Minggu, 06 Januari 2019

urgensi pendidikan akhlak dalam QS. Ali Imran 159-160


 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu mahluk yang diciptakan oleh Allah dengan beberapa kelebihan husunya kefitraan manusia yang memiliki karakter dasar sebagai mahluk yang cendrung berbuat baik, memiliki kasih sayang dan bertingkah laku yang baik dalam Islam biasa dikenal dengan sebutan manusia yang memiliki akhlak karimah atau budipekerti yang mulia. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW, diutus oleh Allah kemuka bumi hanya untuk menyempurnakan akhlak ummatnya. Pesan tentang prilaku baik itu sangat agung dalam Al-Quran sehingga Fazlur Rahman mengatakan: “Al-Quran ibarat puncak dari gunung es yang terapung, Sembilan persepuluh darinya terendam dibawah air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak dipermukaan air.[1]
Sungguh tidak aka nada yang mampu untuk menggali dan memahami secara mendalam konsep akhlak dalam Al-Quran, secara komprehenship kecuali mereka yang tenggelam di dalamnya.
Begitu dalam kandungan ayat-ayat suci Al-Quran sehingga untuk memehaminya dibutuhkan sebuah teori yang bukan hanya dapat memahami isi kandungan Al-Quran secara integral, akan tetapi juga mampu menghasilkan penafsiran-penafsiran yang dapat menyelesaikan problem-problem kekinian. Dalam pandanmgan umat Islam Al-Quran merupakan teks yang diwahyukan oleh Allah swt. Kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pedoman dan petunjuk bagi umat manusia.[2]
Salah satu ayat yang mengetengahkan pentingnya pendidikan akhlak adalah QS. Ali Imran : 159-160. Menurut Quraish Syihab, ayat ini tentang pentinnya sikap lemah lembut dan tidak bersikap keras terhadap sesame, pesan akhlak yang begitu kuat dalam ayat ini.
Ajaran musyawarah untuk menentukan keputusan bersama dan bertanggung jawab atas keputusan yang sudah dibuat dengan lapang dada terekam secara jelas. Dengan adanya latar belakang diatas maka penulis mengambil judul pembahasan urgensi pendidikan akhlak dalam QS. Ali Imran 159-160.

B.     Rumusan Masalah
Bertolak dari uraian dan permasalahan tersebut diatas, makalah ini difokuskan dalam tiga permasalahan yang dapat diasumsikan sebagai problem dalam pendidikan islam dan dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian pendidikan akhlak ?
2.      Nilai-nilai ahklak apa yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran 159-160 ?
3.      Bagaimana konsep pendidikan ahlak dalam perspektif Q.S. Ali Imran 159-160 ?
4.      Apa implekasinya dalam pendidikan Islam di sekolah ?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan husus dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan akhlak
2.      Untuk mengetahui nilai-nilai ahklak apa yang terkandung dalam Q.S. Ali  Imran 159-160 
3.      Untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan ahlak dalam perspektif Q.S. Ali Imran 159-160 
4.      Untuk mengetahui apa implekasinya dalam pendidikan Islam di sekolah 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Akhlak
Dalam pengertian ini penulis membagi dua pengertian pertama pengertian tentang pendidikan kedua pengertian tentang akhlak
Pendidikan berasal dari kata didik yang diberi awalan pe dan akhiran kan, mengandung arti perbuatan (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003[3] tentang sistem pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta  didik  secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,  masyarakat, bangsa dan negara".
M. Arifin dalam bukunya[4] Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner mengatakan bahwa: "Pendidikan adalah latihan mental, moral, dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi, maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggungjawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia".
Menurut Athiyah al-Abrasyi seperti dikutip Ramayulis, "Pendidikan (Islam) adalah adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan atau tulisan".[5]
Kata Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi biasa. Perkataan ahklak sering disebut kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia, moral, ethnic dalam bahasa Inggris, dan ethos, ethios dalam bahasa Yunani. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta, demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Adapun definisi akhlak menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Senada dengan hal ini Ibnu Maskawaih mengatakan bahwa akhlak adalah:
حَالُ النَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا اِلٰى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ 
Artinya:
Sikap jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan (terlebih dahulu)”.

Menurut Imam Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin[6], mengatakan akhlak:
اَلْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلٰى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ

Artinya: 
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah dengan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Selanjutnya Abuddin Nata dalam bukunya Pendidikan Dalam Persfektif Hadits mengatakan bahwa ada lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak. Pertama perbuatan akhlak tersebut sudah menjadi kepribadian yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Kedua perbuatan akhlak merupakan perbuatan yang dilakukan dengan acceptable dan tanpa pemikiran (unthouhgt). Ketiga, perbuatan akhlak merupakan perbuatan tanpa paksaan. Keempat, perbuatan dilakukan dengan sebenarnya tanpa ada unsur sandiwara. Kelima, perbuatan dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.[7]
Dari pengertian kedua hal diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak masa analisa hingga menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan.[8]
Jika ilmu akhlak atau pendidikan akhlak tersebut diperhatikan dengan seksama akan tampak bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak juga dapat disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong kepada perbuatan baik atau buruk.


B.     Nilai-Nilai Ahklak Yang Terkandung Dalam Q.S. Ali Imran 159-160
Allah berfirman dalam surat ali imran ayat 159-160
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّ غَليِظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ , فَا عْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فىِ الْأمْرِ , فَإذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلىَ اللهِ , اِنَّ اللهَ يُحِبُّ المتُوَكِّلِيْنَ.

اِنْ يَنْصُركُمُ اللهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَاِنْ يَخْذِ لْكُمْ فَمَنْ ذَالَّذِى يَنْصُركُمْ مِنْ بَعْدِهِ, وَعَلىَ اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ المؤْمِنُوْنَ.

Artinya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentunya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan musyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak member pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.[9]

Dari ayat diatas, dengan terlihat sekilat asbabul nuzulnya adalah pasca terjadinya perang uhud, dimana kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi beliau (Nabi Muhammad SAW)  tetap bersikap lemah lembut[10] dan tidak marah terhadap yang melanggar (strategi) itu bahkan memaafkannya, dan memohonkan utuk mereka ampunan dari Allah swt. Sikap kasih sayang (memaafkan) dengan mengedepankan akhlakul karimah menjadi suatu hal yang sangat penting dalam segala proses regulasi ketika terjadi kemerosotan dan ketidak normalan perilaku manusia, lebih lebih prilaku siswa pada saat ini yang memperihatinkan.

C.    Konsep pendidikan Ahlak Dalam Perspektif Q.S. Ali Imran 159-160
Pendidikan akhlak adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak masa analisa hingga menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan.
Jika ingin membuat konsep-konsep pendidikan yang mengacu pada ajaran Islam maka penting untuk melihat landasan Islam itu sendiri. Oleh karena itu metodologi pendidikan akhlak yang ada pun harus diambil dari landasan Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah yang mengatakan, “Sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang bila kamu berpegang teguh kepadanya pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnahku” (HR. Bukhari). Keduanya menjadi basis atau dasar dalam pendidikan Islam tersebut.
Al-quran dapat dikatakan sebagai kitab pendidikan dan pengajaran, sehubungan dengan masalah ini, Muhammad Fadhil Al-Jamali menyatakan sebagai berikut :
Pada hakekatnya Al-Quran adalah merupakan pembendaharaan besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya adalah merupakan kitab pendidikan kemasyarakatan, Moril (akhlak) dan Spritual (kerohanian).[11]

Selanjutnya dapat pula dipahami bahwa manusia yang dilahirkan secara fitrah/suci memiliki dimensi kasih sayang dan perasaan lemah lembut terhadap siapapun, oleh karenanya pendidikan yang hingga saat ini menjadi garda depan pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil) menjadi sebuah keharusan untuk mengintegrasikan intelektualitas dan akhlakul karimah yang ada, sebagaimana yang disampaikan oleh guru besar pendidikan agama islam Ahmad Tafsir, menyakini selama dari atas belum memberikan keteladanan (uswah) kepada bawahannya (siswa) sulit untuk mengharapkan perbaikan akhlak peserta didik melalui pendekatan keteladanan[12]
Akhlak yang baik adalah keteladanan sebagaimana keteladanan Nabi Muhammad saw, yang tertera dalam kitab suci Al-Quran Surat Al-Ahzab : 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْأٰخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا (٢١)
Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)[13]

Sifat lemah lembut dan kasih sayang merupakan akhlak karimah, yang dimiliki manusia sejak lahir dan dibentuk melalui proses pendidikan yang baik, sebaik baiknya manusia adalah yang yang paling mulya akhlaknya karena akhlak yang mulya merupakan ciri keimanan sesorang yang sempurna, Sebagimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا (رواه أحمد)

Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. (HR. Ahmad).

Ini artinya akhlak memiliki peranan dan porsi atau domain yang sangat vital dalam proses pendidikan yang ada saat ini, artinya sebagai penegasan bahwa akhlak tidak dapat dikesampingkan dalam proses pendidikan yang ada saat ini, karena banyak pendidikan yang mengedepankan aspek kognitif saja sehingga menyimpang dari tujuan pendidikan dimana pendidikan berupaya untuk membentuk anak didik menjadi manusia seutuhnya.

D.    Implikasi Nilai-Nilai Akhlak Dalam Pendidikan Islam Di Sekolah
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang integral dan berkesinambungan serta mencakup semua aspek kepribadian manusia. Aspek-aspek yang diperhatikan oleh pendidikan Islam adalah: jasad, akal, akidah, emosi, estetika dan sosial. Karena itu, pendidikan Islam harus diarahkan untuk pengembangan aspek-aspek tersebut kepada hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, pendidikan Islam ingin membentuk manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya serta memerkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan yang dimaksud tetap bersumber dan bermuara pada Allah.[14]
Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan Barat sekuler, terutama pendidikan Islam tidak hanya didasarkan oleh hasil pemikiran manusia dalam mencapai kemaslahatan umum dan humanism universal namun dasar pokok pemikiran Islam adalah al-Quran dan Hadis.[15]
Menurut al-Qabisi, tujuan pendidikan Islam itu adalah upaya menyiapkan peserta didik agar menjadi muslim yang dapat menyesuaikan hidupnya sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Dengan tujuan ini diharapkan peserta didik juga mampu memiliki pengetahuan dan mampu mengamalkan ajaran Islam, karena hidup di dunia ini tidak lain adalah jembatan menuju hidup di akhirat. Ibnu
Taimiyah memandang bahwa tujuan pendidikan Islam itu salah satunya adalah pembinaan pribadi muslim yang mampu berpikir, merasa dan berbuat sebagaimana diperintahkan oleh ajaran Islam, terutama dalam menanamkan akhlak Islam, seperti bersikap benar dalam segala aspek kehidupan.[16]
Pendidikan akhlak merupakan sub/bagian pokok dari materi pendidikan agama, karena sesungguhnya agama adalah akhlak, sehingga kehadiran nabi Muhammad ke muka bumi pun dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia yang ketika itu sudah mencapai titik nadir. Anak perempuan dibunuh hidup-hidup, fanatisme kesukuan mendarah daging, terhadap kebenaran banyak yang melawan, serta terlalu banyak tindak kemungkaran lain yang mereka lakukan.[17]
Fairuzzabdi berkata, “ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barangsiapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas empat landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian dan keadilan”.[18] Karena agama adalah akhlak, maka tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa apa yang baik menurut akhlak adalah yang baik pula menurut agama. Karena besar peran pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian anak manusia maka semua filosof muslim sepakat bahwa pendidikan akhlak merupakan jiwa atau esensi pendidikan Islam, karena tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.[19]
Dalam kaitannya dengan pendidikan akhlak tersebut, para pakar pendidikan Islam mengatakan bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran bukanlah sekedar mentransfer berbagai macam ilmu pengetahuan kedalam otak anak didik terhadap apa-apa yang belum mereka ketahui, akan tetapi lebih dari itu ada tujuan yang lebih utama yaitu mendidik akhlak mereka.[20]
Apa yang telah dilakukan Lukman al-Hakim dalam memberikan dasar bagi pendidikan anaknya sangatlah tepat karena hanya keimanan yang benarlah yang akan sanggup membuahkan akhlak karimah didalam diri seseorang, sehingga anak yang tumbuh di atas pondasi keimanan yang kuat dia akan memiliki kemampuan untuk menerima dan melakukan setiap yang baik menurut kriteria agama dan menjauhi serta meninggalkan semua yang mengandung nilai-nilai kejahatan yang dilarang agama. [21]
