Senin, 20 April 2020

MARHABAN YAA RAMADHAN



MARHABAN YAA RAMADHAN
Bakri, M.Pd.

Rasulullah SAW. Bersabda : Jibril telah datang kepadaku dan berkata “hai Muhammad, barang siapa menjumpai bulan Ramadhan kemudian mati tanpa mendapat ampunan Allah SWT, maka ia akan masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya (dari hal tersebut). Katakan ‘Amin.” Maka aku pun berkata,”Amin”. (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Thabrani)

Subhanallah, tentu kita sebagai orang muslim akan merinding membaca hadist di atas, terpintas dalam benak kita perasaan takut, hawatir, ngeri bercampur aduk jadi satu dengan penuh pertanyaan, “mengapa ancaman Allah sangat dahsyat? Sebenarya rahasia apa yang terdapat didalamnya?” bisa jadi ini adalah cerminan dari murkanya Allah SWT yang luar biasa terhadap orang-orang muslim yang diberikan kesempatan berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, dengan segala keuatamaan, keistimewaan, dan fadhilahnya sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang tidak terbatas, namun justru disia-siakan kesempatan emas ini, bahkan mungkin melakukan hal-hal yang bisa menjauhkan dari maghfirah Allah SWT.

Alhamdulillah tahun ini, ditengah-tengah musibah yang melanda umat manusia disegala penjuru dunia yaitu mewabahnya virus corona (covid-19) kita bisa dipertemukan dengan bulan suci Ramadan yaitu bulan penuh rahmat, nikmat dan mafhfirah-Nya, dalam keadaan sehat wal-‘afeat lahir dan batin. Sungguh apa yang kita nikmati dan terima ini, semata-mata karena karunia yang luar biasa dari Allah SWT, dan tidak akan dirasakan keistimewaannya kecuali oleh orang-orang yang saat ini tidak sehat, tidak mampu atau tidak sempat. Persoalannya sekarang bagaimana kita menginplimentasikan rasa syukur dan sikap kita terhadap karunia yang luar biasa ini? Sekedar saling mengingatkan, barangkali ada empat (4) perkara yang bisa kita lakukan menghadapi bulan Ramadhan ini.

Pertama, kita harus yakin dengan keimanan yang kuat bahwa kesempatan ini merupakan karunia dari Allah SWT, kepada kita karena bentuk kasih sayang-Nya, apalagi kita melihat banyak diantara saudar-saudara kita yang terbaring sakit atau tidak bisa melaksanakan ibadah bulan ramadhan karena satu dan lain sebab. Berusahalah agar kita memiliki persepsi dalam diri kita bahwa bulan ramadhan kali ini merupakan “kesempatan terkhir” bagi kita, karena kita tidak akan menjumpai bulan Ramdahan pada tahun-tahun berikutnya, setidaknya kita berfikir bahwa bulan ramadhan yang akan datang kita tidak bisa melaksanakannya dengan sempurna karena tidak sehat, tidak mampu atau tidak sempat.

Dengan demikian, akan muncul dalam diri kita giroh atau semangat dalam melaksanakan amal ibadah dengan sungguh-sungguh sampai tingkatan yang paling tinggi, misalnya tahun kemarin kita baru bisa melaksanakan pada tingkatan atau golongan ‘Awam (golongan yang hanya mampu menahan lapar dan dahaga saja) maka tahun ini kita berusaha untuk meningkatkan ibadah kita pada level tertinggi yaitu kelompok khawash (golongan yang mampu menahan segala nafsu yang berhubungan dengan panca indra dan anggota tubuh lainnya).

Bahkan klo bisa kita berusaha agar mencapai tingkatan yg tertinggi yaitu khashsh al-khawash (golongan yang mampu membebaskan pikiran dan perasaannya dari segala hal yang tidak ada hubungannya dengan ibadah). Misalnya puasa tahun kemarin hanya bisa menghatamkan al-quran satu kali, maka tahun ini usahakan bisa menghatamkan dua, tiga kali atau lebih.

Kedua, kita dituntut untuk tetap berusaha dengan semangat yang tinggi agar bisa menjauhkan diri kita dari sesuatu yang membatalkan puasa, atau yang mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Seperti ghibah, berbicara kotor, melihat dan berbuat maksiat. Bagaimana caranya? Jika hal-hal yang demikian itu muncul dalam pikiran kita, maka segeralah berdzikir kepada Allah, perbanyak istighfar dan melakukan hal-hal positif seperti membaca al-qur’an atau aktifitas lain yang bisa mengalihkan sehingga kita tidak terjerumus pada hal-hal yang membatalkan puasa.

Ketiga, perlu kiranya kita membuat komitmen atau kesepakatan antara keluarga terdekat kita, istri, anak-anak, teman. Bahwa pada bulan Ramadhan tahun ini kita berjanji untuk meningkatkan amal ibadah kita lebih dari bulan ramadhan tahun lalu. Dan usahakan apa yang kita sepakati lebih spesifik, misalnya berjanji agar setiap individu menghatamkan al-qur’an, melaksanakan sholat jama’ah, sholat tarawih, dan meninggalkan perbuatan yang tidak ada hubungannya dengan ibadah puasa, misalnya nonton TV, main Game dan lain sebagainya. Jika memungkinkan kita juga bersepakat agar saling mengingatkan satu sama lain agar nilai ibadah kita tetap terjaga dan bisa istiqomah.

Keempat, kita harus memperbanyak dzikir kepada Allah SWT (senantiasa menyebut nama Allah) atau dengan membiasakan kalimat-kalimat thayyibah hususnya di bulan Ramadhan, selain dengan berdzikir menjadikan hati tentram juga bisa menghilangkan kesedihan, mendekatkan diri kita kepada Allah, dan akan diberikan ampunan serta pahala besar oleh Allah SWT. Yang terpenting adalah ketika kita diberikan ampunan tentu kita juga mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya.

Pada kondisi yang sangat mencekam dan penuh kehawatiran ini, disaat mewabahnya virus corona banyak himbauan dari pemerintah dan juga para kiai agar kita tetap dirumah, menjaga kebersihan, social distancing dan self ditektion. Disisi lain kita sebagai orang muslim tentunya tidak ingin mneyia-nyiakan bulan penuh rahmat dan maghfirah ini, dua pilihan yang harus kita bijaksanai dengan tetap menjaga kesehatan, social distancing dan himbauan pemerintah, kita juga tetap semangat untuk menunaikan ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh khusyu’. Karena bulan Ramadhan bagi seorang mukmin sejati adalah sarana untuk memupuk dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Demikianlah empat hal yang mungkin bisa menjadi refrensi dalam menunaikan ibadah di bulan Ramadhan kali ini, semoga kita keluar dari bulan Ramadhan memperoleh maghfirah dari Allah SWT. Amien.

                                      Jombang, 09 April 2020


Pra Kajian Bulan Ramadhan
PSQ Unipdu Jombang