Pertemuan Ke-5
Akhlaq merupakan komponen dasar Islam yang ketiga yang
berisi ajaran tentang tata perilaku atau sopan santun. Atau dengan kata lain
akhlaq dapat disebut sebagai aspek ajaran Islam yang mengatur perilaku manusia.
Dalam pembahasan akhlaq diatur mana perilaku yang tergolong baik dan perilaku
buruk. Akhhlak maupun syari‘ah pada dasarnya membahas perilaku manusia, yang berbeda di antara keduanya adalah obyek materi. Syari‘ah melihat perbuatan manusia dari segi hukum,
yaitu wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan akhlaq melihat
perbuatan manusia dari segi nilai atau etika, yaitu perbuatan baik dan
perbuatan buruk.
Akhlaq merupakan bagian yang sangat penting dalam
ajaran Islam, karena perilaku manusia merupakan obyek utama ajaran Islam. Bahkan maksud diturunkannya agama adalah untuk membimbing sikap dan
perilaku manusia agar sesuai dengan fitrahnya. Agama menyuruh manusia agar
meninggalkan kebiasaan buruk, dan menggantikannya dengan sikap dan perilaku
yang baik. Agama menuntun manusia agar memelihara dan mengembangkan
kecenderungan mental yang bersih dan jiwa yang suci. Karena itulah Rasul
bersabda:
"Tiadalah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq dan perilaku manusia."
Alhasil, akhlaq merupakan sistem etika Islam.
Sebagai sistem, akhlaq memiliki spektrum yang luas, mulai sikap terhadap
dirinya, orang lain, dan makhluk lainnya, serta terhadap Tuhannya.
Pengertian
Secara Etimologi, Akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk
jamak dari Khuluq yang memiliki arti perilaku, watak atau tabiat. Ada tiga dimensi akhlak (hubungan baik antara Khaliq
dengan Makhluq (Hablumminallah), antara Makhluq dengan
Makhluq Hablumminannas). Antara makhluq dengan
lingkungan (hablumminalbi’ah).
Menurut Imam Al-Ghazali yang terkenal dengan sebutan Hujjatul Islam,
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa memerlukan pertimbangan
terlebih dahulu”.
Urgensi Akhlak
Perilaku manusia selalu bersesuaian dengan nilai dan
sifat yang telah tetap dan melekat di dalam qalbunya. Al-Ghazali berkata:
“Semua sifat yang terdapat di dalam qalbu, pasti pengaruhnya akan terlihat
dalam perilaku, sehingga manusia tidak akan berperilaku kecuali pasti telah
sesuai dengan apa yang ada di dalam qalbunya.” Sesungguhnya sikap manusia untuk
berbuat atau tidak berbuat, selalu dia timbang dengan menggunakan akhlak
sebagai ukurannya, jadi benar dan tidaknya sikap tersebut tergantung pada nilai
akhlak yang ada pada qalbunya.
Sebagai sebab diturunkannya risalah. Rasulullah Saw
bersabda: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.”(HR. Bukhari) Sebagai definisi dari agama. Rasulullah Saw ditanya,
‘apakah agama itu? Rasul menjawab: “Agama adalah akhlak yang baik”(HR. Ahmad).
Mengantarkan pada iman yang sempurna. Rasulullah Saw bersabda: “Seorang Mukmin
yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.”(HR. Ahmad)
Penyebab masuk surga. Rasulullah Saw ditanya; ‘apa yang paling banyak
mengantarkan manusia ke surga? Rasulullah Saw menjawab: “Akhlak yang baik.”
Rasulullah Saw ditanya, ‘apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?
Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR Tirmidzi). Allah Swt mensifati
Rasulullah Saw dengan “Husnul Khuluk”(an-Nisaa’: 67). Ketika ‘Aisyah ditanya
tentang akhlak Rasulullah Saw, beliau menjawab: “akhlak beliau Saw adalah
Al-Qur’an.”
Etika pergaulan dalam islam
Manusia
adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan
kehadiran orang lain. Istilah pergaulan berarti kegiatan manusia untuk membaur
bersama manusia lainnya dan berinteraksi satu sama lain. Dalam islam pergaulan
diatur sedemikian mungkin sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti
halnya konflik dan lain sebagainya. Seoerti yang kita ketahui bahwa Allah
menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan berasal dari berbagai
suku dan Allah menghendaki manusia untuk saling mengenal satu sama lain
sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 yang
berbunyi:
Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat: 13).
Dalam agama islam ada beberapa aspek atau hal
menyangkut pergaulan yang harus diketahui diantaranya adalah dengan siapa kita
bergaul dan bagaimana cara bergaul dengan orang lain. Untuk lebih jelasnya
simak penjelasan berikut ini mengenai pergaulan dalam islam .
1.
Pergaulan dengan sebaya
Teman sebaya atau
karib adalah orang-orang atau teman yang usianya tidak terpaut jauh dengan kita
baik sama maupun lebih muda. Adapun dalam bergaul dengan teman sebaya kita
harus senantiasa berbuat baik dan mengutamakan akhlak yang mulia (baca cara meningkatkan
akhlak terpuji). Hal-hal yang perlu diperhatika dalam pergaulan dengan teman sebaya
antara lain
- Mengucapkan salam setiap bertemu dengan teman
sebaya dan sesama muslim. Jika perlu kita bisa berjabat tangan tentunya
jika orang tersebut berjenis kelamin sama ataupun mahram kita.
- Mengucapkan salam hukumnya sunnah bagi umat
islam dan menjawab salam hukumnya wajib.
Senantiasa menyambung tali silaturahmi dengan saling berkunjung dan berkumpul untuk hal-hal yang baik maupun belajar bersama (baca keutamaan menyambung tali silaturahmi). Hal ini akan semakin memperkuat ukhuwah islamiyah diantara para pemuda pada umumnya (baca pengertian ukhuwah islamiyah, ihsaniyah dan wathoniyah) - Saling mengerti serta memahami kebaikan dan
kekurangan masing-masing dan menghindari segala macam jenis perselisihan
- Teman sebaya hendaknya saling tolong menolong
dalam hal kebaikan dan menolong teman sebaya yang sedang dalam kesusahan
tentunya sangat dicintai Allah SWT misalnya dengan cara bersedekah
(baca keutamaan
bersedekah)
- Mengasihi dan memberi perhatian satu sama lain
terutama jika ada teman yang sedang kesusahan atau ditimpa suatu masalah,
kita sebagai teman wajib mendukung dan bila perlu memberi pertolongan
- Senantiasa menjaga teman dari pengaruh buruk
atau gangguan orang lain
- Memberikan nasihat kebaikan satu sama lain
- Mendamaikan teman jika ada yang berselisih
- Mendoakan teman agar mereka senantiasa berada
dalam kebaikan
- Menjenguknya jika ia sakit, datang jika diberi
undangan serta mengantarkannya ke makam jika ia meninggal sesuai dengan
hadits berikut ini
2. Pergaulan dengan
orang yang lebih tua
Adapun islam senantiasa
mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua dan orang yang lebih tua
dari kita, menghormati dan menghargainya. Beberapa hal yang dapat diperhatikan
dalam bergaul dengan orang yang lebih tua adalah
- Menghormati mereka dengan sepenuh hati dan
senantiasa mengikuti nasihat mereka dalam kebaikan
- Mencontoh tingkah laku mereka yang baik dan
menjadikannya pelajaran
- Memberi salam setiap kali bertemu dan
senantiasa bertutur kata dengan lemah lembut dan menjaga sopan santun
- Tidak berkata kasar pada mereka dan menjaga
perasaannya walaupun ia berkata tidak baik, janganlah kita membalasnya
dengan perkataan yang tidak baik juga untuk menghidari konflik
terutama konflik dalam
keluarga
- Senantiasa mendoakan terutama jika mereka
adalah orangtua atau saudara kita
3. Pergaulan dengan
lawan jenis
Hal yang perlu
diperhatikan dan tak kalah penting dalam pergaulan islam adalah tata cara
bergaul dengan lawan jenis. Islam sendiri mengatur pola hubungan antara pria
dan wanita serta memisahkan keduanya sesuai dengan syariat yang berlaku. Adapun
hal-hal yang perlu kita ketahui dan pegang dengan teguh mencakup hal-hal
berikut ini :
- Menghindari berkhalwat atau berdua-duaan
seperti halnya dalam pacaran (baca pacaran dalam
islam)
apalagi jika sampai memiliki hubungan pacaran beda
agama. Dikhawatirkan
jika berkhalwat tersebut dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan
seperti zina dan lain sebagainya.
“Jauhilah berkhalwat dengan perempuan. Demi (Allah)
yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah berkhalwat seorang laki-laki
dengan seorang perempuan kecuali syetan akan masuk di antara keduanya.” (HR. al-
Thabarani).
- Tidak memandang lawan jenis dengan syahwat atau
pandangan nafsu. Hindari memandang lawan jenis kecuali jika benar-benar
diperlukan
- Hindari berjabat tangan dengan lawan jenis
kecuali mahram (baca pengertian
mahram dan muhrim dalam
islam)
maupun jabat tangan antara suami dan istri
- Menutup aurat jika bertemu dengan lawan jenis
sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut
“Tidak dibolehkan seorang laki-laki melihat aurat
(kemaluan) seorang laki-laki lain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh
melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidakboleh seorang laki-laki berselimut
dengan laki-laki lain dalam satu selimut baju, begitu juga seorang perempuan
tidak boleh berselimut dengan sesama perempuan dalam satu baju.” (HR. Muslim).
Hendaknya menghindari perbuatan yang menjurus pada
zina (baca zina dalam islam) seperti
bersentuhan, berpelukan, berpegangan tangan, berciuman apalagi sampai melakukan
zina dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil diluar nikah
(baca hukum hamil diluar
nikah dan hukum menikah saat
hamil) sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al isra ayat 32 yang
berbunyi
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Demikianlah penjelasan pergaulan dalam islam berisi
tentang etika dan sistem pergaulan yang diatur dalam islam. Dalam bergaul
dengan sesama manusia hendaknya kita selalu memperhatikan hal-hal tersebut.
Adapun orangtua wajib mengetahui cara mendidik anak dengan pendidikan dalam
islam yang sesuai dan orangtua wajib mendidik anak dalam
islam sejak dini agar ia dapat bergaul dengan baik dikemudian hari.
Keterkaitan Antara Aqidah, Syari‘Ah,
Dan Akhlaq
Aqidah, syari‘ah dan akhlaq pada
dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran Islam. Ketiga unsur tersebut
dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.
Aqidah sebagai sistem kepercayaan yang bermuatan
elemen elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syari‘ah sebagai sistem
nilai berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlaq
sebagai sistem etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai agama. Oleh karena itu ketiga komponen
tersebut seyogyanya terintegrasi dalam diri seorang muslim. Integrasi ketigai
komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon, akarnya adalah
aqidah, sementara batang, dahan dan daunnya adalah, syari‘ah, sedangkan buahnya
adalah akhlaq.
Muslim yang baik adalah orang
yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan
syari‘ah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlaq yang
terpuji pada dirinya. Atas dasar hubungan itu, maka
seseorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh
aqidah atau keimanan, maka orang itu termasuk ke dalam kategori kafir. Seseorang yang mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syari‘ah, maka orang
itu disebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syari‘ah tetapi dengan landasan
aqidah yang tidak lurus disebut munafik.
Aqidah, syari‘ah, dan akhlaq dalam Al-Qur’an disebut
Iman dan amal saleh. Iman menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh
menunjukkan pengertian syari‘ah dan akhlaq.
Seseorang yang melakukan perbuatan baik, tetapi tidak
dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik.
Perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan,
tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah. Sedangkan perbuatan baik yang
didorong oleh keimanan terhadap
Allah sebagai wujud pelaksanaan syari‘ah disebut amal saleh. Karena itu di
dalam Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata Iman, antara lain
dalam Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ
هُمُ الْفَاسِقُونَ
dan Allah telah berjanji kepada
orang-orang yang berIman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh
bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi,
sebagaImana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan
Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan
menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan
sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji)
itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.(Qs. Al-Nur: 55)