Di antara tujuan pendidikan akhlak adalah menyampaikan dan mengarahkan kepada peserta didik, mana yang baik dan mana yang buruk, serta apa-apa yang pantas untuk dilakukan dan apa-apa yang seharusnya ditinggalkan dalam kehidupan individu dan masyarakat, sehingga masalah yang pertama kali mendapatkan perhatian para filosuf dan ahli hukum adalah membangkitkan umat manusia untuk mengajak kepada akhlak mulia karena pada dasarnya akhlak merupakan pondasi dari setiap bangunan kelompok masyarakat (manusia).[22]
Di lingkungan sekolah kebutuhan akan pendidikan akhlak telah diakomodasi secara sangat terbatas dengan cara mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam Pendidikan Agama Islam. Sebagai realisasinya, materi Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah mencantumkan sub pembahasan tentang nilai-nilai budi pekerti, dan berupaya menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dengan penyampaian kisah teladan dan pembiasaan.[23]
Dengan demikian Nampak di sini bahwa pendidika akhlak dalam system pendidikan kita belum mendapat porsi yang memadai, sedangkan pembentukan manusia yang baik  (good people) hanya bisa terwujud dengan menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan (akhlak karimah) kepada peserta didik yang disertai upaya-upaya praktis terhadap nilai-nilai yang telah di internalisasikan tersebut, dan melalui pendidikan akhlak yang memadai itulah generasi muda akan dibimbing untuk secara sukarela mengikatkan diri kepada norma-norma atau nilai-nilai yang diyakininya sebagai sesuatu yang “baik”.[24]
Pada dasarnya ada dua aspek kegiatan yang menjadi inti dari pendidikan akhlak.
1.      Membimbing hati nurani peserta didik agar berkembang lebih positif secara bertahap dan berkesinambungan. Hasil yang diharapkan adalah terjadinya perubahan kepribadian peserta didik dari yang semula egosentris[25] menjadi altruis.[26]
2.      Memupuk, mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai serta sifat-sifat positif ke dalam pribadi peserta didik, dan bersama dengan upaya pemupukan nilai-nilai positif ini, pendidikan akhlak berupaya mengikis dan menjauhkan peserta didik dari sifat-sifat dan nilai buruk.
Dengan demikian, titik tekan pendidikan akhlak adalah untuk mengembangkan potensi-potensi kreatif yang positif dari peserta didik agar menjadi manusia yang baik. Baik menurut pandangan manusia dan terlebih menurut pandangan Allah. Persoalan manusia “baik” merupakan persoalan nilai karena ia menyangkut penghayatan dan pemaknaan yang lebih bersifat afektif ketimbang kognitif, karena “nilai” inilah yang akan membentuk tingkah laku dan pada akhirnya karakter manusia.
Dalam Islam akhlak karimah merupakan inti dari ajarannya, karena pada dasarnya manusia taqwa yang akan menduduki jabatan paling mulia di sisi Allah. Manusia taqwa  adalah manusia yang beriman dan beramal shaleh. Dan akhlak karimah itu salah satu misi penting ke-Rasulan Muhammad saw. Adalah membangun dan menyempurkan akhlak umat manusia.[27]
Rahmat Djatnika dalam bukunya Sistem Etika Islam (Akhlak mulia) menyatakan bahwa akhlak dalam kehidupan manusia menduduki tempat penting sekali, baik sebagai anggota masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangun, jaya hancurnya, sejahtera rusaknya suatu bang sa dan masyarakat tergantung pada akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka baik pula lahir batinnya dan sebaliknya jika jelek akhlaknya maka jelek pula lahir batinnya.[28] Akhlak merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Tanpa akhlak, manusia akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai makhluk yang mulia.[29]
Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan. Tapi keluargalah yang memberikan pertama kali. Karena seorang anak masuk Islam sejak awal kehidupannya dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan. Dan kedua orang tua merupakan figure yang paling berpengaruh pada anak.[30]
Pendek kata, anak belajar dari keluarganya suatu pola kehidupan sesuai dengan kelahirannya di suatu tempat, waktu, dan negeri tertentu. Keluarga secara alami mentransfer kepada anak kebudayaan lapisan sosialnya. Melalui keluarga, anak mengetahui pola-pola umum yang berlaku di dalam kebudayaannya, seperti bentuk-bentuk komunikasi berupa isyarat, kosa kata, dan bahasa serta cara-cara memenuhi kebutuhan, perhatian, berbagai orientasi sosoial seperti saling menolong, kompetisi, toleransi, fanatisme dan lain-lain yang termasuk dalam nilai dan norma masyarakat.[31]




BAB III
KESIMPULAN

Pendidikan akhlak merupakan sub/bagian pokok dari materi pendidikan agama, karena sesungguhnya agama adalah akhlak, sehingga kehadiran nabi Muhammad ke muka bumi pun dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia Karena agama adalah akhlak, maka tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa apa yang baik menurut akhlak adalah yang baik pula menurut agama. Karena besar peran pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian anak manusia maka semua filosof muslim sepakat bahwa pendidikan akhlak merupakan jiwa atau esensi pendidikan Islam, karena tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mendidik jiwa dan akhlak.
Setelah dilakukan pembahasan dan penelaahan dalam penulisan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Nilai nilai yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran : 159-160 , meliputi nilai-nilai kemulian yang diberikan oleh Allah swt,. Dalam rahmatnya berupa sifat lemah lembut yang secara ikhlas terjalin dalam kehidupan manusia yang saling menghormati, sehingga terjalin rasa kasih sayang diantara hambaNya.
2.      Konsep pendidikan akhlak dalam perspektif Al-Quran mengedialkan sebuah paradigma yang dapat menatap kedepan, oleh karena itu Al-Quran lebih spesifik dalam Q.S Ali Imran : 159-160 menegaskan secara implisit bahwa pendidikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting dalam menwujudkan manusia seutuhnya dibutuhkan strategi pendidikan islam yang terarah, artinya pendidikan yang ada itu telah terkonsep yang memiliki ukuran yang komverhensip dari hilir sampai muaranya, yakni adanya sistem, proses atau fase-fase belajar, hingga hasil belajar dapat dipertanggungjawabkan.
3.      Implikasi dari semua proses pendidikan akhlak dalam Q.S. Ali imran : 159-160 yang ada pada pendidikan Islam di sekolah, secara tegas merupakan proses pencapaian insan kamil dimana dapat dilalui dengan beberapa tahapan, pertama, bagaimana aktualitas akhlak dalam pembelajaran pendidikan Islam, Kedua, bagaimana pendidikan akhlak itu dapat mengatasi krisis akhlak yang ada, ketiga , bagaimana pula komunikasi guru kepada peserta didik dalam proses mentransfer keilmuan yang tetap menjaga sopan santun atau akhlakul karimah, keempat, pendidikan agama dan akhlak dalam mewarnai pendidikan nasional, kemudian sejauhmana efektifitas pembelajaran agama Islam di sekolah yang ada, kesemuanya dengan satu tujuan untuk menwujudkan manusia insan kamil atau manusia seutuhnya.
Demikian makalah ini kami buat, dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,kritik dan saran yang konstruktif senantiasa kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.



DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihon. 2001. Samudera Alquran. Cet. Ke 1(Bandung: Pustaka Setia)
Republik Indonesia, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Kloang Klede Putra Timur, 2003).
Arifin, M. 2009. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet. IV, (Jakarta: Bumi Aksara)
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam
Ghazali, Imam. 1987. Ihya Ulumuddin, Jilid. III, (Darur Riyan).
Nata,  Abuddin dan Fauzan,  2005. Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, Cet. II, (Jakarta: UIN Jakarta Press,).
SM, Ismail. 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Cet. I, (Semarang: RaSAIL).
Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran Terjemahnya (Madinah: Mujamma’ dan Khadim al-Kharamain asy-Syarifain al-Malik li Thiba’ al-Mushab asy-Syarif 1412 H.).
Quraisy Shihab, Tafsir Misbah, menurutnya Allah swt. Tidak hanya pendidik manusia tetapi pendidik seluruh alam, Quraisy Shihab, (Jakarta; Lentera Hati, 2007).
Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta; kalam mulia).
Ahmad Tafsir, “Pendidikan Agama Islam Salah Paradikma” (media Indonesia, 2004).
Junus, Mahmud. Tarjamah Al-Qur’an Al-Karim, Cet. IX, (Bandung: Al-Ma’arif, 1990).


[1] Rosihon Anwar, Samudera Alquran. Cet. Ke 1(Bandung: Pustaka Setia 2001). Hlm. 173
[2] Q.S. Al-Baqaroh (2): 185 yang artinya: “…, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”
[3] Republik Indonesia, Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Kloang Klede Putra Timur, 2003), 1.
[4] Arifin, M. 2009. Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Cet. IV, (Jakarta: Bumi Aksara), hlm. 7.
[5] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, hlm.3
[6] Ghazali, Imam Ihya Ulumuddin, Jilid. III, (Darur Riyan, 1987), hlm.58.
[7] Nata,  Abuddin dan Fauzan,  2005. Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, Cet. II, (Jakarta: UIN Jakarta Press,), hlm. 274.
[8] SM, Ismail. 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, Cet. I, (Semarang: RaSAIL), hlm. 41.

[9] Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran Terjemahnya (Madinah: Mujamma’ dan Khadim al-Kharamain asy-Syarifain al-Malik li Thiba’ al-Mushab asy-Syarif 1412 H.), hlm. 103-104
[10] Quraisy Shihab, Tafsir Misbah, menurutnya Allah swt. Tidak hanya pendidik manusia tetapi pendidik seluruh alam, Quraisy Shihab, (Jakarta; Lentera Hati, 2007), hlm. 32
[11] Ramayulis, 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta; kalam mulia) hlm. 216
[12] Ahmad Tafsir, “Pendidikan Agama Islam Salah Paradikma” (media Indonesia, 2004) hlm. 3
[13] Junus, Mahmud. Tarjamah Al-Qur’an Al-Karim, Cet. IX, (Bandung: Al-Ma’arif, 1990), hlm.379.
[14] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm.110.
[15] Rodiah, dkk, Studi Al-Qur’an,… hlm. 282
[16] Ibid., hlm. 110
[17] Juwairiyah, Dasar-dasar Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an,. hlm. 96.
[18] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawwuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 11-12. 
[19] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1989), hlm. 373
[20] Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyah al-Islamiyah, 1963, hlm. 95
[21] Juwairiyah, Dasar-dasar Pendidikan Anakdalam Al-Qur’an,.. hlm. 97
[22] Juwairiyah, Dasar-dasar…hlm16
[23] Ibid., hlm. 15
[24] Juwairiyah., Loc.Cit
[25] Egosentris, yaitu menjadikan diri sendiri sebagai pusat pemikiran; menilai segala sesuatu dari sudut diri sendiri.
[26] Altruis, yaitu orang yang banyak mengutamakan kepentinagan orang lain (tidak mementingkan diri sendiri).  
[27] Juwairiyah, Dasar-dasar…hlm16
[28] Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islam(Akhlaq Mulia), (Jakarta: Panjimas, 1996), hlm. 11
[29] Rodiah, dkk, Studi Al-Qur’an,.. hlm. 282
[30] Ibid., hlm. 283
[31] Heri Noer Aly dan Munzier S. Watak Pendidikan Islam,..hlm. 2