Pertemuan Ke-5
Sejarah Pesantren di
Indonesia
1. Lembaga pendidikan Islam di Indonesia belum ada sebelum
abad 18 M dan baru muncul pada akhir abad 18 M dan awal 19 M (Martin, 1995).
2. Pesantren memiliki ciri khas, yaitu;
a. Pondok tempat menginap para santri,
b. Santri: peserta didik,
c. Masjid: sarana ibadah dan pusat kegiatan pesantren,
d. Kyai: tokoh atau sebutan seseorang yang memiliki kelebihan dari sisi agama, dan kharisma yang dimilikinya,
e. Kitab kuning: sebagai referensi pokok dalam kajian keislaman (Dhafier, 1982)
Macam-macam bentuk pesantren
1.
Pertama, pesantren tradisional yang masih tetap
mempertahankan tradisi-tradisi lama, pembelajaran kitab, sampai kepada
permasalahan tidur, makan dan MCK-nya, serta kitab-kitab-nya biasa disebut kitab
kuning (Zarkasyi, 1998, p. 220).
2.
Kedua, pesantren semi modern, yaitu pesantren
yang memadukan antara pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem
pembelajaran disamping kurikulum pesantren tradisional dalam kajian kitab
klasik juga menggunakan kurikulum Kemenag dan kemendiknas.
3.
Ketiga, pesantren modernyang kurikulum dan sistem
pembelajarannya sudah tersusun secara modern demikian juga menejemennya.
Disamping itu, menurut Zarkasyi pesantren modern sudah didukung ITdan lembaga
bahasa asing yang memadai (Zarkasyi, 1998).
Fungsi Pesantren
Dikemukakan oleh Bapak Tholkhah
Hasan mantan menteri agama RI,
1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang
melakukan transfer ilmu-ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan nilainilai Islam
(Islamic vaues);
2. Pesantren sebagai lembaga keagamaan yang
melakukan kontrol sosial; dan
3. Pesantren sebagai lembaga keagamaan yang
melakukan rekayasa sosial (socialengineering) atau perkembangan masyarakat
(community development).
1. Awal
kehadiran pondok pesantren bersifat tradisional untuk mendalami ilmu-ilmu agama
Islam sebagai pedoman hidup (tafaqquh fi al-din) dengan menekankan pentingnya
moral dalam bermasyarakat.
2. Secara
umum ada dua tipe pesantren yaitu pesantren tradisional dan modern.
3. Konsep
Islamic boarding school menjadi
alternatif pilihan sebagai model pengembangan pesantren yang akan datang.
4. Prinsip
pesantren adalah, al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al akhdzu bi al
jadid al ashlah, yaitu tetap memegang tradisi yang positif, dan mengimbangi
dengan mengambil hal-hal baru yang positif.
5. Pembaharuan
di pesantren hendaknya terus dilakukan terutama bidang menejemen, tata kelola
bangunan juga harus menjadi perhatian serius sehingga tampak tertata asri,
kurikulum pendidikan pesantren, dan berbagai bidang keahlian (bahasa dan life
skill)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar