QS. al-Hujurat [49]: 13).
4.
Islam merupakan agama
akal dan pikiran. Artinya, semua ajaran Islam sangat rasional dan dapat
diterima oleh akal atau pikiran manusia. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang
bertentangan dengan akal manusia, meskipun banyak manusia yang tidak bisa
menerima ajaran rasional Islam ini karena keterbatasan ilmu yang dimiliki dan
karena kebodohannya.
5.
Islam adalah agama
fitrah dan kejelasan. Artinya, seluruh ajaran Islam sesuai dengan
potensi-potensi bawaan manusia yang sudah ada sejak dilahirkan oleh sang ibu.
Semua ajaran Islam juga memberikan kejelasan dalam setiap aspeknya. Hal-hal
yang tidak jelas atau masih menimbulkan keraguan harus ditinggalkan.
6.
Islam adalah agama
kebebasan dan persamaan. Artinya, Islam benar-benar memberikan ajaran
pembebasan dari belenggu kejahiliahan dan perbudakan sesama manusia (makhluk).
Islam tidak membiarkan adanya perbudakan dan penindasan sesama manusia. Islam
juga memberikan aturan yang sama kepada semua umatnya. Islam tidak membedakan
kesempatan untuk meraih kebaikan dan prestasi yang terbaik.
7.
Islam adalah agama umat
manusia seluruhnya. Artinya, Nabi Muhammad saw. membawa Islam untuk seluruh
umat manusia di muka bumi ini. Dari manapun datangnya, ketika seseorang memeluk
Islam berarti ia telah menjadi umat Nabi Muhammad saw. (umat Islam).
8.
Islam tidak memisahkan
urusan agama dan negara. Artinya, Islam tidak memisahkan secara khusus
masalah-masalah negara (urusan keduniaan) dengan masalah-masalah agama. Kedua
masalah itu saling terkait dalam Islam. Islam bukan agama sekuler dan tidak
menerima sekularisme, suatu paham yang memisahkan urusan agama dari negara.
9.
Islam menetapkan
hak-ahak asasi manusia. Seluruh hak asasi manusia dijamin dalam islam, begitu
juga kewajiban-kewajibannya diatur oleh Islam. Melalui al-Quran bisa dilihat
ketentuan-ketentuan mengenai hak asasi manusia tersebut. Dalam pandangan Seyyed
Hossein Nasr (2003: xiii), Islam bukan sekedar sistem agama, tetapi Islam juga
spirit pencipta dan penggerak peradaban besar dunia dengan sejarah yang menoreh
lebih dari empat belas abad. Sejarah Islam, menurutnya, berkaitan dengan
eksistensi historis masyarakat dari beragam wilayah di muka bumi ini, dari
Afrika Utara hingga Malaysia, melalui proses waktu yang amat panjang. Islam
telah menjadi saksi pembangunan beberapa
imperium paling besar dan proses
integrasi tatanan sosial tunggal yang mengikat beberapa etnik dan latar
belakang bahasa yang beragam. Nasr juga menambahkan bahwa Islam telah memberi
pengaruh besar pada sejarah Eropa secara langsung lebih dari satu milenium,
mempengaruhi sejarah India sejak abad ketujuh dan dengan beberapa aspek sejarah
Cina selama satu milenium di masa lampau.
Nasr menegaskan, kedatangan Islam tidak
akan merusak kultur lokal, namun mentransfernya menjadi realitas yang Islami.
Yang ditolak adalah elemenelemen yang jelas- elas bersifat tidak Islami.
Sebagai hasilnya, peradaban Islam berkembang menjadi beberapa zona kultural
yang khas, meliputi Arab, Persia, Afrika, Turki, India, Melayu, dan Cina.
Tiap-tiap zona kultur dan seni Islami memiliki cita rasa lokal yang khas, pada
saat yang sama mempertahankan karakter Islamnya yang universal (Nasr, 2003:
xv).
Sementara
itu akibat adanya kontak antara Islam dan kemajuan Barat yang dimulai pada
pembukaan abad ke-19 yang lalu, umat Islam juga dipengaruhi oleh pemikiran
modern Barat (Nasution, 1985: 33). Akibatnya, dalam Islam timbul pemikiran pembaruan
yang terus berjalan dan masih menjadi persoalan hingga sekarang. Akhir-akhir
ini bahkan muncul di Indonesia kelompok-kelompok Islam yang sering disebut
Islam liberal yang membawa pemikiran Barat yang liberal ke dalam pemikiran
Islam. Wacana Islam liberal cukup menjadi persoalan tersendiri bagi Islam di
samping persoalan lama yang terus menggejala hingga sekarang, yakni Islam
fundamentalis.
PENUTUP
Ajaran
Islam tidak akan pernah selesai untuk dikaji baik orang Islam sendiri maupun
orang-orang di luar Islam. Sekarang ini di Barat, khususnya Amerika Serikat,
kajian Islam menjadi cukup menarik sehingga di beberapa perguruan tinggi di
Amerika Serikat muncul kelompok kajian bahkan program studi khusus tentang
kajian Islam (Islamic Study).
Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman,
dan Perancis.
Islam
juga merupakan agama yang paling tinggi, tidak ada yang melebihinya. Jika
sekarang Islam tampil tidak demikian, ini bukan karena ajaran Islam sudah tidak
relevan lagi dengan perkembangan yang terjadi di muka bumi ini. Islam menjadi
mundur dan dilecehkan banyak orang karena umat Islam sendiri. Tidak sedikit
umat Islam yang tidak memahami ajaran Islam yang sebenarnya, sehingga apa yang
mereka perbuat justeru merendahkan Islam sendiri.
Karena
itu, jadikan Islam sebagai agama sekaligus sumber ajaran yang dapat membawa
umat Islam menjadi umat atau bangsa yang berkarakter Islami yang dapat membawa
ketinggian dan keluhuran Islam, bukan sebaliknya yang akhirnya malah merusak
citra Islam di mata dunia. Pada akhirnya Islamlah yang akan dapat menyelamatkan
manusia (umat Islam) dalam menempuh kehidupannya di dunia dan dalam
kehidupannya nanti di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
A'la Maududi, Sayyid Abdul, Pokok-pokok
Pandangan Hidup Muslim, Bulan Bintang, Jakarta, 1967. _____ , Principles Of
Islam, Terj.
Suhaili, Abdullah, AIMarif,
Bandung, 1985. _____ , dkk., Esensi Al-qur 'an: Filsafat Politik Ekonomi Elika,
terj.
Ahmad Muslim, Cet. VIII, Mizan,
Bandung, 1997. Aceh, Abu Bakar, Sejarah AI-Qur'an, Ramadani, Solo, 1986.
Ahmad, Amrullah, dkk., Dimensi
Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional: Mengenang 65 Tahun.
Prof Dr. H. Busthanul Arifin, SH,
Gema Insani Press, Jakarta, 1996. Ali, Maulana Muhammad, Jslamologi (Dinu'l
Islam), terj.
R. Kaelan dan HM. Bachrun, Ichtiar
Barn - Van Hoeve, Jakarta, 1977. Ash Shieddieqy, M. Hasbi _____ , Sejarah dan
Pengantar I/mu Hadits, Cet, Ke-6 Bulan Bintang, Jakarta, 1982.
Ash Shieddieqy, M. Hasbi, Sejarah
Dan Pengantar I/mu AI-Qur'an, Bulan Bintang, Jakarta, 1982.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar